Mengenal Kanjeng Jimat, Bupati Pacitan Ketiga yang Tegas dan Agamis
Kepemimpinan Kanjeng Jimat tidak hanya berfokus pada tata pemerintahan, tetapi juga pada pembinaan moral dan kehidupan beragama masyarakat Pacitan.
PACITAN – Perkembangan agama Islam di Kabupaten Pacitan tak bisa dilepaskan dari peran Kanjeng Jimat, tokoh yang dikenal sebagai Bupati Pacitan ketiga sekaligus penyebar ajaran Islam di wilayah yang kini dijuluki Kota 1001 Gua.
Sosoknya hingga kini masih dikenang sebagai pemimpin yang tegas, berwibawa, dan dekat dengan masyarakat.
Keturunan ketujuh Kanjeng Jimat, Ir. Budi Harisantoso, ST, MT yang juga jebolan S2 Teknik Sipil ITS, menuturkan bahwa leluhurnya merupakan figur pemimpin yang memiliki karakter kuat dan menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan.
Menurut Budi, kepemimpinan Kanjeng Jimat tidak hanya berfokus pada tata pemerintahan, tetapi juga pada pembinaan moral dan kehidupan beragama masyarakat Pacitan.
“Beliau dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan agamis. Dalam menjalankan pemerintahan selalu mengedepankan kepentingan rakyat serta nilai-nilai Islam yang menjadi pedoman hidupnya,” kata Budi. Jumat (19/6/2026).

Kanjeng Jimat yang memiliki nama asli Joyo Niman tercatat sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Pacitan.
Perannya dalam menyebarkan agama Islam memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan kehidupan sosial masyarakat pada masa itu.
Melalui pendekatan yang bijaksana dan penuh keteladanan, ajaran Islam semakin diterima dan berkembang di berbagai wilayah Pacitan.
Tidak hanya dikenal di lingkungan masyarakat Pacitan, nama Kanjeng Jimat juga memiliki kaitan dengan perjuangan nasional.
Dalam sejumlah catatan sejarah, ia disebut pernah menjadi penasihat Pangeran Diponegoro saat berlangsungnya Perang Lesung, sebuah peristiwa yang menjadi bagian dari rangkaian perjuangan melawan penjajahan pada masa itu.
Popularitasnya semakin meningkat ketika dipercaya menjadi Bupati ketiga Pacitan menggantikan Setroketipo.
Saat memimpin daerah pesisir selatan Jawa tersebut, Kanjeng Jimat dikenal dengan gelar Jogokaryo. Gelar itu melekat sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan pengabdiannya kepada masyarakat.
Menurut Budi Harisantoso, kepemimpinan Kanjeng Djimat menyimpan banyak pelajaran yang masih relevan hingga saat ini.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi para pemimpin modern, nilai-nilai yang diwariskan tokoh tersebut dinilai dapat menjadi pedoman dalam menjalankan amanah pemerintahan.
“Yang paling penting dari sosok beliau adalah bagaimana seorang pemimpin mampu mengayomi masyarakat, memberikan teladan, serta menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.
Pria yang juga sepupu Mantan Bupati Pacitan Alm.G.Sudibyo menambahkan, seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kemampuan administratif, tetapi juga harus mampu menjadi panutan bagi masyarakatnya.
Ketegasan yang dibarengi dengan integritas, kepedulian sosial, serta kedekatan dengan nilai-nilai agama menjadi warisan kepemimpinan yang ditinggalkan Kanjeng Jimat.
Lebih dari sekadar tokoh sejarah, Kanjeng Jimat menjadi simbol kepemimpinan yang mengutamakan pengabdian kepada rakyat.
Jejak perjuangan dan keteladanannya diharapkan dapat menginspirasi para pemimpin masa kini maupun generasi mendatang untuk menjadi pemimpin yang amanah, adil, serta mampu membawa kemajuan tanpa meninggalkan nilai-nilai moral dan keagamaan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


