Turunkan Emisi Tanpa Ganti Kendaraan, Inovasi Ini Jadi Solusi Transisi Energi
Mantan pegawai PLN mengembangkan teknologi penurun emisi kendaraan BBM. Inovasi ini menjadi solusi transisi energi yang lebih terjangkau tanpa harus membeli mobil listrik.
BANDUNG –
Di tengah ambisi Indonesia mencapai Net Zero Emission (NZE), transisi menuju kendaraan listrik kerap dipandang sebagai solusi utama untuk menekan emisi karbon. Pemerintah menggelontorkan berbagai insentif, sementara produsen otomotif dunia berlomba memasuki pasar nasional dengan menghadirkan beragam kendaraan listrik.
Namun, di balik optimisme tersebut muncul pertanyaan yang tak kalah penting: apakah seluruh masyarakat Indonesia memiliki kemampuan untuk langsung beralih ke mobil listrik?
Bagi Faiz Saefullah, mantan pegawai PT PLN (Persero) yang kini berwirausaha, jawabannya sederhana: belum tentu. Menurutnya, jutaan masyarakat masih bergantung pada kendaraan berbahan bakar minyak (BBM), sehingga solusi pengurangan emisi seharusnya juga dapat dinikmati oleh mereka.
Alih-alih mendorong masyarakat mengganti kendaraan dengan teknologi baru yang relatif mahal, Faiz memilih mengembangkan sistem penurun emisi untuk kendaraan BBM yang hingga kini masih mendominasi jalan raya Indonesia.
"Saya tidak anti mobil listrik. Namun fokus kami adalah membantu masyarakat yang masih menggunakan kendaraan konvensional agar tetap bisa berkontribusi menurunkan emisi tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk membeli kendaraan baru. Kendaraan yang sudah ada masih bisa ditingkatkan melalui pembaruan teknologi," ujar Faiz, Rabu (1/7/2026).
Melihat Peluang dari 127 Juta Kendaraan
Keputusan Faiz mengembangkan teknologi tersebut berangkat dari analisis yang matang. Sebelum mengambil pensiun dini dari PT PLN pada 2021, ia telah lama berkecimpung di bidang teknologi informasi dan ketenagalistrikan.
Kini aktif di Asosiasi CEO Mastermind Indonesia (ACMI) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Barat, Faiz melihat peluang besar yang belum banyak digarap.
Berdasarkan data yang dihimpun perusahaannya di Bandung, Indonesia memiliki lebih dari 127 juta kendaraan bermotor. Sekitar 29 juta unit di antaranya merupakan kendaraan roda empat atau lebih yang masih menggunakan BBM. Sementara populasi kendaraan listrik bahkan belum mencapai satu persen dari total kendaraan nasional.
Bagi Faiz, fakta tersebut menunjukkan bahwa kendaraan konvensional masih akan mendominasi dalam beberapa tahun ke depan sehingga membutuhkan solusi transisi yang realistis.
"Esensi target penurunan emisi bukan semata mengganti kendaraannya, tetapi bagaimana emisi gas buangnya bisa ditekan," jelasnya.
Berawal dari Riset, Berujung Solusi
Teknologi penurun emisi yang dikembangkan Faiz bukan hasil instan. Penelitian dimulai sejak 2017 dan mengalami lompatan besar pada akhir 2024 melalui penyempurnaan teknologi resonansi, stabilizer, dan sistem berbasis mikrokontroler (microcontroller).
Teknologi tersebut dapat diterapkan pada berbagai mesin berbahan bakar fosil, mulai dari genset, pembangkit listrik skala kecil, alat berat, truk logistik, bus, kendaraan niaga, hingga kendaraan pribadi roda dua maupun roda empat.
Inovasi ini bahkan sempat menarik perhatian salah satu anak perusahaan PLN, yakni PT Indonesia Power, pada 2024. Meski implementasi di sektor industri sempat tertunda karena tingginya permintaan pasar ritel, hingga kini lebih dari 350 kendaraan telah menggunakan sistem tersebut.
Menurut Faiz, manfaat paling nyata dirasakan pemilik kendaraan lama yang sebelumnya gagal memenuhi standar uji emisi.
"Ada kendaraan yang sebelumnya dinyatakan tidak layak beroperasi karena gagal uji emisi. Setelah dipasang alat ini, emisi gas buangnya turun signifikan sehingga kembali dinyatakan layak jalan," ungkapnya.
Menjembatani Transisi Energi
Faiz mengakui tantangan terbesar datang dari persaingan produk impor dan regulasi yang ketat. Namun, kondisi tersebut justru mendorongnya semakin percaya diri mengembangkan inovasi dalam negeri.
"Ketika kami melihat produk dari China, Rusia hingga Inggris dapat masuk ke Indonesia dengan relatif mudah melalui skema perdagangan bebas, kami semakin yakin bahwa produk lokal juga harus berani tampil dan bersaing," katanya.
Untuk memperluas pasar, perusahaan Faiz kini memperkuat strategi pemasaran digital. Dalam proses tersebut, ia juga melibatkan siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) maupun menyusun tugas akhir.
Bagi Faiz, inovasi yang dikembangkannya bukan sekadar alat penurun emisi kendaraan. Lebih dari itu, teknologi tersebut diharapkan menjadi jembatan transisi energi yang lebih adil, ekonomis, dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa harus menunggu semua orang mampu beralih ke kendaraan listrik.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


