Sebulan Menyusun Ribuan Garis, Heri Catur Buktikan Sederhana Bisa Bernilai Tinggi
Guru seni asal Malang, Heri Catur Prasetya, mengubah teknik menggambar yang digunakan di kelas menjadi karya seni bermakna yang dipamerkan dalam Art Meru Gallery 2026.
MALANG – TIMES INDONESIA, MALANG – Di balik karya yang dipamerkan pada Art Meru Gallery 2026, tersimpan kisah sederhana dari seorang guru seni yang setiap hari mengajarkan cara menggambar kepada anak-anak. Teknik yang awalnya hanya menjadi metode pembelajaran di kelas itu justru berkembang menjadi karya seni yang kini menghiasi ruang pamer.
Seniman asal Malang, Heri Catur Prasetya, mengaku tidak pernah merancang teknik tersebut khusus untuk kebutuhan pameran. Semuanya berawal dari kebiasaannya mengajar menggambar menggunakan teknik kurva tertutup, yakni metode sederhana yang memudahkan siswa memahami bentuk melalui rangkaian garis yang saling menyambung.
“Awalnya ini memang saya pakai untuk mengajar. Lama-lama saya merasa tertarik menuntaskannya menjadi karya yang layak dipamerkan. Saya ingin menunjukkan kepada anak-anak didik bahwa sesuatu yang terlihat sederhana ternyata bisa menjadi karya seni,” ujar Heri, Sabtu (27/6/2026).
Baginya, teknik tersebut bukan sekadar media mengajar, melainkan ruang eksplorasi sebagai seorang perupa. Di sela kesibukannya sebagai pengajar, Heri terus mengembangkan berbagai kemungkinan baru dari pola garis yang terus berulang hingga melahirkan komposisi yang utuh.
Proses kreatif tersebut tidak berlangsung singkat. Untuk menghasilkan satu karya berukuran A4, ia membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Pengerjaannya dilakukan sedikit demi sedikit, menyesuaikan waktu luang setelah mengajar.
“Kalau dikerjakan terus seharian mungkin satu setengah hari selesai. Tapi karena saya mengajar, biasanya saya lanjut malam atau akhir pekan. Jadi satu karya bisa menghabiskan waktu sekitar satu bulan,” ungkapnya.
Keunikan karya Heri terletak pada ribuan garis kecil yang disusun secara konsisten hingga membentuk visual yang utuh. Ia sengaja mempertahankan setiap jejak garis sebagai bagian dari pesan yang ingin disampaikan kepada penikmat seni.
Menurutnya, karya tersebut bukan sekadar menghadirkan bentuk visual, melainkan refleksi tentang kehidupan. Bahwa sesuatu yang besar tidak selalu lahir dari langkah yang spektakuler, melainkan dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten dan penuh ketekunan.
“Ini sebenarnya kumpulan dari kesederhanaan. Garis kecil yang diulang terus sampai akhirnya menjadi sesuatu. Hidup juga begitu. Tidak perlu melakukan hal yang aneh-aneh. Apa yang kita miliki, kalau ditekuni dan dijalani dengan konsisten, suatu saat akan menjadi sesuatu yang bernilai,” ucapnya.
Melalui karya yang dipamerkan pada Art Meru Gallery 2026, Heri tak hanya menghadirkan estetika visual, tetapi juga menitipkan pesan tentang kesabaran, konsistensi, dan keyakinan bahwa proses panjang dari hal-hal sederhana mampu melahirkan karya yang bermakna.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


