HNSI Pangandaran Soroti Tumpahan Batu Bara di Sukaresik, Pertimbangkan Langkah Hukum
HNSI Pangandaran menilai pencemaran tersebut berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dan ekonomi yang tidak kecil bagi masyarakat pesisir.
PANGANDARAN – Tumpahan batu bara yang berasal dari tongkang yang kandas di kawasan Pantai Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, menuai perhatian serius dari kalangan nelayan.
Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pangandaran menilai pencemaran tersebut berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dan ekonomi yang tidak kecil bagi masyarakat pesisir.
Ketua HNSI Pangandaran, Jeje Wiradinata, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan penanganan insiden tersebut.
Apabila upaya penanggulangan yang dilakukan dinilai tidak memadai dan kerugian masyarakat tidak ditangani secara serius, HNSI membuka kemungkinan menempuh jalur hukum melalui gugatan kelompok (class action).
"Kami menginginkan penanganan yang cepat, serius, dan bertanggung jawab. Jika tidak ada penyelesaian yang jelas, langkah hukum akan menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan," kata Jeje, Kamis (18/6/2026).
Insiden bermula ketika tongkang bermuatan batu bara yang ditarik Tugboat Titan 33 mengalami gangguan teknis saat berada di perairan selatan Pangandaran.
Untuk menghindari risiko yang lebih besar, kapal kemudian didamparkan di kawasan Pantai Sukaresik pada Selasa (16/6/2026) sore.
Namun, posisi tongkang yang mengalami kemiringan menyebabkan sebagian muatan batu bara keluar dan terbawa arus laut ke wilayah pesisir.
Material berwarna hitam tersebut terlihat menyebar di sejumlah titik pantai dan dikhawatirkan terus meluas apabila tidak segera ditangani.
Menurut Jeje, keberadaan batu bara di kawasan pesisir dapat mengganggu keseimbangan ekosistem laut.
Partikel batu bara yang bercampur dengan air laut berpotensi meningkatkan kekeruhan perairan sehingga mengurangi penetrasi cahaya matahari yang dibutuhkan organisme laut untuk tumbuh dan berkembang.
Selain ancaman terhadap lingkungan, HNSI juga menyoroti potensi dampak terhadap aktivitas nelayan tradisional.
Wilayah pesisir Sukaresik hingga Batu Hiu selama ini menjadi area penangkapan ikan bagi masyarakat setempat yang menggantungkan penghasilan dari sektor kelautan.
Karena itu, HNSI mendesak seluruh pihak yang terlibat, termasuk operator kapal dan pemilik muatan, untuk segera mengambil langkah konkret dalam proses evakuasi, pembersihan kawasan terdampak, serta pemulihan lingkungan.
HNSI juga meminta Pemerintah Kabupaten Pangandaran memfasilitasi koordinasi lintas instansi guna memastikan penanganan berjalan cepat dan transparan.
Di sisi lain, insiden tersebut turut menimbulkan kekhawatiran terhadap sektor pariwisata. Sebab, lokasi terdampak berada tak jauh dari kawasan wisata Pantai Batu Hiu yang menjadi salah satu destinasi unggulan di Pangandaran.
Nelayan dan pegiat lingkungan mendorong investigasi menyeluruh untuk mengungkap penyebab gangguan pada kapal, sekaligus mengevaluasi aspek keselamatan pelayaran di jalur perairan selatan Jawa yang dikenal memiliki kondisi cuaca dan gelombang yang dinamis.
Mereka berharap pihak yang bertanggung jawab dapat segera melakukan langkah pemulihan secara menyeluruh agar dampak terhadap lingkungan, nelayan, dan sektor wisata tidak semakin meluas. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


