Hindari Area Kebisingan, Pemuda di Malang Berhasil Ciptakan Website Sound Horeg EWS
Seorang pemuda asal Kota Malang bernama Andi Surya (24) berhasil membuat sebuah sistem bernama Sound Horeg Early Warning System (EWS).
MALANG – Seorang pemuda asal Kota Malang bernama Andi Surya (24) berhasil membuat sebuah sistem bernama Sound Horeg Early Warning System (EWS).
Sistem tersebut, dibuat agar masyarakat bisa mengetahui jadwal kegiatan sound horeg hingga estimasi radius berbahaya agar bisa terhindar dari paparan sound.
Andi kepada TIMES Indonesia bercerita, sistem tersebut ia buat atas keresahannya terhadap kegiatan Sound Horeg yang menurutnya cukup mengganggu dan berbahaya bagi sebagian orang.
“Keresahan sendiri sebenarnya, gimana suara yang keluar itu menganggu telinga dan berbahaya. Apalagi, setiap tahun kan pasti ada itu di sekitaran bulan Juli sampai akhir tahun,” ujar Andi, Senin (13/6/2026.
Berangkat dari keresahannya, muncul ide untuk membuat sebuah sistem yang bisa menampung semua informasi terkait sound horeg, bukan hanya kegiatannya tapi juga kekuatan suara dari jarak aman atau radius aman.
Sistem tersebut ia buat cukup singkat. Sekitar tiga hari Andi mengumpulkan semua informasi kegiatan sound horeg melalui berbagai platform media sosial (medsos).
“Dari Facebook, Instagram sampai TikTok semua saya kumpulkan. Saya ada sistem untuk mengkurasi ke-validan informasi itu juga. Jadi saya masukkan semua ke sistem dan saya tambahkan radius-radius untuk pemetaan titik berbahaya dari gelombang suara yang dikeluarkan,” ungkapnya.
Website bernama ews.soundhoreg.web.id ini juga dilengkapi fitur pengecekan posisi pengguna untuk memberikan peringatan apabila berada dalam radius yang diperkirakan berpotensi membahayakan.
Karena belum tersedia penelitian yang secara spesifik menentukan jarak aman, Andi menggunakan perhitungan sendiri dengan ambang batas 75 desibel sebagai kategori berbahaya, 65 desibel sebagai batas menengah, dan 55 desibel sebagai tingkat suara samar.
“Estimasi radius disusun berdasarkan asumsi tingkat kebisingan sound horeg yang saya kumpulkan dari beberapa informasi, itu sekitar 100 hingga 135 desibel,” jelasnya.
Sejak diperkenalkan ke publik melalui media sosial pribadinya pada dua hari lalu, unggahan terkait inovasi tersebut telah memperoleh respon sekitar 120 ribu, sementara situsnya mencatat sekitar 15 ribu kunjungan.
Rencananya, ke depan Andi akan mengembangkan Sound Horeg EWS ini menjadi aplikasi seluler dengan fitur mirip layanan navigasi digital. Pengguna nantinya diharapkan dapat menerima notifikasi otomatis saat memasuki area yang berada dalam radius kebisingan sound horeg.
“Rencananya bisa saya jadikan aplikasi, semacama Waze atau Google Maps gitu mas. Ini biar lebih detail dan bisa memberikan arahan bagi pengguna,” ucapnya.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


