Korsleting Listrik Picu 50 Persen Kasus Kebakaran di Banyuwangi
Korsleting listrik masih menjadi biang kerok utama kasus kebakaran di Kabupaten Banyuwangi. Hubungan arus pendek listrik itu memicu hingga 50 persen dari total kasus kebakaran.
BANYUWANGI – Korsleting listrik masih menjadi biang kerok utama kasus kebakaran di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Data terbaru mencatat hubungan arus pendek listrik itu memicu hingga 50 persen dari total kasus kebakaran di Bumi Blambangan sepanjang semester pertama tahun 2026.
Berdasarkan data dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Banyuwangi, sebanyak 84 kasus kebakaran sepanjang Januari hingga Juni 2026. Dari puluhan peristiwa tersebut, 74 kasus menghanguskan bangunan, kendaraan, hingga membakar gardu listrik. Sementara sisanya merupakan kebakaran lahan kosong dan jenis lainnya.
Dari 74 kasus kebakaran yang membakar objek-objek tersebut, 34 di antaranya dipicu karena korsleting listrik.
“Kurang lebih 50 persen kebakaran bangunan, kendaraan dan tiang listrik karena arus pendek,” kata Humas Damkarmat Banyuwangi, Muammar Kadhafi, Selasa (7/7/2026).
Jika dibedah per bulan, Maret menjadi periode paling tinggi dengan catatan angka kebakaran tertinggi akibat korsleting. Tren kasus ini sebenarnya fluktuatif sejak awal tahun, dimulai dengan 3 kasus di bulan Januari, lalu melonjak menjadi 8 kasus pada Februari, dan mencapai puncaknya di bulan Maret dengan 9 kasus.
Memasuki April, angka kejadian sempat turun drastis ke 3 kasus, sebelum kembali merangkak naik menjadi 5 kasus di bulan Mei dan ditutup dengan 6 kasus pada Juni. Sehingga tota ada 34 kasus kebakaran objek dengan dipicu korsleting listrik.
"Setelah korsleting, pemicu lain kebakaran bangunan adalah kebocoran regulator gas LPG dengan 8 kasus. Sementara kebakaran lahan paling banyak disebabkan oleh membakar sampah dengan 18 kasus, puntung rokok 8 kasus, dan faktor cuaca 1 kasus," ujar Kadhafi.
Melihat tingginya kasus kebakaran akibat korsleting listrik tersebut, menjadi alarm keras bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap kelaikan instalasi listrik di rumah maupun tempat usaha mereka.
Bukan hanya itu, Damkarmat Banyuwangi menyampaikan sejumlah imbauan mencegah kebakaran akibat Korsleting listrik. Langkah pencegahan yang paling mendasar adalah rutin mengecek instalasi listrik di rumah atau tempat usaha. Pastikan kabel yang digunakan sudah berstandar SNI dan tidak ada yang mengelupas.
“Jika usia instalasi sudah dimakan usia dengan menunjukkan pengelupasan kabel segeralah panggil teknisi resmi untuk peremajaan sebelum memicu korsleting fatal,” tutur Kadhafi.
Di luar itu, kebiasaan sepele sehari-hari juga sering jadi pemicu korsleting. Banyak dari masyarakat membiarkan colokan charger HP, kipas angin, atau TV tetap menempel di stop kontak meski sudah tidak dipakai. Padahal, arus listrik yang terus mengalir bisa memicu panas berlebih (overheating) hingga menimbulkan percikan api
Oleh karena itu, biasakan langsung mencopot colokan begitu selesai menggunakan alat elektronik. Sebelum tidur atau keluar rumah, pastikan tidak ada beban listrik tak penting yang masih tersambung
“Langkah sederhana ini tidak hanya hemat listrik, tapi juga ampuh melindungi rumah dari ancaman kebakaran,” kata Kadhafi. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


