Advertisement
Peristiwa Daerah

Petani di Pegunungan Pacitan Siasati Musim Kemarau dengan Panen Temulawak

Petani di wilayah pegunungan Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, beralih memanen temulawak karena memiliki daya tahan tinggi di lahan kering.

TIMES Indonesia,
Petani di Pegunungan Pacitan Siasati Musim Kemarau dengan Panen Temulawak
Temulawak diiris sebelum dikeringkan dan dijual ke pengepul empon-empon di Pacitan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
A-AA+

PACITAN Memasuki musim kemarau, sebagian petani di wilayah pegunungan Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, beralih memanen temulawak secara massal setelah lahan ladang mereka tidak lagi produktif untuk ditanami komoditas pertanian utama.

Salah satu petani asal Desa Ploso, Kecamatan Punung, Sunarti (55) menjelaskan bahwa komoditas empon-empon jenis rimpang umbi ini menjadi alternatif sumber pendapatan karena memiliki daya tahan tinggi di lahan kering dan hampir bisa dijumpai di seluruh kecamatan di Pacitan.

Advertisement

Saat ini, harga jual temulawak kering di tingkat petani setempat berkisar antara Rp7.000 hingga Rp7.500 per kilogram.

"Prosesnya memakan waktu cukup lama. Mulai panen, membersihkan akar dan sisa tanah, mengupas kulit, mengiris, hingga pengeringan, bisa berhari-hari," ujar Sunarti, Minggu (5/7/2026).

Sunarti menambahkan, ukuran temulawak yang dihasilkan dari ladangnya saat ini rata-rata sebesar satu setengah kepal tangan orang dewasa. 

Setelah dipanen, rimpang tersebut diiris secara manual menggunakan pisau dapur sebelum memasuki proses penjemuran.

"Jika utuh tanpa akar rimpang cabang harga keringnya bisa sampai Rp7,5 ribu per kilogram," katanya.

Advertisement

Secara fisik, bagian temulawak yang bernilai jual berada pada rimpang induk yang berbentuk bulat besar serta rimpang cabang yang memanjang di bagian samping. 

Karakteristik komoditas ini memiliki kulit berwarna kuning pucat atau cokelat kemerahan dengan daging berwarna jingga.

"Baunya lebih khas empon-empon. Sekilas hampir mirip kunyit, tapi ukuran dan baunya beda," jelas Sunarti.

Temulawak yang sudah diiris siap dikeringkan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
Temulawak yang sudah diiris siap dikeringkan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

Bergantung pada Terik Matahari

Selama musim kemarau, proses produksi temulawak kering di tingkat petani sangat bergantung pada intensitas terik matahari. 

Jika kondisi cuaca cerah secara konsisten, proses penjemuran irisan temulawak dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari satu pekan sebelum disetorkan ke pengepul.

"Alhamdulillah, hasilnya bisa untuk memenuhi kebutuhan dapur, hidup di desa yang penting mau gerak, obah mamah," ungkapnya.

Sebagai perbandingan komparasi harga, komoditas temulawak kering yang dijual di platform pasar daring (e-commerce) saat ini tercatat berada di kisaran Rp12.000 hingga Rp30.000 per kilogram, tergantung pada kualitas irisan. 

Sementara untuk kemasan retail ukuran 100 gram dijual antara Rp7.000 hingga Rp 10.000.

Selain bernilai ekonomis, tanaman herbal dengan nama ilmiah Curcuma zanthorrhiza ini juga dikonsumsi secara swadaya oleh masyarakat lokal sebagai pemelihara kebugaran fisik harian.

"Setiap pagi direbus, campur jahe sama gula jawa, diminum bikin badan lebih bugar, tidak gampang penyakitan," pungkas Sunarti. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Yusuf Arifai
PenulisYusuf ArifaiMagister Ilmu Hukum (MH) Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Wartawan Madya Nomor 21969-Unitomo/Wdya/DP/X/2024/21/10/93, Editor Bahasa Arab dan Penulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2021.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia