Menag Dorong Integrasi Keilmuan PTKIN dengan Fondasi Teologi Ahadiyah
Menag Nasaruddin Umar dorong PTKIN kembangkan integrasi ilmu berbasis Teologi Ahadiyah, menempatkan nilai keislaman sebagai fondasi aktif pengembangan keilmuan modern.
KEDIRI – Menteri Agama (Menang) RI, Prof Nasaruddin Umar, memberikan dorongan kuat bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk mengembangkan paradigma baru dalam pengembangan ilmu pengetahuan berbasis nilai keislaman. Dalam Seminar Pengembangan PTKIN Berbasis Teologis di UIN Syekh Wasil Kediri, Sabtu (20/6/2026).
Ia mengusulkan konsep Teologi Ahadiyah sebagai fondasi utama integrasi keilmuan dan keislaman agar arah ilmu dapat selaras dengan prinsip Islam.
Dalam pemaparannya, Nasaruddin menyoroti kelemahan mendasar paradigma integrasi keilmuan yang sudah berjalan di banyak PTKIN. Ia mengamati bahwa selama ini nilai-nilai keislaman lebih sering dijadikan unsur yang terpengaruh oleh disiplin ilmu lain, bukan sebagai faktor aktif yang membentuk pengembangan ilmu.
“Integrasi yang diwacanakan selama ini belum mampu menempatkan keislaman sebagai faktor yang memengaruhi. Keislaman justru sering menjadi faktor yang dipengaruhi,” ujarnya tegas.
Hal ini menurut Nasaruddin disebabkan kerangka integrasi yang belum dibangun di atas dasar teologi yang solid dan filosofis. Oleh sebab itu, ia memperkenalkan konsep Teologi Ahadiyah yang berasal dari istilah “Ahad” dalam Surah Al-Ikhlas sebagai paradigma baru yang menguatkan integrasi keilmuan dalam konteks PTKIN.
Prof Nasaruddin menjelaskan bahwa istilah “Ahadiyah” menyiratkan filosofi keesaan yang lebih dalam dibandingkan kata “Wahid”. Teologi Ahadiyah menegaskan bahwa seluruh realitas dan ilmu bersumber dari satu asal yang sama, bukan sekadar menempatkan sesuatu sebagai yang terunggul.
“Teologi Ahadiyah memandang segala sesuatu bersumber dari satu asal yang sama. Berbeda dengan Wahidiyah yang melihat adanya sesuatu paling unggul dibanding yang lain,” jelasnya.
Untuk memudahkan pemahaman, Menteri Agama menggunakan ilustrasi batik peserta seminar. Dalam perspektif Wahidiyah, perhatian akan tertuju pada batik mana paling mahal atau indah. Namun dalam pandangan Ahadiyah, yang penting adalah kesamaan asal bahan pembuatannya, yakni kapas menjadi kain, kemudian diolah menjadi batik yang beranekaragam.
Paradigma ini mengajak PTKIN untuk membangun integrasi ilmu yang sadar akan kesatuan sumber pengetahuan dan realitas universal, sekaligus menghindari paradigma kompetisi berlebihan antar disiplin ilmu.
Seminar dihadiri pimpinan PTKIN nasional, termasuk Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof Muhammad Ishom. Prof Ishom menyatakan dukungan atas gagasan ini dan menilai forum seperti ini vital untuk memperkaya perspektif pengembangan epistemologi integrasi keislaman dan keilmuan.
“Diskusi ini menjadi pelengkap penting dalam membangun kerangka epistemologi yang lebih menyeluruh dan kokoh,” ujarnya.
Usulan Teologi Ahadiyah sebagai fondasi integrasi keilmuan menunjukkan langkah progresif dalam menyatukan ilmu pengetahuan modern dengan nilai keislaman yang mendalam. Pendekatan ini berpotensi mengatasi fragmentasi ilmu dan menghindari kecenderungan membuat Islam “pasif” di tengah perkembangan ilmu kontemporer.
Memasukkan nilai tauhid sebagai prinsip pokok dalam metodologi akademik PTKIN bisa menguatkan identitas institusi sekaligus mendorong kontribusi ilmu yang relevan secara kontekstual dan transformatif.
Pendekatan ini juga membuka peluang sinergi antar disiplin lebih harmonis dan penuh kesadaran spiritual, memperkaya pengembangan ilmu dengan dimensi etika dan nilai-nilai universal Islam.
Gagasan Prof Nasaruddin Umar memperkenalkan Teologi Ahadiyah sebagai lanskap baru integrasi ilmu di PTKIN adalah tonggak penting dalam memajukan pendidikan tinggi Islam di Indonesia.
Paradigma ini menantang PTKIN untuk menjadi pelopor pengembangan ilmu yang unggul dan berakar kuat pada nilai-nilai Islam. Jika diwujudkan, integrasi berbasis Teologi Ahadiyah dapat memperkuat karakter keilmuan sekaligus menyemai kemajuan peradaban Islam di tanah air.
Menyongsong era globalisasi dan perkembangan ilmu yang pesat, PTKIN dengan fondasi Teologi Ahadiyah diharapkan mampu menjawab tantangan zaman dengan integritas keilmuan dan spiritual yang berimbang.
Seminar di UIN Syekh Wasil Kediri menjadi momentum berharga yang membuka cakrawala baru bagi kemajuan sistem pendidikan Islam yang akomodatif dan transformatif
" Konsep yang ditawarkan Prof Nasaruddin,itu sangat baik dan istimewa. Yakni sebuah konsep teologi Ahadiyah yang berasal dari istilah “Ahad” dalam Surah Al-Ikhlas sebagai paradigma baru yang menguatkan integrasi keilmuan dalam konteks PTKIN," ungkap Prof Dr H. Wahidul Anam, Rektor UIN Syeck Wasil Kediri. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


