Advertisement
Peristiwa Daerah

Pemadaman Listrik Bergilir di Bondowoso, Ibu Balita Mengeluh hingga Pengusaha Terancam Rugi

Pemadaman listrik bergilir yang belakangan kerap terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Bondowoso, tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha yang bergantung pada pasokan listrik.

TIMES Indonesia,
Pemadaman Listrik Bergilir di Bondowoso, Ibu Balita Mengeluh hingga Pengusaha Terancam Rugi
Warga di Bondowoso terpakasa menggunakan lilin untuk kegiatan di malam hari saat mati lampu (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia)
A-AA+

BONDOWOSO Pemadaman listrik bergilir yang belakangan kerap terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Bondowoso, tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha yang bergantung pada pasokan listrik.

Salah satu yang merasakan dampaknya adalah Yusi Effendi, pengusaha ayam potong asal Desa Grujugan, Kecamatan Grujugan. Menurutnya, pemadaman listrik yang berlangsung tanpa kepastian waktu membuat usahanya berada dalam posisi sulit.

Advertisement

Yusi menjelaskan, pasokan listrik menjadi kebutuhan utama dalam menjalankan usaha pemotongan ayam. Daging ayam yang telah diproses harus disimpan di dalam freezer agar kualitasnya tetap terjaga. 

Menurutnya, ketika listrik padam dalam waktu lama, kualitas daging berpotensi menurun bahkan rusak.

“Kalau padamnya lama, kualitas daging bisa rusak dan tentu merugikan usaha kami,” ujarnya, Jumat (19/6/2026). 

Tak hanya itu, pekerjaan yang biasanya ditangani mesin listrik juga terhambat. Proses pencabutan bulu ayam yang sehari-hari menggunakan mesin otomatis terpaksa dilakukan secara manual saat listrik padam, sehingga membutuhkan tenaga dan waktu lebih banyak.

Ia juga mengaku heran dengan meningkatnya penggunaan listrik prabayar yang dirasakannya selama beberapa bulan terakhir. Dengan daya listrik 450 VA, token senilai Rp50 ribu yang sebelumnya cukup digunakan selama satu bulan kini hanya mampu bertahan sekitar dua minggu.

Advertisement

Menurut Yusi, hal yang paling disayangkan adalah tidak adanya pemberitahuan sebelumnya kepada masyarakat ketika pemadaman akan dilakukan. Ia menilai informasi yang diberikan kepada pelanggan masih sangat minim.

“Kalau memang akan ada pemadaman, seharusnya masyarakat diberi tahu lebih dulu supaya bisa melakukan persiapan,” katanya.

Keluhan serupa datang dari Wahyudi, warga Desa Kejawan. Meski tidak memiliki usaha yang bergantung langsung pada listrik, ia mengaku aktivitas sehari-harinya tetap terganggu akibat pemadaman yang bisa berlangsung hingga lima jam.

Pria yang akrab disapa Nyud itu mengatakan, saat listrik padam warga mengalami berbagai kesulitan, mulai dari memasak, memompa air bersih, hingga mengakses internet untuk kebutuhan pekerjaan maupun komunikasi.

Menurutnya, gangguan listrik paling sering terjadi pada malam hari dan kerap berlangsung tanpa pemberitahuan sebelumnya.

“Saya pernah mengadukan masalah ini, tetapi jawabannya hanya seputar perbaikan sistem,” ujarnya.

Ia berharap pihak PLN dapat lebih terbuka dalam menyampaikan informasi kepada pelanggan, terutama terkait jadwal maupun penyebab pemadaman listrik yang terjadi berulang kali. Dengan adanya pemberitahuan lebih awal, masyarakat dapat mengantisipasi dampak yang ditimbulkan.

Selain persoalan pemadaman, ia juga menyoroti kondisi jaringan listrik di sejumlah lokasi yang dinilainya perlu mendapat perhatian. 

Masih banyak kabel listrik yang terlihat menjuntai dan bergelantungan, sehingga dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan warga.

“Harapannya bukan hanya soal pemadaman yang diperjelas, tetapi juga kondisi jaringan listrik di lapangan bisa lebih diperhatikan,” paparnya. 

Keluhan juga datang dari seorang ibu rumah tangga, Sofiyatul Hanabi, warga Kecamatan Grujugan Bondowoso. Ia mengalami kesulitan melakukan pekerjaan rumah saat listrik padam. 

“Apalagi pas malam hari, mau aktivitas, ngurus anak, dan mandi saja kesulitan. Sudah beberapa kali di sini mati listrik,” katanya. 

Ibu dua anak tersebut mengaku sangat kesal, karena di rumahnya masih ada balita. Apalagi anak keduanya tersebut tidak mau gelap. “Susah kalau malam, anak saya yang kecil sering nangis,” ucapnya dengan nada kesal.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Moh Bahri
PenulisMoh BahriSarjana Sosial (S.Sos) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq atau UIN KHAS Jember (2018). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2018 (Tugas di Kabupaten Bondowoso). Meliput berbagai topik: Politik, peristiwa, hukum, ekonomi, budaya, kuliner dan isu-isu lainnya di daerah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia