Advertisement
Peristiwa Daerah

Penjagal Jamur Zombi Ditemukan di Kalimantan

Ilmuwan Malaysia menemukan jamur langka di Kalimantan yang memangsa jamur zombi. Temuan unik ini berpotensi membuka peluang baru bagi pengembangan obat dan pengendalian hama alami.

TIMES Indonesia,
Penjagal Jamur Zombi Ditemukan di Kalimantan
Tim peneliti dari Universiti Malaysia Sabah (UMS) telah menemukan spesies jamur baru berbentuk tanduk di Kawasan Konservasi Lembah Danum di Lahad Datu, Malaysia. (Foto: Dok. Universiti Malaysia Sabah)
A-AA+

JAKARTA Hutan hujan Kalimantan kembali menghadirkan kejutan bagi dunia sains. Tim peneliti dari Malaysia berhasil mengidentifikasi spesies jamur yang belum pernah tercatat sebelumnya dan memiliki peran unik dalam rantai kehidupan mikro di alam. Alih-alih menyerang serangga seperti kebanyakan jamur parasit, organisme ini justru memburu jamur lain yang dikenal luas sebagai “jamur zombi”.

Spesies tersebut diberi nama Pleurocordyceps cornusynnemata, sebuah jamur hiperparasit yang hidup dengan memangsa parasit lain. Keunikan inilah yang menjadikannya temuan langka dalam dunia mikologi. Para ilmuwan menyebut spesies ini sebagai penemuan perdana dalam kelompoknya karena memiliki bentuk fisik yang sangat khas, menyerupai tanduk yang mencuat dari tubuh inangnya.

Advertisement

Penelitian dilakukan oleh tim dari Institut Biologi Tropis dan Konservasi, Universitas Malaysia Sabah, saat menjelajahi kawasan Lembah Danum di Sabah, wilayah utara Pulau Kalimantan yang dikenal sebagai salah satu hutan tropis paling kaya keanekaragaman hayati di dunia. Hasil riset tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Phytotaxa pada April 2026.

Memangsa Sang Pengendali Serangga

Wakil Direktur Institut Biologi Tropis dan Konservasi, Jaya Seelan Sathiya Seelan, menjelaskan bahwa jamur baru tersebut berkembang pada semut yang sebelumnya telah terinfeksi jamur dari kelompok Ophiocordyceps.

Kelompok Ophiocordyceps dikenal luas dengan julukan “jamur zombi” karena kemampuannya mengambil alih perilaku serangga. Setelah menginfeksi tubuh inang, jamur tersebut mengendalikan gerakan korbannya sebelum akhirnya membunuh dan memanfaatkan tubuh serangga untuk menyebarkan spora baru.

Namun, Pleurocordyceps cornusynnemata menjalankan strategi berbeda. Spesies ini menyerang jamur zombi yang sedang tumbuh di dalam tubuh serangga dan memanfaatkan jaringan jamur tersebut sebagai sumber makanannya.

“Berbeda dengan jamur zombi yang memanipulasi perilaku serangga, Pleurocordyceps justru menyusup dan memakan jaringan jamur zombi yang sedang berkembang biak di dalam tubuh serangga tersebut,” jelas Seelan.

Advertisement

Temuan ini menunjukkan bahwa di alam terdapat mekanisme pengendalian biologis yang kompleks, di mana predator tidak selalu memangsa hewan, tetapi juga dapat menargetkan organisme parasit lainnya.

Meski fenomena hiperparasitisme bukan hal baru dalam dunia biologi, para peneliti menegaskan bahwa spesies ini memiliki karakter yang belum pernah ditemukan sebelumnya.

Bentuk tubuhnya yang menyerupai tanduk menjadi ciri pembeda utama sekaligus inspirasi penamaan spesies tersebut. Struktur unik itu menjadikan Pleurocordyceps cornusynnemata berbeda dari seluruh anggota kelompok serupa yang pernah tercatat dalam literatur ilmiah.

Temukan Pula Pembunuh Laba-Laba

Dalam ekspedisi yang sama, para ilmuwan juga mengidentifikasi spesies baru lainnya bernama Leptobacillium geminatum. Jamur ini memiliki metode berburu yang tidak kalah menarik karena mampu menginfeksi laba-laba melalui penyebaran spora yang kemudian berkembang di seluruh tubuh inangnya hingga menyebabkan kematian.

Kedua spesies tersebut diyakini menyimpan potensi besar bagi berbagai bidang penelitian, terutama kesehatan dan pertanian.

“Jamur-jamur yang baru didokumentasikan ini bisa menjadi bahan dasar pengembangan obat antimikroba generasi mendatang, serta berfungsi sebagai agen pengendali hayati yang sangat efektif untuk membasmi hama tanaman pertanian,” tambah Seelan.

Penemuan tersebut kembali memperlihatkan bahwa hutan tropis Kalimantan masih menjadi laboratorium alam yang menyimpan banyak spesies belum dikenal. Di balik lebatnya vegetasi dan ekosistem yang kompleks, masih tersimpan berbagai organisme unik yang berpotensi membuka jalan bagi inovasi ilmiah dan teknologi masa depan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Hendarmono Al Sidarto
PenulisHendarmono Al SidartoSarjana Agronomi Universitas Muhammadiyah Malang (1988). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2021. Memiliki minat khusus dalam peliputan berita ekonomi.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia