Advertisement
Peristiwa Daerah

DTPHP Pastikan Belum Ada Pertanian di Kabupaten Malang yang Terdampak Kekeringan

Meski muncul prediksi Godzilla El Nino atau kekeringan ekstrem, sektor pertanian di Kabupaten Malang masih aman.

TIMES Indonesia,
DTPHP Pastikan Belum Ada Pertanian di Kabupaten Malang yang Terdampak Kekeringan
Ilustrasi lahan pertanian di Kabupaten Malang. (Foto: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)
A-AA+

Malang Prediksi terjadinya fenomena Godzilla El Nino atau kekeringan ekstrem belum berdampak pada sektor pertanian di Kabupaten Malang. Hingga kini, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang mengaku belum menerima laporan adanya lahan pertanian yang mengalami kekeringan.

Kepala DTPHP Kabupaten Malang, Avicenna M Saniputera mengatakan, kondisi tersebut ditopang oleh sistem irigasi yang masih berjalan baik sehingga suplai air untuk lahan pertanian tetap tersedia.

Advertisement

"Sekarang belum, saya belum dapat laporan kalau ada yang kekeringan. Karena Malang itu kan cenderung irigasi itu masih bagus untuk suplai air," kata Avicenna, Senin (22/6/2026).

Meski demikian, pihaknya tetap mewaspadai kemungkinan terjadinya kekeringan ekstrem seperti yang menjadi isu nasional dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut Avicenna, Kabupaten Malang diharapkan tidak mengalami dampak yang terlalu besar apabila fenomena El Nino dengan intensitas tinggi benar-benar terjadi.

"Mudah-mudahan tidak se-ekstrim yang menjadi isu secara nasional, yaitu Godzilla El Nino atau kekeringan ekstrem. Mudah-mudahan nanti itu tidak sampai terjadi di Malang," ujarnya.

Ia menjelaskan, aktivitas pertanian di Kabupaten Malang hingga saat ini masih berlangsung normal. Produksi tanaman pangan, khususnya padi, juga masih berjalan sebagaimana mestinya.
Petani yang memasuki masa panen masih dapat memanen hasil pertaniannya. Sementara petani yang sedang memasuki musim tanam juga tetap melakukan penanaman.

Advertisement

"Karena kita kan untuk tanaman pangan terutama ya, itu kan padi masih produksi sekarang. Yang panen masih panen, yang tanam masih tanam. Jadi masih belum terlalu berdampak," jelasnya.

Avicenna mengakui bahwa Juli hingga Agustus merupakan periode puncak musim kemarau. Oleh karena itu, pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan ketersediaan air di sejumlah wilayah pertanian.

Menurutnya, kesiapan infrastruktur irigasi menjadi salah satu faktor penting yang membuat Kabupaten Malang relatif lebih siap menghadapi musim kemarau dibandingkan daerah lain yang mengandalkan tadah hujan.

"Ini kan memang Juli, Agustus ini sebenarnya puncak musim kemarau. Karena nanti di bulan depan ya, mudah-mudahan lah, mohon doanya ya. Jadi tetap tidak terjadi kekeringan ekstrem," katanya.

Kabupaten Malang sendiri dikenal sebagai salah satu daerah penghasil komoditas pangan terbesar di Jawa Timur. Selain padi, wilayah ini juga menghasilkan berbagai komoditas hortikultura dan perkebunan yang tersebar di sejumlah kecamatan.

Karena itu, kondisi cuaca dan ketersediaan air menjadi faktor penting yang terus dipantau agar produktivitas pertanian tetap terjaga di tengah ancaman perubahan iklim dan potensi kekeringan ekstrem. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Achmad Fikyansyah
PenulisAchmad FikyansyahSarjana Sastra Inggris (S.S) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Bergabung ke TIMES Indonesia sejak Maret 2023. Meliput berbagai topik, utamanya pendidikan dan ekonomi.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia