Ritual Penyekaran Agung 12 Suro dan Selamatan di Pesarean Gunung Kawi Malang
Ritual 12 Suro di Pesarean Gunung Kawi, Malang, peringatan haul Eyang Jugo. Pengelola Yayasan Ngesti Gondo: 500 peziarah dari berbagai daerah. Fasilitas selamatan/nazar mulai Rp130 ribu hingga Rp15 juta.
MALANG – MALANG - Wisata ritual Pesarean Gunung Kawi yang ada di kecamatan Wonosari Kabupaten Malang sangat dikenal masyarakat. Terlebih, saat bulan Muharram atau Suro dalam kalender Jawa, kawasan wisata ritual ini menjadi jujugan para pengunjung dari berbagai daerah.
Pusat dari kawasan wisata ritual Gunung Kawi ini adalah Pesarean yang diyakini tempat bersemayam atau petilasan Raden Mas Iman Soedjono, dikenal Mbah Eyang Jugo. Nama lain di pesarean ini, diyakini sebagai Kiai Zakariya.
Selain perayaan 1 Suro, agenda ritual di Pesarean Gunung Kawi rurin digelar setiap 12 Suro, seperti bertepatan hari ini, Sabtu (27/6/2026).
Secara khusus, ritual yang dilakukan masyarakat setempat dengan membawa tumpeng atau lainnya, menuju pesarean Eyang Jugo.
Pengelolaan Yayasan Ngesti Gondo
Pesarean Gunung Kawi Kabupaten Malang diyakini ada mulai 1871. Di area pesarean ini, keberadaan Yayasan Ngesti Gondo di Pesarean Gunung Kawi sangat signifikan.
Yayasan ini menjadi pengelola penuh aera Pesarean Gunung Kawi, yang mencakup mulai dari area pesarean paling atas dibatasi gapura masuk pesarean sampai area parkiran.
Keberadaan Yayasan Ngesti Jugo, kata Tya, sangat terkait dengan pesarean Mbah Jugo. Ini karena para pengelolanya terhitung masih keturunan Mbah Raden Mas Iman Soedjono.
"Juru kunci pesarean sekarang ini sekaligus Ketua Yayasan Ngesti Gondo. Beliau itu masih keturunan, keturunannya dari Mbah Iman Soedjono. yang dimakamkan di pesarean. Yang jadi juru kunci sekarang, Ketua Yayasan ada Haji Candra Yana namanya. Beliau Ketua Yayasan dan juru kunci di Pesarean Gunung Kawi," terangnya.
Bawaan Peziarah: Hajat Selamatan
Di bawah area Pesarean Mbah Jugo, terdapat rumah makan milik Yayasan Ngesti Gondo. DI sebelahnya, ada loket yang menyajikan daftar makanan yang bisa dibawa peziarah untuk nazar mereka.
Menurut Tya, loket itu melayani pemesanan selamatan atau nazar pengunjung atau peziarah pesarean Mbah Jugo sebagai sarana buat berdoa.
"Itu sebagai sarana nazar. Terkadang itu, katanya banyak tamu-tamu yang berhasil dari sini, kemudian mereka (peziarah) beli bawaan selamatan. Kalau kita orang Jawa iku kenduren. Jadi, sebagai bentuk syukuran (keberhasilan)," ungkap Tya.
Namun demikian, ia menampik jika bawaan yang dipesan para peziarah sebagai sarana sesajen selamatan yang menjadi syarat masuk untuk berdoa di pesarean Mbah Jugo.
"Pengunjung bilang, "Saya mau beli selamatan, nanti buat sarana untuk berdoa, biar saya ini diberkahi." Istilahnya itu dianggap amal kebaikannya. Jadi, beli selamatan dan nanti dimakan bersama," terangnya.
Dari daftar bahan selamatan yang disediakan, dibandrol harga mulai ratusan ribu rupiah, sampai puluhan jutan.
"Mulai Rp 130.000, ada ayam besek. Yang paling mahal untuk ruwatan, Wayang ruwatan itu kurang lebih Rp 15 juta," kata Tya.
Sebagai pihak yang mengelola area Pesarean Eyang Jugo, maka semua menjadi hak Yayasan Ngesti Gondo.
"Ya, kan mulai belanja bahan. Ibaratnya, yayasan ini kan yang mengelola, mengurusi semua. Nanti keuntungannya itu buat operasional di yayasan Pesarean Gunung Kawi, buat bayar gaji, buat bayar pajak, semuanya. Juga, untuk membantu warga sekitar yang membutuhkan. Juga ada acara apa pun di sunu, kita dari pihak yayasan pasti support (membantu)," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


