Inovasi 'Kampung Emas Mentari' Puskesmas Sukanagalih Cianjur, Tekan Stunting dan AKI-AKB
Langkah strategis ini sudah diuji coba sejak dua tahun lalu di bawah wilayah kerja fasilitas kesehatan tersebut sebelum akhirnya diresmikan secara formal.
CIANJUR – Puskesmas Sukanagalih di Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur resmi memperkenalkan program Kampung Emas Mentari demi menekan kasus tengkes atau stunting, kurang darah, serta fatalitas pada ibu dan bayi melahirkan.
Langkah strategis ini sudah diuji coba sejak dua tahun lalu di bawah wilayah kerja fasilitas kesehatan tersebut sebelum akhirnya diresmikan secara formal.
Inisiatif komprehensif ini diinisiasi oleh seorang dokter umum di Puskesmas Sukanagalih, dr. Ardya Lucita, sebagai akronim dari Eliminasi Masalah Anemia, Stunting, dan Menuju Target Nol Kematian Ibu Bayi.
Kepala Puskesmas Sukanagalih, Utari Doriomas, menjelaskan bahwa keberhasilan gerakan ini bertumpu pada sinergi model pentaheliks yang mengikat berbagai lini masyarakat.
Pihaknya mengintegrasikan peran aktif dari jajaran kecamatan, birokrasi pemerintahan desa, kader posyandu, lembaga swadaya, pemuka agama, pelaku bisnis, institusi pendidikan, hingga keterlibatan pers.
Utari menegaskan bahwa jajarannya bersama seluruh pemangku kepentingan berkomitmen terus mengawal, menduplikasi, dan memperlebar jangkauan program ini demi mencetak generasi masa depan yang prima.
Implementasi di lapangan selama ini telah membuahkan lima capaian signifikan, mulai dari penyusutan prevalensi anemia pada kelompok remaja putri dan ibu mengandung berkat edukasi nutrisi yang masif.
"Intervensi gizi yang dilakukan secara terpadu juga terbukti efektif menurunkan angka stunting di kawasan percontohan," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima, pada Senin (22/6/2026).
Selain itu, kurva kematian ibu dan bayi baru lahir dapat ditekan bersamaan dengan meningkatnya keterjangkauan akses medis bagi warga, serta terbangunnya kesadaran kolektif seputar pola hidup bersih dan sehat.
Keberhasilan tersebut ditopang oleh empat pilar utama, salah satunya adalah Klinik Ekspress Keliling yang memanfaatkan bus modifikasi dengan fasilitas laboratorium mini untuk menjangkau pelosok desa yang sulit diakses.
Puskesmas juga mewajibkan Sekolah Catin sebagai bekal edukasi pranikah guna memperbaiki kadar zat besi calon ibu, serta menerapkan Peta Digital Kesehatan berbasis sistem informasi geografis untuk memetakan data medis warga secara akurat.
"Terakhir, dibentuk pula Kampung Siaga Bumil dan Balita Mandiri pada level rukun warga yang melibatkan tokoh lintas agama agar gerakan ini selaras dengan kearifan lokal," tandasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


