Saluran Irigasi Karangmiri Giwangan Jogja Disulap Jadi Kolam Ikan, Sampah Jadi Sumber Ekonomi
Warga Karangmiri, Giwangan, ubah saluran irigasi penuh sampah jadi kolam budidaya ikan dengan pakan sisa makanan, wujudkan ekonomi sirkular dan tingkatkan pendapatan warga.
YOGYAKARTA – Inovasi warga Karangmiri, Giwangan, Kota Yogyakarta, berhasil menghadirkan cara kreatif dalam menjaga lingkungan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat. Saluran irigasi yang sebelumnya dipenuhi sampah kini berubah menjadi kawasan produktif melalui budidaya ikan dengan memanfaatkan sisa makanan rumah tangga, warung makan, hingga restoran sebagai pakan alami.
Transformasi lingkungan tersebut mendapat apresiasi langsung dari Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo bersama Komandan Kodim 0734 Kota Yogyakarta Letkol Inf Arif Setiyono saat mengikuti kegiatan panen ikan di saluran irigasi Karangmiri Giwangan, Sabtu (20/6/2026).
Dengan menggunakan jaring, Hasto bersama masyarakat memanen berbagai jenis ikan yang dibudidayakan warga, seperti ikan bawal, patin, nila, dan lele. Momen panen ini menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Hasto Wardoyo mengapresiasi semangat warga Karangmiri yang mampu mengubah persoalan sampah organik menjadi peluang produktif. Menurutnya, gerakan tersebut bukan hanya sekadar mengolah sampah, tetapi menciptakan sistem ekonomi sirkular yang memberikan dampak berkelanjutan.
“Tidak hanya sekadar olah sampah, tetapi sampai ke hilirnya lagi, multiplier effect-nya, dan ekonomi sirkularnya jalan. Dari sisa makanan rumah tangga dikumpulkan oleh dasawisma. Masing-masing dasawisma punya kapling kolam, kemudian digunakan untuk memelihara ikan dan dipanen secara rutin sehingga bisa menghasilkan pendapatan warga,” ujar Hasto.
Dari Saluran Penuh Sampah Menjadi Sumber Pangan Warga
Sebelum dimanfaatkan untuk budidaya ikan, kondisi saluran irigasi Karangmiri sempat menjadi perhatian warga karena dipenuhi sampah. Melihat kondisi tersebut, masyarakat kemudian bergerak melakukan pembersihan dan mencari solusi agar saluran air tetap terjaga sekaligus memiliki nilai manfaat.
Pinitua Tuwanggana Kelurahan Giwangan Slamet Haryanto menjelaskan, inovasi tersebut berawal dari keprihatinan warga sekitar dua tahun lalu. Masyarakat kemudian membuat berbagai upaya, termasuk memasang sekat penyaring sampah agar aliran air tetap bersih.
“Awalnya karena saluran irigasi penuh sampah. Kemudian kami buat sekat untuk menyaring sampah sehingga air yang mengalir tetap bersih dan bisa dimanfaatkan untuk budidaya ikan,” jelas Slamet.
Menurutnya, warga kini memanfaatkan sisa makanan dari rumah tangga, restoran, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai pakan ikan. Setiap hari, sekitar tiga ember sisa makanan atau sekitar 75 kilogram dapat dikelola untuk mendukung budidaya ikan warga.
“Ini bagaimana sampah organik makanan bisa kita selesaikan. Sisa makanan tidak lagi menjadi limbah, tetapi menjadi pakan ikan yang memiliki nilai manfaat,” katanya.
Budidaya Ikan Dorong Ekonomi Sirkular Kampung
Konsep yang diterapkan warga Karangmiri menjadi contoh nyata penerapan ekonomi sirkular berbasis masyarakat. Sampah makanan yang sebelumnya berpotensi menjadi masalah lingkungan kini dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan ikan yang bernilai ekonomi.
Slamet mengatakan modal awal benih ikan berasal dari kelompok dasawisma ibu-ibu. Warga secara mandiri membeli benih, melakukan perawatan, hingga menikmati hasil panen.
Ia mencontohkan, seorang warga yang membeli benih ikan sekitar 3 kilogram dapat mengembangkan hingga menghasilkan sekitar 5 kilogram ikan saat panen.
Hasil panen tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat dan sebagian dapat dibeli oleh warga lain. Keuntungan yang diperoleh kembali digunakan untuk membeli benih ikan berikutnya sehingga siklus usaha terus berjalan.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menilai langkah warga Karangmiri Giwangan merupakan contoh bahwa lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan secara kreatif melalui semangat gotong royong.
Menurutnya, keberadaan saluran irigasi tidak hanya berfungsi sebagai jalur aliran air, tetapi juga dapat menjadi bagian dari konservasi lingkungan, mendukung ketahanan pangan, serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Ketika masyarakat menjaga lingkungan dengan baik, manfaatnya bisa dirasakan secara nyata. Saluran irigasi yang bersih dapat menjaga kelancaran aliran air, mengurangi risiko genangan, sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya air,” ujar Hasto.
Ia berharap inovasi Karangmiri dapat menjadi inspirasi bagi kampung-kampung lain di Kota Yogyakarta untuk mengembangkan pengelolaan sampah organik dan pemanfaatan lingkungan secara produktif.
“Mudah-mudahan ini menjadi best practice yang bisa direplikasi di tempat lain. Ini juga bagian dari konservasi air karena air tidak langsung terbuang ke sungai atau laut, tetapi dimanfaatkan oleh masyarakat,” tambahnya.
Pemkot Yogyakarta Dorong Program Pengolahan Sampah Organik
Pemerintah Kota Yogyakarta memastikan akan terus mendukung gerakan masyarakat dalam pengelolaan sampah organik. Salah satu langkah yang diperkuat adalah program emberisasi untuk mengumpulkan sisa makanan dari rumah tangga.
Hasto mengajak masyarakat untuk aktif melaporkan kebutuhan fasilitas pengelolaan sampah organik agar program tersebut dapat berjalan lebih maksimal.
“Kalau saat ini dirasa embernya kurang, jangan segan-segan lapor kepada kami. Nanti akan kami tindak lanjuti,” tegasnya.
Keberhasilan warga Karangmiri Giwangan menjadi gambaran bahwa persoalan sampah dapat diselesaikan dengan inovasi, kolaborasi, dan kepedulian bersama. Dari saluran irigasi yang dulunya kotor, kini lahir ekosistem baru yang menggabungkan kebersihan lingkungan, ketahanan pangan, serta peningkatan ekonomi masyarakat. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


