Advertisement
Peristiwa Daerah

Ngabumi Pulomajeti ke-8: Dari Ritual Kirab Budaya hingga Larung Ribuan Ikan

Ngabumi Pulomajeti ke-8 usung tema “Delapan Pintu Kesadaran”, padukan ritual adat sakral, ngelarung 2.000 benih ikan, dan hiburan rakyat untuk pelestarian budaya dan alam.

TIMES Indonesia,
Ngabumi Pulomajeti ke-8: Dari Ritual Kirab Budaya hingga Larung Ribuan Ikan
Pesona Ngabumi Pulomajeti Ke-8 di Banjar yang Sarat Makna Spiritual. (Foto: Susi/TIMES Indonesia)
A-AA+

BANJAR Gelaran budaya Ngabumi Pulomajeti kembali dilaksanakan untuk kedelapan kalinya. Pada tahun ini, perhelatan tahunan tersebut mengusung tema yang sarat akan makna religius dan filosofis, yaitu "Delapan Pintu Kesadaran Penjaga Arah Keabadian".

​Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Ketua RW 18, Rus Ruhuddin, mengungkapkan bahwa tema tersebut terinspirasi dari jumlah pintu surga yang diyakini dalam nilai spiritual.

Advertisement

​"Di Ngabumi yang ke-8 ini temanya 'Delapan Pintu' yang arti filosofinya, mudah-mudahan merujuk pada 8 pintu surga yang semuanya baik. Harapannya, pelaksanaan Ngabumi kali ini bisa terasa lebih khidmat," ujar Rus saat diwawancarai di Situs Keramat Pulo Majeti, Senin (22/6/2026).

Rangkaian Ritual Adat dan Hiburan

​Acara Ngabumi ke-8 ini mengombinasikan ritual adat yang sakral dengan pesta rakyat. Rangkaian kegiatan sudah dimulai sejak sore hari sebelumnya dan berlangsung padat hingga malam puncak.

Ngabumi Pulomajeti 2
Tradisi Ngalap Berkah, warga berebut hasil bumi yang telah di doakan dalam Ngabumi Pulo Majeti. (Foto: Susi/TIMES  Indonesia)

​Salah satu agenda yang menarik perhatian adalah prosesi ngelarung (melepas) benih ikan ke area Rawa Pulomajeti. Sebanyak kurang lebih 2.000 ekor benih ikan yang merupakan bantuan dari dinas pertanian setempat dilarungkan sebagai simbol pelestarian alam dan rasa syukur.

Advertisement

Penyesuaian Agenda Puncak Acara

​Terkait dengan puncak acara, Rus menjelaskan adanya sedikit perubahan dari rencana awal. Sedianya, prosesi puncak yang biasanya diisi dengan tradisi SEBA akan dihadiri langsung oleh Wali Kota. Namun, karena adanya kendala agenda kedinasan Wali Kota yang harus ke luar daerah, prosesi tersebut terpaksa ditiadakan dan diganti dengan seremoni simbolis yang sudah dilaksanakan sebelumnya.

​"Rencana awal puncak acara itu besok dengan agenda SEBA. Namun karena Pak Wali ada acara di luar, maka SEBA ditiadakan dan tadi hanya dilakukan secara simbolis saja. Jadi, perayaan praktis dimaksimalkan dan selesai sampai nanti malam untuk hiburan rakyatnya," jelas Rus.

​Melalui momentum Hajat Bumi yang ke-8 ini, Rus Ruhuddin berharap agar esensi dari kegiatan ini dapat mempererat silaturahmi sekaligus meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam melestarikan kebudayaan lokal.

​"Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi, dan masyarakat bisa semakin aktif," pungkasnya di tengah terik matahari, sembari tetap menjaga semangat mengawal jalannya acara dengan pakaian adat lengkapnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Sussie
PenulisSussieSarjana Ilmu Politik Stisip Bina Putera Kota Banjar (2011). Bergabung di Times Indonesia sejak 2021. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan hospitality.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia