Dari Utang hingga Tanah Suci, Perjuangan Nek Sania Mengundang Perhatian Istana
Fenomena jemaah yang berutang untuk menunaikan ibadah haji menjadi perhatian Kementerian Haji dan Umrah. Salah satunya adalah kisah Nek Sania dari Sumatra Utara.
SERDANG BEDAGAI – Kisah menyentuh hati datang dari seorang jemaah haji asal Serdang Bedagai, Sumatra Utara, bernama Nek Sania (72). Di balik kebahagiaannya menunaikan rukun Islam kelima pada musim haji 2026, wanita lansia yang sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci ini harus menghadapi kenyataan terlilit utang di kampung halamannya demi bisa melunasi biaya perjalanan ke Tanah Suci.
Nek Sania merupakan seorang janda yang kini tinggal menumpang di rumah anaknya. Perjalanan spiritualnya dimulai pada tahun 2014 lalu, ketika ia mendaftarkan diri menjadi jemaah haji menggunakan uang pemberian dari anak-anaknya. Setelah menanti selama 12 tahun, panggilan untuk berangkat ke Baitullah akhirnya tiba pada tahun 2026 ini.
Namun, keterbatasan ekonomi sempat menjadi ganjalan besar bagi Nek Sania untuk melunasi sisa biaya keberangkatan. Didorong oleh tekad yang kuat, ia akhirnya memutuskan meminjam uang ke berbagai pihak agar mimpinya melihat Ka'bah tidak kandas.
Fenomena jemaah yang nekat berutang demi ibadah ini rupanya banyak ditemukan di lapangan oleh tim pemantau dari Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI. Realitas ini memicu perdebatan rasionalitas di tengah masyarakat mengenai hukum asal ibadah haji yang sebenarnya hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu secara finansial maupun fisik.
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak menjelaskan bahwa fenomena seperti yang dialami Nek Sania merupakan potret dari tebalnya dinding spiritualitas masyarakat Indonesia yang tidak melulu bisa diukur dari kacamata materi.

"Mungkin bagi banyak orang, ngapain sih sampai hutang? Ngapain sih memaksakan diri bila tak mampu secara material? Pikiran banyak orang tersebut tak salah. Benar secara syariat, karena haji disyaratkan bagi yang mampu," kata Wamenhaj Dahnil saat mengunjungi kediaman Nek Sania di Serdang Bedagai dikutip pada Minggu (21/6/2026).
Namun, ia menambahkan bahwa bagi sebagian besar umat Muslim di Indonesia, ibadah haji dimaknai jauh lebih dalam melampaui aturan fikih dasar. Hubungan personal antara hamba dan Sang Pencipta sering kali memunculkan dorongan yang melampaui logika manusia.
"Namun, itulah spirit keberagamaan khas Indonesia. Haji bagi beliau-beliau adalah puncak penyempurnaan spiritualisme, dan seringkali spiritualisme tidak selalu bisa sekedar dimaknai secara syariat, banyak yang juga yang memaknainya secara hakikat bahkan makrifat. Tidak semua unsur dalam spiritualisme bisa dirasionalisasi, ada hal-hal yang ghaib dimaknai secara batin, sama halnya dengan Cinta, seringkali cinta tak bisa dirasionalisasi. Maka ada ungkapan 'Cinta itu Buta'," urainya.
Ekspresi keimanan yang luar biasa dari seorang buruh cuci ini dinilai sebagai wujud dari Mahabatullah—rasa cinta dan ketaatan yang mendalam kepada Allah SWT, yang diwujudkan dengan cara mengerahkan seluruh upaya yang dimilikinya.
"Mahabatullah, kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT diekspresikan seorang Nek Sania dengan 'memaksakan diri agar mampu naik haji'. Saya sering menyebutnya, ada orang yang mampu naik haji tapi ada juga berusaha dan memampukan diri naik haji sehingga semua upaya halal dilakukan meskipun secara syariat kewajiban mereka telah gugur sejatinya. Namun, cinta kepada Allah dan Nabinya tidak bisa doreduksir dengan sekedar rasionalitas syariat," lanjutnya menegaskan.
Kisah perjuangan jemaah kecil seperti Nek Sania ini rupanya telah sampai ke telinga Istana. Presiden Prabowo Subianto langsung memberikan instruksi khusus kepada Kementerian Haji dan Umrah untuk melakukan pendataan menyeluruh terhadap jemaah-jemaah haji yang berada dalam kondisi serupa agar pemerintah bisa segera turun tangan memberikan bantuan konkret.
"Akhirnya, atas perintah Presiden prabowo kami mendata jamaah-jamaah haji seperti Nek Sania ini, agar bebannya diringankan, agar hutangnya terbayarkan," tandas Wamenhaj Dahnil. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


