Advertisement
Peristiwa Daerah

Persaudaraan Jemaah Haji Indonesia Jadi Kekuatan Utama Selama Ibadah di Tanah Suci

Ketua Kloter JKG 25, Taih Sulaiman, menyebut persaudaraan yang terjalin antarsesama jemaah haji Indonesia selama lebih dari 30 hari di Tanah Suci menjadi kekuatan yang membantu kelancaran ibadah.

TIMES Indonesia,
Persaudaraan Jemaah Haji Indonesia Jadi Kekuatan Utama Selama Ibadah di Tanah Suci
Kebersamaan kloter JKG 25 saat akan pulang ke tanah air. (FOTO: Fahmi/MCH 2026)
A-AA+

JAKARTA Lebih dari 30 hari menjalani rangkaian ibadah di Tanah Suci, jemaah haji Indonesia dalam satu kelompok terbang (kloter) tidak hanya disatukan oleh ibadah, tetapi juga oleh ikatan persaudaraan yang semakin erat.

Ketua Kloter JKG 25, Taih Sulaiman, mengatakan kebersamaan yang terjalin selama di Makkah dan Madinah telah menumbuhkan rasa persaudaraan yang kuat di antara para jemaah.

Advertisement

“Sampai saat ini kami beserta para jemaah merasakan persaudaraan yang di atas segala-galanya,” ujar Taih Sulaiman kepada Media Center Haji di Madinah, dikutip Senin (22/6/2026).

Menurutnya, para jemaah saling menghargai dan menjaga satu sama lain. Jemaah yang lebih tua menyayangi yang lebih muda, sedangkan jemaah yang muda menghormati dan membantu para jemaah lanjut usia.

“Jadi, di kloter kami, kinerja para petugas sangat terbantu dengan adanya persaudaraan ini,” kata Taih Sulaiman yang mengaku bersyukur mendapat kesempatan pertama menjadi petugas haji sekaligus dipercaya sebagai ketua kloter.

Ketua Kloter JKG 25 Taih Sulaiman
Ketua Kloter JKG 25 Taih Sulaiman. (FOTO: Fahmi/MCH 2026)

Ia mengungkapkan, selain menjalankan ibadah di Madinah dan Makkah, salah satu momen yang paling dinantikan para jemaah adalah waktu makan, baik sarapan, makan siang, maupun makan malam.

Advertisement

“Semua jemaah merasa jam yang dinanti adalah jam untuk bisa mendapatkan makanan. Meskipun mereka mengistilahkan makanan ini dengan makanan MBG, hal itu menunjukkan betapa layanan tersebut begitu melekat di hati para jemaah,” ungkapnya.

Taih juga berharap aspek istithaah kesehatan bagi calon jemaah haji dapat diperketat pada masa mendatang. Menurutnya, ibadah haji merupakan ibadah yang membutuhkan kondisi fisik yang prima.

“Oleh karena itu, mungkin secara medis, kemampuan untuk melaksanakan ibadah haji harus benar-benar diperiksa saat medical check up (MCU), sehingga seluruh jemaah dapat merasakan nikmatnya beribadah,” ujarnya.

Ia menegaskan, pemeriksaan kesehatan yang optimal akan membuat jemaah dapat menjalankan ibadah dengan lebih nyaman dan maksimal.

“Bukan karena kurang sehat, tetapi mereka dapat menikmati ibadah karena memang berada dalam kondisi fisik yang prima untuk menjalankan aktivitas dan ibadahnya,” tandas Taih Sulaiman. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Ahmad Nuril Fahmi
PenulisAhmad Nuril FahmiSarjana Ilmu Hukum Universitas Bung Karno (UBK) Bergabung dengan TIMES Indonesia dan bertugas di wilayah Jakarta dan sekitarnya sejak 2020. Sudah meliput berbagai isu baik politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis dan peristiwa yang bersifat lokal, nasional, dan internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia