Advertisement
Peristiwa Daerah

100 Tahun Gontor: Menilik Falsafah Sepakbola sebagai Pondasi dan Pemersatu Santri

Sepak bola bukan sekadar olahraga di Gontor. KH Hasan Abdullah Sahal mengungkap sejarah dan filosofi sepak bola sebagai media pembentuk karakter, disiplin, dan persaudaraan para santri.

TIMES Indonesia,
100 Tahun Gontor: Menilik Falsafah Sepakbola sebagai Pondasi dan Pemersatu Santri
Pimpinan PMDG KH Hasan Abdullah Sahal bersama TIMES Indonesia usai final Super Copa 100 Tahun Gontor. (Foto:Marhaban/TIMES Indonesia)
A-AA+

PONOROGO Gema peluit panjang tanda berakhirnya turnamen akbar Super Copa 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) boleh saja telah usai. Gempita di lapangan hijau mungkin mulai mereda, namun bagi Gontor, urusan mengolah si kulit bundar tidak akan pernah menemui titik akhir. Olahraga paling merakyat ini memiliki akar sejarah dan nilai filosofis yang sangat mendalam dalam sejarah berdirinya pondok.

Pimpinan PMDG, KH Hasan Abdullah Sahal, mengungkapkan sebuah fakta sejarah yang menarik. Putra pendiri PMDG, KH Ahmad Sahal, ini menegaskan bahwa tiang-tiang peradaban Gontor secara tidak langsung ikut dipancangkan dari sebuah lapangan sepak bola.

Advertisement

"Bapak saya adalah pemain sepak bola, dan juga saya," tutur Kiai Hasan Abdullah Sahal saat berbincang hangat dengan TIMES Indonesia.

Bagi Kiai Hasan Abdullah Sahal, untaian sejarah tersebut bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan sebuah warisan semangat. Keterikatan emosional para pendiri pondok dengan sepak bola telah membentuk karakter Gontor yang dinamis, disiplin, dan tangguh menghadapi zaman.

Di balik pertandingan selama 2 × 45 menit, Kiai Hasan Abdullah Sahal melihat nilai-nilai kepesantrenan yang hidup di dalamnya. Lapangan hijau merupakan miniatur kehidupan sekaligus laboratorium pembentukan mental bagi para santri. Sepak bola di Gontor bukan sekadar mencetak gol ke gawang lawan, melainkan seni mengolah rasa, strategi, dan ego.

"Sepak bola itu bukan sekadar aktivitas fisik atau mengejar kemenangan," jelas Kiai Hasan Abdullah Sahal mengenai falsafah olahraga tersebut. "Di dalamnya ada pelajaran tentang kebersamaan, kepatuhan terhadap aturan, serta penghormatan kepada kawan maupun lawan. Ini adalah seni mengendalikan diri."

Lebih jauh, Kiai Hasan Abdullah Sahal menekankan peran krusial sepak bola sebagai medium perekat ukhuwah (persaudaraan). Di lembaga pendidikan yang menampung ribuan santri dari berbagai latar belakang suku, bahasa, dan negara ini, sepak bola hadir menjadi bahasa universal yang meruntuhkan sekat-sekat perbedaan.

Advertisement

"Ia adalah pemersatu santri. Saat berada di lapangan, tidak ada lagi latar belakang daerah asal. Semua melebur menjadi satu kesatuan tim yang memiliki satu tujuan. Di sinilah letak kekuatan sepak bola di Gontor: menyatukan hati melalui kerja sama," tegas Pimpinan PMDG KH Hasan Abdullah Sahal.

Turnamen Super Copa 100 Tahun Gontor boleh saja menjadi catatan sejarah yang manis dalam perayaan satu abad pondok. Namun, warisan nilai dan falsafah sepak bola yang diajarkan akan terus hidup, mengalir dalam urat nadi para santri, serta menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah panjang Pondok Modern Darussalam Gontor.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

M. Marhaban
PenulisM. MarhabanSekolah Tinggi Publisistik (STP) Jakarta, KLW PWI Jawa Timur 1999. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2019, meliput berbagai topik, termasuk Politik, Hukum, Olahraga, Budaya, dan Pemerintahan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia