Advertisement
Peristiwa Daerah

PJT I Pastikan Pasokan Air Minum dan Irigasi Aman Ditengah Ancaman El Nino 2026

Perum Jasa Tirta (PJT) I memastikan bahwa pasokan air minum dan irigasi, khususnya di Jawa Timur aman hingga akhir tahun 2026.

TIMES Indonesia,
PJT I Pastikan Pasokan Air Minum dan Irigasi Aman Ditengah Ancaman El Nino 2026
Bendungan Sutami yang ada di Kabupaten Malang. (Foto: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)
A-AA+

MALANG Perum Jasa Tirta (PJT) I memastikan bahwa pasokan air minum dan irigasi, khususnya di Jawa Timur aman hingga akhir tahun 2026. Meski begitu, di tengah ancaman kekeringan 2026, PJT I mulai menyiapkan sejumlah langkah antisipasi menghadapi potensi musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang diprediksi mencapai puncaknya pada 2026.

Kepala Sub Divisi Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) Wilayah Sungai Brantas III PJT I, Ariet Setiawan mengatakan, hingga saat ini kondisi pasokan air di wilayah hulu Sungai Brantas masih relatif aman.

Advertisement

"Menghadapi potensi kemarau ekstrem akibat fenomena El Nino, kami ingin memastikan fokus utama saat ini adalah menjaga kuantitas dan ketersediaan air. Sementara ini, pasokan air dari sektor hulu Brantas seperti di Bendungan Sutami masih terpantau aman, masih sesuai pola, artinya pasokan masih cukup hingga akhir tahun," ujar Ariet, Jumat (19/6/2026).

Meski demikian, PJT I tidak ingin lengah. Pengalaman menghadapi kemarau ekstrem pada 2018 menjadi bahan evaluasi penting dalam menyusun strategi mitigasi.

Jika kondisi serupa kembali terjadi, kata Ariet, prioritas distribusi air akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan domestik masyarakat dan mendukung sektor pertanian sebagai penopang ketahanan pangan.

Apabila terjadi lonjakan kebutuhan air yang mendesak, tata kelola distribusi akan dikoordinasikan melalui Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA).

Selain menjaga kuantitas, PJT I juga menyoroti pentingnya menjaga kualitas air, terutama di wilayah hilir Sungai Brantas seperti Kali Surabaya.

Advertisement

Saat ini, PJT I melakukan pengambilan sampel air secara berkala untuk memantau kondisi kualitas air dan mengidentifikasi potensi pencemaran.

Ariet berharap dunia usaha dapat berperan aktif menjaga kelestarian sumber daya air dengan mematuhi regulasi yang berlaku, terutama terkait pembuangan limbah.

"Selain kolaborasi dengan sektor industri, fenomena El Nino ini juga perlu menjadi perhatian masyarakat. Minimal masyarakat bisa lebih bijak dalam menghemat penggunaan air," katanya.

Senada dengan itu, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas menegaskan pentingnya kepatuhan izin pemanfaatan air permukaan oleh perusahaan.

Ketua Tim Kerja Pelaksanaan Urusan Perizinan Pemanfaatan dan Rekomendasi Teknis BBWS Brantas, Dimas menjelaskan, pengawasan pemanfaatan air akan lebih efektif apabila seluruh perusahaan memiliki izin resmi.

"Perusahaan yang sudah berizin memiliki kewajiban memberikan laporan berkala. Melalui data dari PJT I, kami bisa mengontrol berapa kubik air yang mereka ambil setiap bulan," ujar Dimas.

Menurutnya, tantangan terbesar justru berasal dari perusahaan yang tidak memiliki izin. "Kami tidak bisa mengevaluasi mereka karena titik pengambilan airnya tidak terdeteksi," ungkapnya.

Dimas memastikan, kebutuhan air masyarakat tidak akan terganggu meski terjadi kemarau panjang.
Ia menegaskan bahwa kebutuhan domestik dan irigasi pertanian merupakan prioritas tertinggi dalam pemanfaatan air.

Karena itu, jika diperlukan kebijakan penghematan, pembatasan hanya akan diberlakukan untuk sektor industri dan komersial.

"Nantinya akan ada fokus pengetatan dengan kebijakan pembatasan kuota pengambilan air secara ketat hanya akan diberlakukan bagi sektor industri dan komersial penunjang lainnya," jelasnya.

Kebijakan tersebut nantinya akan diintegrasikan dalam Rencana Alokasi Air Tahunan (RAAT), sehingga pemerintah dapat memperkirakan kebutuhan sekaligus ketersediaan air selama satu tahun ke depan.

Industri Diajak Jadi Mitra Pelestarian Sungai

Sementara itu, Koordinator Tim Patroli Air Jawa Timur, Imam Rochani, mengatakan pihaknya kini mengubah pendekatan pengawasan terhadap dunia usaha.

Jika sebelumnya industri lebih sering diposisikan sebagai objek pengawasan, kini mereka diajak menjadi mitra dalam menjaga kelestarian sungai.

"Biasanya kita rembuk lingkungan dengan masyarakat atau komunitas tambangan. Sekarang, kita mulai merangkul pihak industri secara terbuka. Tujuannya agar muncul kepedulian dan rasa memiliki yang sama terhadap kelestarian sungai," ujarnya.

Menurut Imam, kolaborasi tersebut akan diwujudkan melalui berbagai kegiatan, mulai dari penanaman pohon di bantaran sungai, ekspedisi bersama menyusuri aliran sungai, hingga pendanaan mandiri dari perusahaan untuk program pemulihan lingkungan.

Ia optimistis pendekatan yang lebih kolaboratif dan humanis akan mampu meningkatkan kepatuhan lingkungan perusahaan sekaligus menekan angka pencemaran di Kali Surabaya.

"Melalui sinergi kuat antara pemerintah, komunitas, dan pelaku industri, Tim Patroli Air Jatim optimistis angka pencemaran di Kali Surabaya dapat ditekan secara maksimal," pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Achmad Fikyansyah
PenulisAchmad FikyansyahSarjana Sastra Inggris (S.S) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Bergabung ke TIMES Indonesia sejak Maret 2023. Meliput berbagai topik, utamanya pendidikan dan ekonomi.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia