Jelang Munas dan Konbes NU, Para Masyayikh Berkumpul di Ploso Keluarkan 3 Seruan Penting
13 masyayikh NU serukan Munas-Konbes jaga khittah: tolak perubahan syarat AHWA dan aturan rangkap jabatan politik, serta minta Muktamar 2026 digelar di pesantren.
KEDIRI – Menjelang perhelatan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU), para masyayikh, alim ulama, dan pengasuh pondok pesantren menggelar pertemuan ramah tamah di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, pada Sabtu (20/6/2026).
Pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh ukhuwah tersebut menghasilkan "Seruan Masyayikh" demi menjaga khittah, marwah, persatuan, serta keberlangsungan peran Nahdlatul Ulama (NU) sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah (organisasi keagamaan dan kemasyarakatan) yang lahir dari rahim pesantren.
Sebanyak 13 ulama sepuh dan pimpinan wilayah dari berbagai daerah turut menandatangani seruan ini, di antaranya KH. Nurul Huda Jazuli (PP. Ploso), KH. Anwar Manshur (PP. Lirboyo), Wakil Presiden ke-13 RI Prof. Dr. KH. Ma'ruf Amin, hingga mantan Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj.

Dalam pernyataan tertulisnya, para masyayikh menekankan beberapa poin krusial yang diharapkan menjadi perhatian serius para penyelenggara dan peserta Munas-Konbes NU:
1. Tolak Usulan Perubahan Syarat AHWA dan Larangan Rangkap Jabatan Politik
Para masyayikh memohon agar Munas dan Konbes NU tidak membahas atau menetapkan materi yang berpotensi menjauhkan hubungan historis dan spiritual antara NU dengan pesantren. Secara spesifik, ulama meminta dua usulan dibatalkan:
Pembatalan usulan penambahan syarat calon anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang mengharuskan berasal dari pengurus syuriyah dan didasarkan pada representasi kewilayahan. Karakter AHWA harus tetap bertumpu pada kedalaman ilmu dan akhlak. Pembatalan usulan pengubahan aturan terkait larangan rangkap jabatan politik.
2. Minta Muktamar NU 2026 Digelar di Pondok Pesantren
Menegaskan bahwa pesantren adalah rumah besar dan fondasi utama NU, para masyayikh berharap agar Muktamar Nahdlatul Ulama Tahun 2026 diselenggarakan di lingkungan pondok pesantren. Hal ini dinilai sebagai wujud penghormatan terhadap sejarah, tradisi, serta mata rantai keilmuan NU.
3. Jaga Adab Musyawarah dan Persatuan
Para ulama menyerukan kepada seluruh peserta, penyelenggara, dan pimpinan NU yang terlibat untuk senantiasa menjaga ketertiban, akhlak, adab bermusyawarah, serta mengedepankan persatuan jam’iyah di atas segalanya.
"Para masyayikh meyakini bahwa penghormatan kepada ulama, penguatan peran pesantren, dan terjaganya persatuan merupakan modal utama bagi Nahdlatul Ulama untuk terus menjalankan khidmahnya bagi agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan," bunyi kutipan seruan tersebut.
Pertemuan di Ploso ini diharapkan dapat menjadi kompas moral dan spiritual bagi jalannya roda organisasi NU ke depan agar tetap berada di jalur khittah para pendirinya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


