Suarakan Hak Disabilitas, Akar Tuli Malang Perkuat Gerakan Menuju Malang Raya Inklusif
Akar Tuli Malang ingin memperkuat kolaborasi antara komunitas disabilitas, masyarakat, organisasi sipil, dan pemerintah agar hak-hak penyandang disabilitas semakin dihormati, dilindungi, serta dipenuhi dalam berbagai aspek kehidupan.
MALANG – Komunitas Akar Tuli Malang menggelar Workshop dan Focus Group Discussion (FGD) Hak Disabilitas Menuju Malang Raya Inklusif di NutriHub Kota Malang, Minggu (12/7/2026). Kegiatan ini menjadi wadah untuk memperkuat pemahaman mengenai hak-hak penyandang disabilitas sekaligus menghimpun aspirasi terkait berbagai tantangan yang masih dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Sebanyak 21 peserta mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas 12 penyandang disabilitas tuli, empat penyandang disabilitas netra, dan empat penyandang disabilitas daksa yang berasal dari kalangan mahasiswa, pekerja, serta berbagai komunitas disabilitas di Malang Raya. Workshop juga didukung oleh tujuh panitia, dua aktivis tuli, dan dua Juru Bahasa Isyarat (JBI) guna memastikan seluruh rangkaian acara berlangsung secara aksesibel dan inklusif.
Direktur SAPDA Yogyakarta hadir sebagai narasumber dengan menyampaikan materi mengenai pengenalan ragam disabilitas, hak-hak penyandang disabilitas, serta pentingnya mendorong lahirnya kebijakan publik yang lebih inklusif. Setelah sesi pemaparan materi, peserta mengikuti Focus Group Discussion (FGD) untuk berbagi pengalaman mengenai hambatan yang mereka hadapi dalam mengakses pendidikan, dunia kerja, layanan publik, hingga informasi.
Ketua Program, Sania Khoridatur Rohmi, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk menyampaikan pengalaman dan aspirasinya secara langsung sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas.
"Workshop dan FGD ini menjadi ruang bagi penyandang disabilitas untuk menyampaikan pengalaman dan aspirasinya secara langsung. Harapannya, hasil diskusi ini dapat mendorong meningkatnya kesadaran masyarakat serta menjadi masukan bagi berbagai pihak dalam mewujudkan Malang Raya yang lebih inklusif dan setara bagi semua," ujar Sania.
Menurutnya, berbagai masukan yang dihimpun dalam FGD diharapkan dapat menjadi bahan rekomendasi bagi pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, maupun pemangku kepentingan lainnya dalam menyusun kebijakan yang lebih ramah terhadap penyandang disabilitas.
Melalui kegiatan ini, Akar Tuli Malang juga ingin memperkuat kolaborasi antara komunitas disabilitas, masyarakat, organisasi sipil, dan pemerintah agar hak-hak penyandang disabilitas semakin dihormati, dilindungi, serta dipenuhi dalam berbagai aspek kehidupan.
Dengan semakin terbukanya ruang dialog dan partisipasi, diharapkan terwujud ekosistem yang lebih inklusif di Malang Raya, sehingga setiap warga, tanpa terkecuali, memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial, pendidikan, maupun ekonomi. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


