Pelaku Usaha Percetakan Berburu Teknologi Terbaru di Surabaya Printing Expo 2026
Pameran Surabaya Printing Expo (SPE) 2026 resmi dibuka di Grand City Surabaya. Menampilkan transformasi digital industri grafika nasional dan adopsi teknologi AI untuk UMKM.
SURABAYA – Industri percetakan dan grafika nasional terus bertransformasi untuk meningkatkan daya saing melalui pembaruan teknologi. Kondisi tersebut tampak nyata dalam pameran Surabaya Printing Expo (SPE) 2026 yang diselenggarakan oleh Krista Exhibitions di Grand City Convention Center, Surabaya.
Ratusan pengunjung memadati area pameran untuk melihat langsung sekaligus berbelanja alat perlengkapan terbaru, mulai dari teknologi cetak tumbler, mesin cetak banner, stiker, hijab, hingga perangkat kreatif lainnya. Para pelaku usaha, pemilik UMKM, desainer grafis, serta profesional di bidang kreatif memanfaatkan momentum ini sebagai sarana meningkatkan skala bisnis dan memperluas jaringan kemitraan strategis.
Potensi industri grafika dinilai masih sangat besar dan mampu memberikan kontribusi nyata dalam pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan daya saing bangsa. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai perputaran ekonomi sektor ini mencapai Rp197 triliun dalam satu tahun.
Sementara itu, pertumbuhan kebutuhan kemasan, percetakan komersial, dan sektor pendidikan membuktikan bahwa industri percetakan memiliki prospek yang menjanjikan.
"Industri grafika Indonesia tidak sedang melemah, tetapi bertransformasi menjadi lebih modern, lebih efisien, dan bernilai tambah," kata Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI), Ahmad Mughira Nurhani, saat menghadiri pembukaan SPE 2026, Rabu (8/7/2026).
Ahmad Mughira menilai, penyelenggaraan SPE tahun ini berlangsung pada momentum penting di tengah tantangan ekonomi global maupun nasional. Situasi ini menuntut pengusaha untuk semakin adaptif, efisien, dan inovatif.
"Berbagai tantangan yang kita hadapi justru harus menjadi pemicu industri grafika untuk melakukan transformasi dan meningkatkan daya saing," jelasnya.
Ia menambahkan, SPE 2026 bukan sekadar pameran teknologi dan mesin percetakan. Event ini menjadi ruang kolaborasi, pembelajaran, sekaligus solusi bagi pelaku usaha untuk menemukan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas, menghemat energi, mengurangi limbah, serta menghasilkan efisiensi operasional.
"PPGI melihat adanya peluang besar melalui perkembangan sektor industrial packaging, labelling, dan creative printing yang tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan industri manufaktur dan e-commerce," imbuh Ahmad Mughira.
Oleh karena itu, PPGI mendorong para pelaku usaha grafika, khususnya anggota asosiasi yang mayoritas merupakan pelaku UMKM, agar terus melakukan diversifikasi dan inovasi produk.
"Inilah saat yang tepat untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga bertransformasi. Kita harus berani memasuki pasar-pasar baru yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi, termasuk pengembangan smart packaging serta pemanfaatan teknologi otomatisasi dalam proses produksi," paparnya.
Ahmad mengungkapkan, pemilihan Surabaya sebagai lokasi pameran merupakan langkah strategis. Sebagai ibu kota Provinsi Jawa Timur, Surabaya menjadi salah satu pusat pertumbuhan industri manufaktur nasional sekaligus gerbang penting bagi wilayah Indonesia Timur.
"Dengan kehadiran SPE di Surabaya, kita membuka akses yang lebih luas bagi pelaku industri percetakan untuk meningkatkan kualitas, kapasitas, dan daya saing," ujarnya.
Kontribusi Industri Grafika terhadap Ekonomi Jatim
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Jatim, Sherlita Ratna Dewi Agustin, mengatakan industri grafika memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian Jatim. Pada triwulan I tahun 2026, pertumbuhan ekonomi Jatim mencapai 5,96 persen, angka tertinggi di Pulau Jawa sekaligus melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
"Capaian pertumbuhan ekonomi Jatim yang melampaui nasional ini turut disumbang oleh performa industri percetakan," kata Sherlita.
Ia memaparkan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim ditopang oleh industri pengolahan sebesar 31 persen, sektor perdagangan 18,77 persen, dan sektor pertanian 10,51 persen. Sementara itu, 14 sektor lainnya jika digabungkan berkontribusi sebesar 39,27 persen.
Di tengah capaian tersebut, industri percetakan memiliki posisi unik sebagai bagian dari subsektor industri kertas dan barang dari kertas.
"Nilai PDRB industri percetakan dan produksi media di Jawa Timur mencapai Rp27,64 triliun," ungkap Sherlita.
Pada tahun 2025, industri percetakan mencatatkan pertumbuhan akumulatif sebesar 11,42 persen dalam kurun waktu tiga tahun. Kontribusi industri percetakan terhadap sektor industri pengolahan juga stabil di kisaran 4,94 persen hingga 4,98 persen selama tiga tahun terakhir.
Kendati demikian, nilai ekspor perdagangan mesin percetakan sempat mengalami penurunan pada medio 2023–2024. Namun, sektor ini mampu bangkit kembali dengan pertumbuhan 40,07 persen pada periode 2024–2025.
"Di sisi lain, nilai impor mesin percetakan masih jauh lebih besar dibandingkan ekspor. Nilai impor mencapai USD 52,75 juta pada 2025, dengan China mendominasi hampir 50 persen dari total impor kumulatif," ungkapnya.
Sherlita juga mengorelasikan perkembangan teknologi cetak dengan penetrasi internet. Saat ini, penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 81,72 persen, sementara di Jatim sedikit lebih tinggi yakni 83,1 persen.
"Artinya, mayoritas masyarakat Jatim sudah menggunakan internet. Hal ini sejalan dengan kebutuhan industri karena banyak alat percetakan modern saat ini membutuhkan koneksi internet," katanya.
Platform Strategis Indonesia Timur
CEO Krista Exhibitions Group selaku penyelenggara, Daud D Salim, menyampaikan bahwa SPE 2026 merupakan pameran yang digelar untuk ke-19 kalinya. Pameran industri percetakan terbesar di Indonesia Timur ini berlangsung selama empat hari, mulai 8 hingga 11 Juli 2026.
"Surabaya Printing Expo 2026 hadir sebagai platform strategis yang mempertemukan produsen, distributor, pelaku usaha, desainer, hingga profesional industri," kata Daud.
Pameran ini dirancang untuk memperluas jejaring bisnis, mempercepat adopsi teknologi mutakhir, serta mendorong pertumbuhan industri percetakan nasional, khususnya di kawasan Indonesia Timur. Daud optimistis penyelenggaraan SPE 2026 dapat menjadi katalis percepatan pertumbuhan industri grafis di Jawa Timur.
"Melalui pameran ini, kami ingin menghadirkan ruang kolaborasi bagi pelaku industri untuk memperkenalkan teknologi terkini, meningkatkan daya saing, serta membuka peluang kemitraan baru menuju era digital yang lebih inovatif, efisien, dan berkelanjutan," ungkap Daud.
Tahun ini, SPE 2026 tampil lebih masif dengan menghadirkan lebih dari 150 peserta pameran, termasuk di antaranya 10 pelaku UMKM lokal. Selama empat hari, pameran ini ditargetkan mampu menyedot perhatian 15.000 pengunjung dari berbagai lini industri.
Para pengunjung dapat melihat langsung demonstrasi beragam teknologi mesin cetak mutakhir, mulai dari digital printing, offset printing konvensional, hingga teknologi cetak masa depan seperti 3D printing, UV printing, dan web-based printing system.
Selain pameran produk, SPE 2026 juga menyelenggarakan rangkaian edukasi berupa seminar dan workshop. Salah satu agenda unggulannya adalah workshop bertajuk "Dari Ide ke Merchandise: Workshop Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk Desain Merchandise Kreatif" yang mengupas optimalisasi kecerdasan buatan dalam proses produksi.
Komitmen pendorong UMKM juga diwujudkan melalui seminar "Strategi UMKM Naik Kelas Melalui Bisnis Kreatif & Kemasan Produk" yang membahas pentingnya inovasi wadah, branding, dan desain kemasan untuk menembus pasar nasional maupun internasional. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


