Advertisement
Peristiwa Daerah

Hadiri Hari Doa Nasional, Wamen Fajar Dorong Kolaborasi Negara dan Komunitas Keagamaan di Pendidikan

Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq menegaskan pendidikan harus menjadi rumah bersama bagi seluruh anak Indonesia saat Hari Doa Nasional 2026 di Balikpapan, sekaligus meninjau pelaksanaan SPMB.

TIMES Indonesia,
Hadiri Hari Doa Nasional, Wamen Fajar Dorong Kolaborasi Negara dan Komunitas Keagamaan di Pendidikan
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq saat menghadiri Diskusi Hari Doa Nasional 2026 yang digelar Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI) di Bukit Doa Nusantara, Balikpapan.
A-AA+

Balikpapan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi ruang yang inklusif dan dapat diakses seluruh anak Indonesia tanpa membedakan agama, latar belakang ekonomi, maupun lokasi tempat tinggal.

Hal itu disampaikan Fajar saat menghadiri Diskusi Hari Doa Nasional 2026 yang digelar Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI) di Bukit Doa Nusantara, Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (3/7/2026).

Advertisement

Menurutnya, pembangunan pendidikan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Negara perlu bersinergi dengan masyarakat, termasuk komunitas keagamaan yang selama ini turut berkontribusi dalam penyelenggaraan pendidikan.

"Indonesia tidak pernah dibangun di atas satu warna. Negeri ini bertumbuh dari ribuan pulau, ratusan bahasa, beragam agama, tradisi, dan kebudayaan. Karena itu, pendidikan nasional tidak boleh hanya melayani sebagian kelompok, tetapi harus menjadi rumah bersama yang memberi ruang bagi setiap anak Indonesia untuk bertumbuh," ujar Fajar.

Ia menegaskan, tugas negara bukan menyeragamkan identitas pendidikan, melainkan memastikan setiap anak memperoleh hak yang sama atas layanan pendidikan yang aman, bermutu, dan bermartabat.

"Tugas negara adalah memastikan bahwa setiap anak memperoleh hak yang sama atas pendidikan yang aman, bermutu, dan bermartabat, tanpa membedakan agama, lokasi geografis, ataupun status sekolah tempat mereka belajar. Inilah makna sesungguhnya dari kebijakan Pendidikan Bermutu untuk Semua," katanya.

Fajar mengatakan, dalam berbagai kunjungan kerja ke sejumlah daerah, terutama kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), ia menyempatkan mengunjungi berbagai sekolah lintas agama. Di antaranya PAUD Katolik El-Shaddai di Tapanuli Utara, SD Katolik Sanggau di Kalimantan Barat, SD GMIM Kayuwatu di Sulawesi Utara, SMP Kristen Mollo Selatan di Nusa Tenggara Timur, SMA Santo Thomas Yogyakarta, hingga SMA Katolik Kesuma Mataram.

Advertisement

Selain itu, ia juga mengunjungi sekolah yang dikelola organisasi masyarakat dan komunitas lain, seperti Puhua School Purwokerto, SMP Taman Siswa Yogyakarta, TK Muslimat NU, SDIT Persis, SMK NU Lasem, SMA Dwijendra Bali, serta sejumlah sekolah swasta lainnya.

Menurut Fajar, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa para guru tetap menjalankan tugas dengan penuh dedikasi meski menghadapi berbagai keterbatasan.

"Kunjungan-kunjungan tersebut memperlihatkan satu kenyataan yang sama, semangat para guru melampaui keterbatasan fasilitas. Dan tugas pemerintah adalah memastikan semangat itu tidak dibiarkan berjalan sendirian," ujarnya.

Ia menambahkan, pendidikan bermutu hanya dapat terwujud melalui kolaborasi antara pemerintah, guru, orang tua, yayasan pendidikan, organisasi keagamaan, pesantren, gereja, dan seluruh elemen masyarakat.

"Indonesia tidak bisa hanya dibangun oleh pemerintah. Melainkan oleh jutaan guru, para orang tua, yayasan pendidikan, organisasi keagamaan, gereja, pesantren, komunitas, dan seluruh warga negara yang percaya bahwa pendidikan adalah jalan memuliakan manusia," katanya.

Paparan Fajar mendapat apresiasi dari sejumlah peserta diskusi, di antaranya Romo Aloysius Budi Purnomo dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Rendy Alexander Chuang dari Persekutuan Baptis Indonesia (PBI), serta perwakilan berbagai organisasi gereja yang tergabung dalam FUKRI.

Sebelumnya, Fajar juga meninjau pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Gelombang II di SMA Negeri 5 Balikpapan. Ia menilai pelaksanaan SPMB di sekolah tersebut telah berjalan sesuai ketentuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan SPMB tidak terlepas dari dukungan pemerintah daerah, pihak sekolah, serta petugas yang telah dipersiapkan.

"Saya sampaikan terima kasih kepada kepala sekolah dan keluarga besar SMA Negeri 5 yang sudah menjalankan tugas-tugas kependidikannya. Kami juga menitipkan agar pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) nanti benar-benar mengikuti panduan dari Kemendikdasmen," ujar Fajar. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rochmat Shobirin
PenulisRochmat ShobirinPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2015. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia