Kisah Yurniati, Srikandi Jemparingan Banjar: Raih Prestasi Porsenitas demi Lestarikan Warisan Budaya
Yurniati, Kabid PPPA Dinsos Kota Banjar, meraih medali perak dan perunggu cabang Jemparingan di Porsenitas. Ia membidik level nasional sekaligus melestarikan budaya panahan tradisional.
BANJAR – Persaingan ketat hingga tembakan terakhir mewarnai gelaran Pekan Olahraga dan Seni Antardaerah Wilayah Perbatasan (Porsenitas) tahun ini.
Di tengah sengitnya kompetisi, Yurniati, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Dinas Sosial Kota Banjar, sukses menorehkan prestasi gemilang di cabang olahraga panahan tradisional Jemparingan.
Keberhasilan Yurniati membawa pulang medali perak dan perunggu tidak diraih dengan mudah. Ia mengungkapkan bahwa peta persaingan antardaerah perbatasan tahun ini jauh lebih merata dan kompetitif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Banyak peserta yang sudah meningkat dari sisi teknik dan konsistensi, sehingga selisih skor menjadi sangat tipis," ujar Yurniati saat diwawancarai usai menerima penghargaan langsung dari Wali Kota Ir H Sudarsono, Senin (29/6/2026).
Menurutnya, tekanan terbesar justru datang dari daerah-daerah yang memiliki tradisi kuat dalam olahraga Jemparingan, serta para atlet yang memiliki stabilitas mental matang pada babak-babak akhir.
Namun, ia menegaskan bahwa tidak ada satu lawan pun yang mendominasi. Persaingan benar-benar rapat dan menegangkan hingga busur terakhir dilepaskan.
Dedikasi untuk Kota Banjar dan Keluarga
Prestasi manis di ajang Porsenitas Jawa Barat ini tidak membuat Yurniati lupa diri. Ia mendedikasikan kemenangan tersebut kepada pihak-pihak yang selama ini menjadi sistem pendukung utamanya.
"Kemenangan ini paling tepat didedikasikan untuk keluarga yang mendukung secara langsung, serta Dinas Sosial P3A yang memberi ruang dan fasilitas pembinaan. Tidak terlepas juga untuk Kota Banjar sebagai daerah yang saya wakili, karena prestasi ini merupakan hasil dari proses dan dukungan kolektif," ungkapnya haru.
Menghidupkan Minat Generasi Muda dan Filosofi Jemparingan
Sebagai peraih medali, Yurniati juga menyoroti perkembangan olahraga panahan di kalangan generasi muda. Ia melihat adanya tren peningkatan minat, meski penyebarannya belum merata. Panahan kini mulai dilirik karena dapat menjadi olahraga prestasi maupun rekreasi.
Namun, ia menyayangkan masih banyak anak muda yang belum mengenal Jemparingan. Padahal, panahan tradisional ini bukan sekadar olahraga, melainkan warisan budaya yang kaya akan nilai teknis dan filosofis.
"Tantangannya ada pada akses latihan, pembinaan yang konsisten, dan eksposur. Jika fasilitas dan komunitasnya berkembang, minat generasi muda biasanya ikut tumbuh," jelas Yurniati.
Bagi generasi muda atau pemanah pemula yang ingin menekuni Jemparingan dan mencetak prestasi serupa, Yurniati membagikan sejumlah kiat penting.
"Kuasai fondasi dasar. Fokus pada postur tubuh, pengaturan napas, dan konsistensi gerakan. Jemparingan sangat bergantung pada kestabilan fisik, bukan sekadar kekuatan otot.
Bangun memori otot melalui latihan rutin, meskipun sederhana, agar tubuh terbiasa dengan ritme memanah.
Kendalikan mental dan jangan terburu-buru mengejar hasil akhir. Dalam Jemparingan, ketenangan jiwa jauh lebih menentukan daripada tenaga yang besar," bebernya.
Membidik Panggung Nasional dan Misi Pelestarian Budaya
Ajang Porsenitas bukanlah akhir dari perjalanan Yurniati. Baginya, medali ini justru menjadi bahan bakar baru untuk melangkah ke tingkat yang lebih tinggi.
Ia memasang target untuk terus mengasah kemampuannya agar bisa menembus kejuaraan tingkat regional hingga nasional.
Di samping target pribadi untuk mengharumkan nama Kota Banjar, Yurniati juga membawa misi sosial.
"Saya berharap dapat ikut berkontribusi dalam melestarikan budaya Jemparingan dan membantu mencetak atlet-atlet muda yang bertalenta," pungkasnya.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


