Advertisement
Peristiwa Daerah

Petani Kopi Ijen-Raung Bondowoso Sebut Produksi Arabika Menurun

Petani kopi Ijen-Raung siap mendukung rencana pemerintah Kabupaten Bondowoso dalam membangkitkan kembali BRK (Bondowoso Republik Kopi).

TIMES Indonesia,
Petani Kopi Ijen-Raung Bondowoso Sebut Produksi Arabika Menurun
Bupati Bondowoso Abd Hamid Wahid saat melakukan hal petik kopi dalam panen raya kopi di Ijen-Raung (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia)
A-AA+

BONDOWOSO Petani kopi Ijen-Raung siap mendukung rencana pemerintah Kabupaten Bondowoso dalam membangkitkan kembali BRK (Bondowoso Republik Kopi). 

Salah satu dukungan terhadap langkah tersebut datang dari pelaku usaha kopi Bondowoso, Harsono, pemilik Kosabe Coffee. Menurutnya, kehadiran pemerintah di tengah petani menjadi sinyal positif bahwa sektor kopi kembali mendapat perhatian serius.

Advertisement

Ia menilai kegiatan petik kopi bersama sekaligus menjadi edukasi bagi petani, untuk menjaga mutu hasil panen dengan hanya memetik buah yang benar-benar matang.

"Harapan masyarakat, dengan adanya petik kopi ini, kopi Bondowoso bisa bangkit lagi," terangnya.

Harsono menjelaskan, kopi yang dipanen dalam kegiatan panen raya kemarin, Rabu (8/7/2026), merupakan varietas robusta dengan produktivitas sekitar empat ton ceri per hektar. 

Dengan harga jual kopi ceri sekitar Rp13 ribu per kilogram, komoditas tersebut masih memberikan keuntungan karena biaya produksinya relatif lebih rendah dibandingkan kopi arabika.

Sebaliknya, kondisi kopi arabika saat ini mengalami penurunan produksi yang cukup tajam. Meski harga ceri arabika masih berada di kisaran Rp22 ribu per kilogram, hasil panen di sejumlah lahan hanya mencapai sekitar 500 kilogram per hektar atau jauh di bawah produktivitas normal yang dapat mencapai empat ton per hektare.

Advertisement

Menurut Harsono, kondisi tersebut dipengaruhi oleh perubahan cuaca yang sulit diprediksi.

"Karena memang faktor cuaca yang tidak menentu, kadang hujan dan kadang panas," pungkasnya.

Ia berharap kebangkitan BRK Reborn tidak berhenti pada penguatan pemasaran, tetapi juga dibarengi dukungan nyata pemerintah dalam penyediaan akses permodalan serta modernisasi peralatan pengolahan kopi, seperti mesin roasting dan huller, sehingga daya saing kopi Bondowoso semakin meningkat.

Informasi dihimpun, sebanyak 141 petani yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) di Kecamatan Sumberwringin menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) pemanfaatan lahan agroforestry kopi bersama KPH Perhutani Bondowoso.

Kerja sama tersebut mencakup pengelolaan lahan seluas 343 hektar. Pada kesempatan yang sama, Pemerintah Kabupaten Bondowoso juga menyerahkan bantuan 133 unit cangkul kepada buruh tani yang tergabung dalam LMDH Wono Asri dan LMDH Wono Agung, sebagai dukungan terhadap peningkatan produktivitas sektor pertanian dan perkebunan.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Moh Bahri
PenulisMoh BahriSarjana Sosial (S.Sos) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq atau UIN KHAS Jember (2018). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2018 (Tugas di Kabupaten Bondowoso). Meliput berbagai topik: Politik, peristiwa, hukum, ekonomi, budaya, kuliner dan isu-isu lainnya di daerah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia