Advertisement
Peristiwa Daerah

Cemari 132 Kolam Ikan, Warga Curiga Air Lindi TPA Ciangir Kota Tasikmalaya Jadi Penyebab

Peristiwa tersebut terjadi di sejumlah wilayah yang berada di sekitar aliran sungai yang melintasi Kelurahan Tamansari dan Kelurahan Mugarsari.

TIMES Indonesia,
Cemari 132 Kolam Ikan, Warga Curiga Air Lindi TPA Ciangir Kota Tasikmalaya Jadi Penyebab
Seorang warga saat menunjukkan sebuah kolam ikan yang berwarna coklat kehitaman di kecamatan Tamansari Kota Tasikmalaya. Minggu (21/6/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
A-AA+

TASIKMALAYA Ratusan kolam ikan milik warga di Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, mendadak berubah warna menjadi hitam pekat. 

Fenomena pada Minggu (21/6/2026) itu memicu keresahan warga karena tidak hanya menyebabkan kematian ikan secara massal, tetapi juga menimbulkan bau menyengat serta berdampak pada kualitas air sungai dan sumur yang selama ini menjadi sumber kebutuhan warga.

Advertisement

Peristiwa tersebut terjadi di sejumlah wilayah yang berada di sekitar aliran sungai yang melintasi Kelurahan Tamansari dan Kelurahan Mugarsari. 

Air kolam yang sebelumnya jernih tiba-tiba berubah menjadi hitam pekat dalam waktu singkat. Tak lama setelah perubahan warna terjadi, ribuan ikan budidaya milik warga mulai mengambang di permukaan kolam dalam kondisi mati.

Kejadian ini kembali mengingatkan warga pada peristiwa serupa yang pernah terjadi pada Oktober 2024. Saat itu, ratusan kolam ikan juga mengalami pencemaran yang diduga berasal dari aliran air lindi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ciangir.

Sejumlah ikan
Sejumlah ikan yang mati diangkat warga dan dimasukan kepada beberapa ember untuk dipilah, di kecamatan Tamansari Kota Tasikmalaya. Minggu (21/6/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia) 

Di Kampung Sinargalih RT 02 RW 07, Kelurahan Tamansari, puluhan warga terlihat berupaya menyelamatkan ikan yang masih hidup dengan cara menguras kolam dan mengganti air yang telah tercemar.

Advertisement

Picu Keresahan Warga

Salah seorang pembudidaya ikan, Abah Anas Sutisna (62), mengaku hanya bisa pasrah melihat sebagian ikan peliharaannya mati akibat perubahan kondisi air yang terjadi secara tiba-tiba.

Ia menjelaskan bahwa selama ini dirinya membudidayakan berbagai jenis ikan air tawar di kolam miliknya.

"Abah melak lauk sagala jenis. Kawit ti indukan gurame, nila, lauk mas sareng anu sanes. Total sadayana 40 kiloan (Abah menanam ikan segala jenis, Mulai dari induk Gurame, ikan mas dan yang lainnya, Total seluruhnya 40 Kg)," kata Anas saat ditemui di lokasi.

Menurut Anas, ikan yang dipeliharanya sebagian besar masih berukuran kecil karena baru beberapa waktu ditebar ke kolam.

"Enggal keneh melakna oge abah mah. Panginteun aya saageung curuk. Nuju meumeujeuhna resep, jang (Masih baru menebar benih ikannya, mungkin sebesar telunjuk. Lagi senang-senang melihat)," ujarnya.

Ia mengaku belum bisa menghitung secara pasti jumlah kerugian yang dialaminya. Namun, kematian ikan tersebut jelas menjadi pukulan bagi para pembudidaya yang menggantungkan penghasilan dari sektor perikanan skala rumahan.

Keluhan serupa disampaikan Umar (50), warga yang juga memiliki kolam budidaya ikan di lokasi yang sama. Menurutnya, perubahan kualitas air membuat ikan mengalami stres berat hingga akhirnya mati massal.

Umar mengatakan dirinya menebar sekitar 70 kilogram benih ikan dari berbagai jenis, mulai dari gurame, ikan mas, ikan tambak, ikan sepat hingga jenis ikan konsumsi lainnya.

Ia mengaku sempat melihat adanya perubahan warna air pada malam hari. Namun saat itu dirinya belum menyadari dampak yang akan terjadi.
Pagi harinya, kondisi kolam berubah drastis.

"Tadi pagi ketahuannya, airnya kolam sudah hitam dan ikan juga sudah pada mengambang, mati semua," katanya.

Menurut Umar, pola kejadian yang terjadi saat ini sangat mirip dengan insiden pencemaran yang pernah terjadi dua tahun sebelumnya.

"Kejadian ini persis seperti dua tahun lalu. Airnya menghitam, ikannya pada mati. Perkiraan dari bak air lindi IPAL TPA Ciangir yang dibuang ke sungai," ungkapnya.

Dugaan tersebut muncul karena sumber air yang masuk ke kolam-kolam warga berasal dari aliran sungai yang terhubung dengan kawasan sekitar TPA Ciangir.

Tidak Hanya Kolam, Sumur dan Sungai Juga Terdampak

Dampak pencemaran air ternyata tidak hanya dirasakan oleh para pembudidaya ikan.

Sejumlah warga mengeluhkan kondisi air sungai dan sumur yang ikut berubah. Air yang biasanya digunakan untuk mandi, mencuci pakaian, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya kini berwarna keruh kehitaman dan mengeluarkan bau tidak sedap.

Kondisi ini membuat sebagian warga memilih menghentikan sementara penggunaan air dari sumber tersebut karena khawatir menimbulkan gangguan kesehatan.

Warga berharap pemerintah segera melakukan pemeriksaan kualitas air guna memastikan tingkat pencemaran yang terjadi serta dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Ketua RW 07 Kelurahan Tamansari, Agus Suhendar, mengungkapkan bahwa jumlah kolam yang terdampak cukup besar. Menurutnya, di wilayah RT 02 RW 07 saja terdapat sekitar 98 kolam ikan yang menggunakan saluran air yang sama.

Selain itu, terdapat pula sekitar 34 kolam di wilayah perbatasan RT 04 RW 04 Kelurahan Mugarsari yang mengalami kondisi serupa.
Dengan demikian, total kolam terdampak mencapai sekitar 132 kolam.

"Laporan masyarakat yang masuk ke saya baru sekitar lima orang. Semuanya melaporkan hal yang sama, ikan di kolam mereka mendadak mati," ujarnya.

Agus menjelaskan bahwa jumlah ikan yang mati kemungkinan masih akan terus bertambah karena tidak semua bangkai ikan langsung muncul ke permukaan.

Menurutnya, sebagian ikan masih berada di dasar kolam dan baru akan terlihat setelah tubuhnya membusuk dan mengembang.
"Nanti kalau sudah mengembang baru muncul ke atas. Setelah itu baru kelihatan jumlah pastinya," katanya.

Hingga kini, pihak RW masih melakukan pendataan untuk mengetahui jumlah kerugian yang dialami masyarakat.

Agus mengaku prihatin karena peristiwa serupa bukan kali pertama terjadi. Menurutnya, warga sudah berulang kali mengalami dampak pencemaran air, terutama ketika memasuki musim kemarau.

Ia menyebut fenomena tersebut bahkan telah terjadi sejak tahun 2011 dan hingga kini belum ditemukan solusi permanen.

Karena itu, Agus meminta Pemerintah Kota Tasikmalaya dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh.

"Peristiwa ini sudah terjadi sejak 2011. Tolong perhatiannya untuk warga kami. Saya sangat berharap jangan hanya berhenti pada wacana saja, kami butuh solusi nyata," tegasnya.

Ia berharap pemerintah tidak hanya melakukan penanganan sesaat, tetapi juga menyusun langkah jangka panjang agar pencemaran air yang diduga berasal dari aktivitas pengelolaan sampah tidak terus berulang dan merugikan masyarakat.

Menanti Respons Pemerintah

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Dinas Lingkungan Hidup Kota Tasikmalaya belum membuahkan hasil.

Kepala DLH Kota Tasikmalaya, H. Sandi Lesmana, hingga Minggu sore belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pencemaran yang menyebabkan kematian ikan secara massal tersebut.

Di sisi lain, Sekretaris DLH Kota Tasikmalaya, Ukim Sumantri, mengarahkan wartawan untuk menghubungi Kepala TPA Ciangir Yanri.

Menurut Ukim, dirinya telah menyampaikan informasi bahwa akan ada permintaan konfirmasi dari media terkait keluhan warga.

Namun hingga berita ini diterbitkan, Kepala TPA Ciangir juga belum memberikan tanggapan atas berbagai pertanyaan yang diajukan.

Akibatnya, belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab pasti perubahan warna air, sumber pencemaran, maupun langkah penanganan yang akan dilakukan pemerintah daerah.

Warga kini menunggu hasil investigasi dan tindakan konkret dari pemerintah untuk memastikan penyebab kejadian tersebut sekaligus mencegah kerugian yang lebih besar di masa mendatang. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Harniwan Obech
PenulisHarniwan ObechSarjana Administrasi Negara, STIA YPPT Priatim, (Angkatan tahun 1994). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 18-04-2021, Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia