Advertisement
Peristiwa Daerah

Tradisi Nelayan Muncar Banyuwangi Diangkat ke Panggung Akademik Lewat Karya Mâjang Untingan

Tradisi nelayan Muncar Banyuwangi diangkat ke panggung akademik melalui karya "Mâjang Untingan" garapan Achzana Ilhamy, mahasiswa Pascasarjana ISI Surakarta, yang memadukan seni musik dengan budaya pesisir.

TIMES Indonesia,
Tradisi Nelayan Muncar Banyuwangi Diangkat ke Panggung Akademik Lewat Karya Mâjang Untingan
Pementasan Mâjang Untingan karya Achzana Ilhamy sebagai tugas akhir S2 ISI Surakarta. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)
A-AA+

BANYUWANGI Riuh aktivitas nelayan, debur ombak, suara jaring, hingga derit perahu yang biasa terdengar di pesisir Muncar, Banyuwangi, menjelma menjadi sebuah pertunjukan musik yang unik dan sarat makna.

Melalui karya bertajuk "Mâjang Untingan", tradisi dan kehidupan nelayan Muncar diangkat ke panggung akademik sebagai tugas akhir Program Magister Penciptaan Musik Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta oleh Achzana Ilhamy, S.Sn.

Advertisement

Pertunjukan yang digelar di Pelabuhan Muncar, Banyuwangi, Senin (22/6/2026), menjadi berbeda karena tidak berlangsung di ruang tertutup sebagaimana umumnya ujian tugas akhir. Achzana Ilhamy atau yang akrab disapa Ilham memilih menghadirkan karya tersebut langsung di lokasi yang menjadi sumber inspirasinya.

Bagi Ilham, Muncar bukan sekadar latar pertunjukan. Kawasan yang dikenal sebagai salah satu sentra perikanan terbesar di Indonesia itu merupakan ruang hidup yang melahirkan gagasan utama karya "Mâjang Untingan".

"Karya ini lahir dari Muncar. Jadi sangat relevan jika dipentaskan di Pelabuhan Muncar," kata Ilham.

Ia menjelaskan, "Mâjang Untingan" berasal dari bahasa Madura. Mâjang berarti melaut atau bekerja sebagai nelayan, sedangkan Untingan merupakan istilah budaya masyarakat Muncar yang merujuk pada aktivitas menarik jaring ke atas perahu sambil melantunkan nyanyian kerja yang dikenal sebagai Untingan atau Caca'an.

"Dalam karya ini saya tidak hanya berbicara tentang penciptaan seni, tetapi juga memformulasikan model pertunjukan yang nantinya bisa ditinggalkan dan dikembangkan oleh masyarakat pesisir Muncar," jelasnya.

Advertisement

Dalam proses penciptaannya, Ilham mengolah berbagai elemen kehidupan nelayan menjadi sumber bunyi musikal. Suara ombak, pola kerja kolektif saat melaut, timba, drum wadah ikan, jaring, rantai besi, hingga perahu nelayan menjadi bagian dari komposisi yang disusun secara artistik.

Nelayan Muncar Banyuwangi 2
Tim penguji dan tamu undangan saat kepincut pertunjukan Mâjang Untingan. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)

Karya tersebut memadukan instrumen tradisional Banyuwangi seperti bonang reong, kendang Banyuwangi, biola, dan terbang kuntulan dengan bunyi-bunyian yang lahir dari aktivitas keseharian nelayan.

Menariknya, para nelayan tidak hanya menjadi objek cerita, tetapi juga terlibat langsung sebagai pelaku utama pertunjukan. Selain komunitas seni, anak-anak nelayan dan tokoh masyarakat pesisir Muncar turut ambil bagian sehingga menghadirkan suasana yang autentik.

Ujian tugas akhir tersebut dinilai oleh tim penguji yang terdiri atas Dr. Aries Budi Marwanto, S.Sn., M.Sn., Dr. Aris Setiawan, S.S., M.Sn., dan Dr. Zulkarnain Mistortoify, M.Hum., yang juga bertindak sebagai pembimbing.

Sejumlah tamu undangan turut hadir menyaksikan pertunjukan tersebut, di antaranya Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi sekaligus Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi Alfian, Ketua Dewan Kesenian Blambangan Hasan Basri, para seniman, tokoh masyarakat, serta masyarakat umum.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Banyuwangi, Hasan Basri, mengapresiasi karya tersebut karena dinilai menjadi upaya penting dalam menjaga dan mewariskan budaya nelayan kepada generasi mendatang.

"Kami bersyukur dan mengapresiasi karya Mas Ilham karena dapat mempertahankan budaya yang ada di kalangan nelayan, khususnya di wilayah Muncar, agar bisa diwariskan kepada anak cucu," ujarnya.

Menurut warga Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, itu, "Mâjang Untingan" tidak hanya menampilkan unsur seni, tetapi juga merekam nilai kebersamaan dan semangat gotong royong masyarakat nelayan.

"Di dalam Mâjang Untingan ada makna kebersamaan dan gotong royong. Saat menarik jaring sambil melantunkan Caca'an, itu bukan hanya pekerjaan, tetapi juga cara menghilangkan kejenuhan dan memperkuat kekompakan di antara nelayan," ungkapnya.

Melalui "Mâjang Untingan", tradisi nelayan Muncar tidak hanya dihadirkan kembali dalam bentuk pertunjukan, tetapi juga diposisikan sebagai ruang refleksi budaya yang hidup di tengah masyarakat pesisir.

Karya tersebut diharapkan dapat terus berkembang menjadi identitas budaya yang mengakar sekaligus memperkuat posisi Muncar sebagai salah satu pusat kehidupan nelayan di Banyuwangi. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Muhamad Ikromil Aufa
PenulisMuhamad Ikromil AufaPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2024. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia