Advertisement
Peristiwa Daerah

Pameran Lukisan "MBG", Merayakan Seni dan Satir Lewat Kebebasan Berkarya

Melalui bahasa visual yang beragam, para pelukis menyampaikan pandangan, kritik, harapan, hingga refleksi terhadap realitas sosial yang sedang dihadapi bangsa.

TIMES Indonesia,
Pameran Lukisan "MBG", Merayakan Seni dan Satir Lewat Kebebasan Berkarya
Menikmati karya para perupa dalam pameran lukisan MBG di Galeri Merah Putih Balai Pemuda Surabaya, Rabu (1/7/2026).(Foto : Lely Yuana/TIMES Indonesia)
A-AA+

SURABAYA Aksi Seniman Surabaya (ASSU) kembali menghadirkan pameran lukisan di Galeri Merah Putih, Balai Pemuda Surabaya. Pameran kali ini berlangsung mulai 30 Juni hingga 5 Juli 2026.

MBG menjadi tema besar dalam etalase karya para perupa lintas generasi tersebut. Tapi, MBG ini bukan singkatan dari isu kebijakan Makan Bergizi Gratis yang tengah ramai menjadi perbincangan publik, melainkan kepanjangan dari 'Melukis Bebas Guys'. 

Advertisement

"Para seniman menghadirkan tafsir yang berbeda melalui sebuah pameran seni," terang Muit Arsa, Ketua ASSU, Rabu (1/7/2026).

Lewat pameran tersebut, Muit mengajak para perupa untuk tetap bebas berekspresi, berpikir kritis, dan terus berkarya.

Judul MBG alias 'Melukis Bebas Guys' dipilih sebagai permainan kata sekaligus sindiran satir terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi akibat penyalahgunaan amanah oleh oknum-oknum yang diberi kepercayaan mengelola kepentingan publik.

Melalui bahasa visual yang beragam, para pelukis menyampaikan pandangan, kritik, harapan, hingga refleksi terhadap realitas sosial yang sedang dihadapi bangsa.

"Seni hadir bukan untuk menghakimi, melainkan menjadi ruang dialog yang mengajak masyarakat berpikir lebih kritis dan arif," jelasnya.

Advertisement

Pameran ini juga bertujuan membangkitkan semangat seluruh pelukis agar terus produktif berkarya dan aktif berpameran sebagai wujud eksistensi sekaligus kontribusi nyata bagi kemajuan seni rupa, khususnya di Kota Surabaya.

ASSU atau Aksi Seniman Surabaya sendiri merupakan sebuah komunitas yang konsisten menggerakkan ekosistem seni rupa di Surabaya dan sekitarnya. 

Sebelumnya, ASSU sukses menginisiasi pameran "ART For Freedom", sebuah gerakan solidaritas seniman ketika ruang pamer seni di Balai Pemuda menghadapi rencana pengosongan yang berakhir happy ending , artinya sebuah kemenangan bagi seniman Surabaya.  

Semangat kebersamaan tersebut kini kembali diwujudkan melalui pameran MBG: Melukis Bebas Guys.

Pameran diikuti oleh puluhan perupa dari Kota Surabaya dan sekitarnya dengan menampilkan beragam aliran dan karakter visual, mulai dari realisme, ekspresionisme, surealisme, abstrak, hingga gaya-gaya kontemporer lainnya.

Seniman Cak Har mengusung lukisan berjudul Maha Guru. Pelukis aliran realis ini menyuguhkan goresan segerombolan singa yang tunduk menjabat tangan seorang wali. 

Perupa Nini Sumini membawa karya bertajuk Raja Hutan, Ani Hasan mengusung karya berjudul Racun MBG berupa goresan relief makan bergizi.

Perupa Jiyu tampil dengan karyanya Darmokali 41 , Nurul Nuywell melukis Lily Blue, Syamdhuro melukis MBG, Irdina Larasanti melukis Rose berupa bunga mawar indah, Anis Suryani membawa karya berjudul Air Terjun, Andreanus G mengusung karya berjudul Makan Bergizi Tidak Gratis berupa gambar penjual sate Madura.

Selanjutnya, Ami Tri melukis Bakul Sate, Budi BI memamerkan karyanya berjudul Bonekaku, Priyono Marco membawa goresan wajah Bung Karno, Kak Herry memarekan Perahu Sisi Suramadu, Rizat Arifin mengusung karya bertajuk Kwan Kong gambar panglima perang berkuda, Muit Arsa memamerkan lukisan fauvisme berjudul Hasil Tangkapan.

Sementara itu, seniman Paydi membawa karya Gajah Emas dan Yonathan memamerkan karya Bajak Sawah.

Nama lain ada perupa Eka Dewi yang mengusung karya berjudul Chaos Reset On, Webeech melukis Sheep Party di alas sepatu, Budi An melukis Landscape, Imam Chudori yang dikenal sebagai pelukis realis di Jalan Tunjungan memamerkan karya bebas berjudul Sekel, Nining Zaro mengusung karya berjudul Bunga Sepatu, Evelyn Tan membawa karyanya yang bertajuk The Laughing Stock, dan Lely Yuana menghadirkan karyanya berjudul Monstera.

Keberagaman berbagai aliran tersebut menjadi bukti bahwa kebebasan berekspresi adalah kekuatan utama dalam dunia seni rupa.

Melalui pameran ini, ASSU berharap masyarakat dapat menikmati seni sebagai media refleksi, ruang kebebasan berekspresi, sekaligus pengingat bahwa integritas, kejujuran, dan tanggung jawab merupakan nilai yang harus selalu dijaga dalam setiap aspek kehidupan.

"Melukis itu bebas. Berkarya itu merdeka. Seni akan selalu menjadi suara ketika kata-kata tak lagi cukup didengar," ucap Muit Arsa.(*)



Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Lely Yuana
PenulisLely YuanaPernah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (AWS). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 8 September 2017. Meliput berbagai topik, termasuk politik, birokrasi, hukum, gaya hidup, seni dan budaya, serta isu sosial.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia