Buku Kanvas yang Tak Pernah Selesai, Wujud Cinta Umat untuk Romo Yulius Agus Purnomo
Buku Kanvas yang Tak Pernah Selesai menghimpun puluhan kesaksian tentang Romo Yulius Agus Purnomo sebagai wujud cinta umat sekaligus ajakan melanjutkan semangat pelayanannya.
MALANG – Seratus hari setelah berpulangnya Romo Yulius Agus Purnomo, cinta umat kepada sosok imam yang dikenal sederhana, kreatif, dan dekat dengan banyak kalangan diwujudkan dalam sebuah buku berjudul Kanvas yang Tak Pernah Selesai. Buku antologi yang memuat puluhan kisah, kenangan, dan refleksi itu menjadi cara umat mengabadikan jejak pelayanan Romo Agus sekaligus melanjutkan semangat hidup yang telah diwariskannya.
Buku tersebut diluncurkan bertepatan dengan Misa Peringatan 100 Hari Wafat Romo Yulius Agus Purnomo di Gereja St Albertus de Trapani Blimbing Kota Malang, Senin (6/7/2026). Antusiasme umat, para imam, keluarga, sahabat, hingga komunitas seni membuat proses penyusunannya berlangsung relatif singkat.
Misa dipimpin RD Bernadus Winuryanto bersama sebelas imam lainnya. Dalam homilinya, ia membuka renungan dengan membacakan puisi yang dipersembahkan khusus bagi sahabatnya itu.
"Dia telah menghiasi dunia ini dengan karya seninya sehingga dunia menjadi berwarna-warni. Selamat jalan sahabatku. Terima kasih karena kita pernah berjalan bersama."
Usai misa, RD Bernadus mengatakan puisi tersebut lahir dari kedekatan persahabatan yang telah terjalin selama menjalani panggilan imamat.
"Saya tahu persis bagaimana Romo Agus menghidupi imamatnya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kami saling meneguhkan, saling menguatkan, dan selalu menyediakan waktu untuk mensyukuri panggilan sebagai imam," ujarnya.
Menurutnya, Romo Agus adalah pribadi yang rendah hati sekaligus memiliki kreativitas seni yang luar biasa. Berbagai karya yang dihasilkannya selalu lahir dari gagasan yang orisinal dan menjadi ruang bagi banyak orang, terutama anak-anak, untuk bertumbuh.
"Beliau selalu memberi ruang bagi seni untuk berkembang. Seni lukis, seni patung, hingga berbagai kegiatan kreatif selalu melibatkan anak-anak. Setiap manusia adalah karya seni Tuhan yang luar biasa," katanya.
Warisan "Hati Suwung"
Ketua Unio Keuskupan Malang, RD Petrus Prihatin, mengenang Romo Agus sebagai imam yang hangat, mudah bergaul, dan mampu membangun kedekatan dengan semua kalangan, mulai anak-anak hingga lansia.
Menurutnya, kedekatan itu tampak dari membludaknya umat yang hadir dalam misa 100 hari sekaligus peluncuran buku tersebut.
"Umat datang dalam jumlah besar karena benar-benar merasakan kedekatan dengan Romo Agus. Beliau meninggalkan kesan yang sangat mendalam," ujarnya.
Salah satu pesan yang paling membekas bagi RD Petrus adalah ajakan Romo Agus untuk memiliki "hati suwung", yakni hati yang kosong dari egoisme dan kepentingan pribadi agar hanya diisi oleh Tuhan.
"Dengan demikian, apa yang kita wartakan bukan diri kita sendiri, melainkan Kristus yang hidup di dalam hati kita," jelasnya.
Ia menilai pesan tersebut tetap relevan di tengah perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), yang menuntut manusia tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan iman.
Pendiri Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias (KPKDG), Tengsoe Tjahjono, mengatakan gagasan menerbitkan buku muncul dari kerinduan umat untuk mengabadikan sosok Romo Agus.
Begitu rencana itu diumumkan, respons datang sangat cepat dari berbagai kalangan, mulai para imam, keluarga, sahabat, umat, hingga komunitas pelukis.
"Saya merasakan prosesnya sangat cepat. Ketika kami mengumumkan rencana penerbitan buku sebagai wujud kecintaan kepada Romo Agus, respons yang datang luar biasa," ujarnya.
Menurut Tengsoe, Romo Agus bukan hanya dikenal sebagai imam dan pelukis, tetapi juga seorang gembala yang sungguh hadir dalam kehidupan umat.
"Karya terindah dalam hidup manusia adalah ketika melalui pergaulan dan perjumpaan dengan sesama, seseorang mampu membuat orang lain menjadi pribadi yang lebih baik. Itulah prinsip hidup Romo Agus," katanya.
Kanvas yang Belum Selesai
Koordinator KPKDG Keuskupan Malang, Dr. Agustinus Indradi, M.Pd., mengungkapkan dirinya semula tidak menyangka akan dipercaya mengoordinasikan penyusunan buku tersebut.
Meski bukan berasal dari paroki tempat Romo Agus pernah berkarya, ia akhirnya menerima amanah itu atas permintaan sejumlah umat.
Dalam waktu sekitar satu setengah bulan, tim berhasil menghimpun sekitar 50 tulisan dari 40 penulis yang terdiri atas para imam, anggota keluarga, sahabat, dan umat.
Judul Kanvas yang Tak Pernah Selesai dipilih karena Romo Agus dikenal sebagai seorang pelukis. Namun, maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar dunia seni.
"Kanvas itu belum selesai. Kitalah yang ditinggalkan untuk menyelesaikannya, yakni melanjutkan lukisan tentang kebaikan, kasih, dan pelayanan yang telah diwariskan Romo Agus," jelas Agustinus.
Menurutnya, buku ini diharapkan menjadi sumber inspirasi agar semakin banyak orang meneladani cara hidup Romo Agus yang selalu melayani dengan tulus.
"Beliau tidak banyak berbicara, tetapi langsung melayani dengan hati. Karena itulah begitu banyak orang merasa kehilangan ketika beliau berpulang," ujarnya.
Agustinus juga mengenang bagaimana Romo Agus selalu memberikan kepercayaan kepada siapa pun untuk terlibat dalam pelayanan.
"Beliau selalu memberi kepercayaan kepada siapa saja. Banyak kegiatan dapat berjalan dengan baik bukan semata karena kemampuan kami, tetapi karena kepercayaan yang beliau berikan. Itulah warisan terbesar yang kami kenang dari Romo Agus," ucapnya. (ADV)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


