Kritik Tajam MBG, Lukisan Terbaru Ani Hasan Tapak Kaki Transformasi Aliran
Ani Hasan menghadirkan karya terbaru berjudul "Racun MBG" berupa relief dekoratif gamar abstrak lauk pauk lengkap sebagaimana slogan empat sehat lima sempurna.
SURABAYA – Seorang pelukis memiliki cara sendiri dalam menyampaikan apresiasi, kritikan, pujian, maupun keprihatinan melalui karya.
Seperti Ani Hasan, perupa asal Surabaya ini menghadirkan karya terbaru berjudul "Racun MBG".
Lukisan acrylic relief dekoratif ini menampilkan gambar abstrak lauk pauk lengkap sebagaimana slogan empat sehat lima sempurna.
Penuh warna-warni cerah, namun sayang berlatar belakang warna hitam. Seolah ada teriakan lebih besar dan kelam ketimbang warna yang disuguhkan.
Ani mengakui bahwa karyanya kali ini cukup 'menyeramkan', karena muncul di tengah fenomena sosial program pemerintah yang menjadi sorotan banyak pihak.
"Karya lukis saya saya kali ini tuh serem, karena marak dengan MBG (Makan Bergizi Gratis). Anak-anak yang makan MBG banyak yang 'tepar' untuk saat ini, makanya banyak yang mengkritisi lebih baik distop daripada ada masalah," ujar Ani Hasan, Senin (6/7/2026).
Dari keresahan sosial, Ani Hasan mampu menggambarkan suasana duka campur aduk hanya dalam beberapa jam.
Lukisan tersebut juga baru saja tampil di pameran MBG (Melukis Bebas Guys) yang digelar oleh Aksi Seniman Surabaya (ASSU) di Galeri Merah Putih, Balai Pemuda.
Lewat karyanya, perupa jebolan ilmu fisika IKIP Surabaya yang juga merupakan guru piano dan keyboard itu berharap pengelola MBG benar-benar memperhatikan aspek keselamatan.
Selain itu, ia juga memberikan masukan sebagai masyarakat dan pelaku seni, agar pemerintah memberikan ruang bagi UMKM skala kecil-kecil untuk terlibat dalam pemrosesan makanan agar lebih terkontrol kualitasnya. Bukan dikelola skala besar yang berpotensi kelalaian.
"Kalau kelompok-kelompok besar, pasti ada yang basi karena saking banyaknya. Jadi (kalau UMKM, red) ada maksimum memasak untuk beberapa anak saja. Mungkin itu akan jadi lebih baik," ujarnya.
Di sisi lain, lukisan Ani Hasan kali ini kembali memperkuat 'pergeseran' alias transformasi aliran. Ia yang dikenal sebagai pelukis beraliran realis sejak 1999, perlahan mulai tertantang mempelajari abstrak.
"Ada tantangan dari teman," katanya.
Ani mengakui, pada awalnya ia sangat tidak menyukai aliran abstrak sampai akhirnya bertemu dengan seorang pakar.
"Waktu itu ketemu dengan pakar pelukis abstrak. Kemudian dia bercerita, sejak itu saya tertantang. Karena, ternyata abstrak itu lebih sulit dibandingkan dengan realis," ungkapnya.
Abstrak memang tak semudah yang dibayangkan. Karena, warna dan tekstur mengandung filosofi pada setiap titik temu goresan.
Ibaratnya, harus mampu menerjemahkan secara detail supaya menghasilkan karya yang benar-benar menggambarkan intisari pikiran pelukisnya. Abstrak bukan lukisan biasa dan butuh dipelajari lewat rasa.
"Saat ini saya memang harus bisa belajar untuk membuat lukisan abstrak yang benar-benar menuju abstrak, dan cerita dari abstrak itu sebenarnya berakhir ke Tuhan," kata Ani Hasan.
Ia memberikan contoh bagaimana lukisan beraliran abstrak mampu mengubah pola pikir pelukis itu sendiri. Abstrak yang tak kasat mata, tak tersentuh, tak berwujud. Seperti suara, energi, dan nada.
Seperti juga angin yang menerbangkan bebijian. Lalu biji tumbuh di kedalaman tanah tanpa terlihat. Hakekatnya, ia sepenuhnya mengimani bahwa semua di alam semesta ada "Yang Menggerakkan".
"Nah, kita baru sadar bahwa itu semuanya adalah sesuatu yang tidak bisa digambarkan. Ciptaan Tuhan," ungkapnya.
Meskipun jika kemudian ia tetap bertahan sebagai pelukis realis penuh ataupun mencoba bertransformasi menuju abstrak, Ani Hasan akan tetap mencintai dunia seni rupa.
"Kita harus bisa berkarya, tidak berdiam diri," kata Ani yang selalu tampak energik ini.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


