Advertisement
Peristiwa Daerah

Diduga Dibuka dengan Cara Dibakar, 10 Hektare Hutan Rakyat di Pacitan Hangus Dilalap Api

Kebakaran hanguskan 10 hektare hutan rakyat di Pacitan, Selasa (7/7/2026). Diduga dari pembukaan lahan. Petugas gabungan berjibaku 5 jam cegah api merembet ke permukiman.

TIMES Indonesia,
Diduga Dibuka dengan Cara Dibakar, 10 Hektare Hutan Rakyat di Pacitan Hangus Dilalap Api
Kondisi hutan rakyat di Dusun Nglumbu, Desa Sambong, Kecamatan Pacitan usai dilalap api, tim gabungan berupaya lakukan pemadaman. (FOTO: Yonif TP for TIMES Indonesia)
A-AA+

PACITAN Kebakaran yang menghanguskan sekitar 10 hektare hutan rakyat di Dusun Nglumbu, Desa Sambong, Kecamatan Pacitan, Jawa Timur, Selasa (7/7/2026), diduga dipicu aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar vegetasi. 

Di tengah musim kemarau, api dengan cepat membesar hingga nyaris menjangkau permukiman warga.

Advertisement

Insiden yang berlangsung selama sekitar lima jam itu tidak hanya menghanguskan tanaman produktif milik warga, tetapi juga memaksa petugas gabungan berjibaku melokalisasi api agar tidak merembet ke rumah-rumah penduduk yang berada di sekitar lokasi.

Kepala Bidang Damkar Satpol PP Pacitan, Sugito, mengatakan kondisi vegetasi yang mengering akibat kemarau menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran api.

"Setelah menerima laporan dari masyarakat, personel Damkar Kabupaten Pacitan segera menuju lokasi dengan membawa armada dan peralatan pemadaman. Setibanya di lokasi, petugas langsung melakukan penyekatan serta penyemprotan air pada titik-titik api yang terus membesar akibat kondisi lahan yang kering," kata Sugito.

Dugaan Berawal dari Pembukaan Lahan

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, titik api pertama kali terlihat sekitar pukul 11.00 WIB dari kawasan hutan rakyat yang berada di sisi perbukitan Dusun Nglumbu. Api diduga berasal dari aktivitas pembakaran vegetasi untuk membuka lahan pertanian.

Advertisement

Dugaan tersebut masih menjadi dasar penyelidikan awal. Namun, kondisi cuaca yang panas, tumpukan serasah daun kering, serta embusan angin menyebabkan api dengan cepat keluar dari area awal dan merambat ke berbagai arah.

Dalam waktu kurang dari satu jam, kobaran api semakin meluas hingga mendekati batas permukiman warga. Situasi itu membuat masyarakat bersama aparat desa berupaya melakukan penanganan awal sembari menunggu kedatangan tim pemadam kebakaran.

Suasana pemadaman api oleh petugas gabungan agar tidak merembet ke permukiman warga. (FOTO: Yonif for TIMES Indonesia)
Suasana pemadaman api oleh petugas gabungan agar tidak merembet ke permukiman warga. (FOTO: Yonif TP for TIMES Indonesia)

Api Sempat Mengarah ke Permukiman

Laporan pertama diterima petugas sekitar pukul 11.00 WIB. Babinsa Koramil 0801/Pacitan menjadi unsur pertama yang tiba di lokasi untuk memantau perkembangan api dan membantu pengamanan warga.

Sekitar pukul 12.30 WIB, dua unit mobil pemadam kebakaran milik Satpol PP Pacitan tiba dan langsung melakukan penyekatan guna memutus jalur rambatan api yang terus bergerak mengikuti arah angin.

Karena luasan kebakaran terus bertambah, operasi pemadaman diperkuat sekitar pukul 14.30 WIB. 

Kodim 0801/Pacitan mengerahkan satu unit kendaraan pemadam, sedangkan Yonif Teritorial Pembangunan (TP) 934/Satria Buana Yudha mengirim tiga unit armada air beserta puluhan personel.

Komandan Yonif TP 934/Satria Buana Yudha, Mayor Infanteri Dr. Dian Nur Huda, mengatakan operasi pemadaman dilakukan secara terpadu bersama seluruh unsur terkait dan masyarakat.

"Kurang lebih 40 personel tadi ikut membantu. Kolaborasi dengan seluruh instansi. Alhamdulillah seluruh instansi bekerja bahu-membahu bersama masyarakat," ujarnya.

Menurut Dian, sinergi lintas instansi menjadi faktor penting sehingga kobaran api tidak sampai memasuki kawasan permukiman.

"Alhamdulillah berjalan dengan aman dan cepat bisa teratasi. Dari Damkar, kepolisian, Kodim, Satpol PP, BPBD, dan masyarakat sekitar," katanya.

Api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 15.00 WIB. Setelah itu, petugas melakukan pembasahan atau cooling down di seluruh area terdampak guna memastikan tidak ada bara api yang masih tersisa.

Kerugian Petani Jadi Dampak Terbesar

Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan rumah warga, kebakaran tersebut menghanguskan tanaman produktif di kawasan hutan rakyat yang selama ini menjadi sumber penghasilan masyarakat.

Luas area yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 10 hektare. Sebagian besar merupakan lahan milik warga yang ditanami berbagai komoditas produktif.

Hingga kini, besaran kerugian material masih dalam proses pendataan oleh pemerintah desa bersama instansi terkait.

Kemarau Tingkatkan Risiko Kebakaran

Peristiwa di Sambong menambah daftar kebakaran lahan yang terjadi saat musim kemarau mulai mengeringkan vegetasi di sejumlah wilayah Pacitan.

Serasah daun, rumput liar, dan semak belukar yang mengering menjadi bahan bakar alami yang membuat api sangat mudah menyebar ketika muncul sumber panas sekecil apa pun.

Karena itu, aparat mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan menggunakan metode pembakaran maupun membakar sampah di area terbuka selama musim kemarau.

Selain memperkuat patroli di kawasan rawan kebakaran, pemerintah bersama aparat juga berencana memasang rambu larangan pembakaran lahan serta meningkatkan sosialisasi mengenai ancaman pidana bagi pelaku pembakaran hutan dan lahan.

Langkah tersebut diharapkan mampu menekan potensi kebakaran serupa, terutama di kawasan hutan rakyat yang berbatasan langsung dengan permukiman penduduk. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Yusuf Arifai
PenulisYusuf ArifaiMagister Ilmu Hukum (MH) Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Wartawan Madya Nomor 21969-Unitomo/Wdya/DP/X/2024/21/10/93, Editor Bahasa Arab dan Penulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2021.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia