Shaun the Sheep Versi Lokal, Hasil Persilangan Lokal Peternak Bondowoso
Sumo, domba hasil persilangan Texel F1 dan Suffolk di Bondowoso, tampil gemuk dan berbulu putih lebat. Bobot 45 kg di usia 6 bulan, dijuluki Shaun the Sheep lokal. Wabup As'ad Yahya terpikat.
BONDOWOSO – TIMESINDONESIA, BONDOWOSO – Seekor cempe bernama Sumo sukses mencuri perhatian pengunjung dalam Ekspo Ternak Bondowoso 2026. Penampilannya yang berbulu putih lebat, bersih, dan bertubuh tambun membuat banyak orang menjulukinya sebagai "Shaun the Sheep versi lokal."
Di balik penampilannya yang menggemaskan, Sumo ternyata merupakan hasil eksperimen persilangan dua ras domba unggulan, yakni Texel F1 dan Suffolk, yang dilakukan oleh Komunitas Peternak Domba Muda Milenial Wringin-Pakem.
Pemilik Sumo, Sunjoyo, mengatakan persilangan tersebut menjadi percobaan pertama yang dilakukan komunitasnya untuk menghasilkan domba dengan kualitas genetika yang lebih baik.
"Eksperimen pertama kali," ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (25/6/2026) lalu saat secara Exponak.
Hasilnya di luar dugaan. Pada usia yang baru menginjak enam bulan, Sumo sudah memiliki postur tubuh jauh lebih besar dibandingkan cempe seusianya.
Sunjoyo menjelaskan, bobot rata-rata cempe berusia enam bulan umumnya hanya berkisar 25 hingga 30 kilogram. Namun, Sumo telah mencapai berat sekitar 40 hingga 45 kilogram.
Tak hanya itu, Sumo juga memiliki ciri fisik yang jarang ditemukan pada domba seusianya. Kerutan di bagian tubuh yang biasanya baru muncul ketika domba berumur lebih dari satu tahun, sudah tampak jelas pada Sumo.
"Ini cempe sudah ada kerutannya," jelas pria asal Kelurahan Dabasah, Kecamatan Bondowoso tersebut.
Ia menduga Sumo merupakan hasil persilangan pertama di Bondowoso dengan karakteristik seperti itu, bahkan belum tentu ada di daerah lain.
Untuk mempertahankan penampilannya, Sunjoyo memberikan perawatan ekstra. Sumo rutin dimandikan menggunakan air hangat, sampo, serta diberi minyak zaitun agar bulunya tetap bersih, lembut, dan lurus.
Sementara untuk pakan, perlakuannya tidak jauh berbeda dengan domba penggemukan pada umumnya. Sumo mengonsumsi rumput, jagung, dan ampas yang diberikan dua hingga tiga kali setiap hari.
"Diberi makan dua sampai tiga kali sehari, tergantung kebutuhan," urainya.
Meski sedang dalam masa penggemukan, Sumo tetap diajak berolahraga. Sunjoyo rutin membawanya berlari agar stamina dan kondisi tubuhnya tetap prima.
Ada pengalaman unik yang sering dialami saat membawa Sumo berjalan-jalan. Dengan bulu putih tebal dan tubuh yang bersih, banyak orang justru mengira ia sedang menuntun seekor anjing. Dari belakang, penampilan Sumo memang sekilas menyerupai Anjing Gunung Pyrenean.
"Kami kalau sudah keluar kadang takut, karena dikira membawa anjing," terangnya sembari tertawa.
Meski telah menarik perhatian banyak orang, Sunjoyo mengaku belum memiliki rencana menjual Sumo. Ia bersama komunitasnya masih ingin mengembangkan sekaligus memantau potensi hasil persilangan tersebut. "Belum dijual dulu," tambahnya.
Karena itu, Sumo sengaja dihadirkan dalam Ekspo Ternak Bondowoso 2026 sebagai bukti bahwa peternak lokal mampu menghasilkan bibit domba unggul melalui inovasi persilangan.
Keunikan Sumo bahkan membuat Wakil Bupati Bondowoso, As'ad Yahya Syafi'i, terpikat. Ia mengaku sempat berniat memelihara domba tersebut setelah melihat langsung karakteristiknya yang berbeda dari domba pada umumnya. "Jadi ingin memelihara, tapi ternyata tidak dijual," ujarnya.
Menurutnya, kehadiran Sumo menjadi gambaran bahwa Ekspo Ternak tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana memperkenalkan inovasi peternak sekaligus meningkatkan kualitas genetika ternak di Bondowoso.
“Ini adalah langkah kita untuk meningkatkan kualitas genetika," pungkasnya.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


