Advertisement
Peristiwa Daerah

Budayawan Pacitan Ungkap Makna Larung Sesaji, Bukan Persembahan kepada Laut Melainkan Simbol Syukur

Tradisi larung sesaji di Pacitan dipahami sebagai ungkapan syukur, penghormatan pada alam, dan pengingat hubungan manusia dengan Allah SWT, bukan bentuk kemusyrikan.

TIMES Indonesia,
Budayawan Pacitan Ungkap Makna Larung Sesaji, Bukan Persembahan kepada Laut Melainkan Simbol Syukur
Budayawan Pacitan Bambang Sutejo saat menjelaskan makna Larung Sesaji. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
A-AA+

PACITAN Tradisi larung sesaji yang menjadi bagian dari sejumlah ritual adat masyarakat pesisir Pacitan kerap disalahpahami sebagai bentuk persembahan kepada penguasa laut. Padahal, di balik rangkaian sesaji yang dilarung tersimpan simbol-simbol filosofi Jawa yang sarat pesan spiritual, rasa syukur, dan penghormatan terhadap alam ciptaan Tuhan.

Budayawan Pacitan Bambang Sutejo atau yang akrab disapa Mbah Mamik mengatakan, larung sesaji sejatinya merupakan media pengingat agar manusia menjaga hubungan baik dengan sesama, alam, dan Sang Pencipta.

Advertisement

“Larung sesaji memiliki arti nalar kang dumunung. Sesaji itu ayo podo saling ngajeni,” kata Mbah Mamik, Jumat (19/6/2026).

Menurut dia, masyarakat Jawa memaknai alam semesta sebagai ciptaan Allah SWT yang telah ditetapkan penjaganya masing-masing. Dalam tradisi tutur yang berkembang di masyarakat, laut dikaitkan dengan Nabi Khidir, daratan dengan Nabi Ilyas, sedangkan unsur api dan angin dikaitkan dengan Nabi Sulaiman.

Sementara wilayah pesisir selatan Jawa, mulai Banyuwangi hingga Pandeglang, dalam keyakinan budaya masyarakat Jawa dikenal berada dalam penjagaan Kanjeng Ratu Kidul.

“Larung sesaji ini sebagai bentuk penghormatan kepada mereka atas apa yang kita makan setiap hari dari laut,” ujarnya.

Mbah Mamik menegaskan, penghormatan tersebut bukan dimaknai sebagai penyembahan, melainkan ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT melalui alam.

Advertisement

Karena itu, ia menilai tudingan bahwa larung sesaji identik dengan kemusyrikan sering kali muncul karena pemahaman yang tidak utuh terhadap makna tradisi tersebut.

“Yang bilang musyrik, tapi masih makan ikan layur dari laut, ya sama saja berarti dia sendiri yang musyrik,” katanya.

Dalam tradisi larung sesaji, terdapat sejumlah perlengkapan yang masing-masing memiliki makna simbolis. Salah satunya adalah buceng suci, yakni tumpeng yang selama proses memasaknya tidak boleh dicicipi.

“Buceng itu artinya kalbu sing kenceng, kuat niat. Suci itu tidak ada perasaan apa-apa,” tutur Mbah Mamik.

Selain buceng suci, terdapat pula golong gilig sekawan yang melambangkan konsep kiblat papat kalimo pancer, yakni empat penjuru mata angin dengan satu pusat kehidupan. Filosofi tersebut mengandung doa keselamatan yang ditujukan kepada Allah SWT.

Makna lain terdapat pada telur yang menjadi bagian dari sesaji. Dalam tradisi Jawa, telur dimaknai sebagai simbol kesucian, kekuatan, keberkahan, dan kejernihan hati.

“Telur itu memiliki makna suci, sekti, murakabi, megelke ati,” ujarnya.

Adapun sekul suci ulam sari yang terdiri dari nasi dan lauk ayam ingkung dimaknai sebagai simbol syahadat atau pengakuan keesaan Allah SWT.

Sementara jajanan pasar yang turut disertakan menjadi pengingat terhadap empat siklus pasaran dalam penanggalan Jawa yang masih digunakan masyarakat hingga kini.

Di sisi lain, jenang abang dan jenang putih mengandung pesan bahwa setiap manusia tidak akan pernah lepas dari sifat salah dan lupa. Filosofi itu juga dikaitkan dengan konsep kakang kawah adi ari-ari yang dikenal dalam tradisi Jawa.

Sedangkan jenang sungsum dimaknai sebagai pengingat atau rambu-rambu dari Allah SWT agar manusia senantiasa berhati-hati dalam menjalani kehidupan.

Rangkaian sesaji juga dilengkapi bunga mawar merah, kenanga, dan melati yang masing-masing berjumlah tiga tangkai, serta tujuh irisan kunyit. Seluruhnya menjadi simbol penghormatan kepada para leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada generasi berikutnya.

Menurut Mbah Mamik, makna sesaji tidak terletak pada bendanya semata, melainkan pada pesan moral yang terkandung di dalamnya. Tradisi tersebut menjadi sarana untuk mengingat asal-usul, menghormati alam, serta menumbuhkan rasa syukur atas rezeki yang diterima setiap hari. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Yusuf Arifai
PenulisYusuf ArifaiMagister Ilmu Hukum (MH) Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Wartawan Madya Nomor 21969-Unitomo/Wdya/DP/X/2024/21/10/93, Editor Bahasa Arab dan Penulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2021.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia