Advertisement
Peristiwa Daerah

Mengabdi dari Desa, 1.025 Mahasiswa UPS Tegal Wujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi

UPS menerjunkan 1.025 mahasiswa KKN ke Jateng, Jabar, dan Jatim. Program pengabdian ini diharapkan menjadi solusi nyata bagi masyarakat sekaligus mendorong pembangunan desa.

TIMES Indonesia,
Mengabdi dari Desa, 1.025 Mahasiswa UPS Tegal Wujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi
KKN Mahasiswa UPS Tegal bersama Rektor, Kepala Bappenda, dan Camat di Kedungbanteng. (Foto Winara/Cahyo TIMES Indonesia)
A-AA+

TEGAL Pagi itu, halaman Kantor Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, dipenuhi ratusan mahasiswa  mengenakan rompi lapangan. Di balik wajah-wajah penuh semangat itu, tersimpan satu tujuan yang sama mengabdi kepada masyarakat. 

Mereka para mahasiswa dari UPS bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga membawa semangat bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil di desa.

Advertisement

Universitas Pancasakti (UPS) resmi menerjunkan 1.025 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) ke berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur salah satunya Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Tegal. 

Program tersebut menjadi implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya bidang pengabdian kepada masyarakat dan dari jumlah tersebut, 135 mahasiswa di sembilan desa Kecamatan Kedungbanteng.

Bagi perguruan tinggi, KKN bukan lagi sekadar agenda rutin setiap tahun. Program ini menjadi ruang belajar sesungguhnya, ketika mahasiswa meninggalkan bangku kuliah dan berhadapan langsung dengan realitas kehidupan masyarakat. Mereka belajar memahami persoalan, menggali potensi, sekaligus merancang solusi yang dapat memberikan manfaat nyata.

Semangat itulah yang ditekankan dalam amanat Rektor Universitas Pancasakti, Dr. Taufiqulloh, yang dibacakan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Dr. Dewi Indriasih, Menurutnya, kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat harus mampu menjadi bagian solusi, bukan sekadar memenuhi tuntutan akademik.

"Penerjunan ke tiap desa ini adalah implementasi langsung dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kami berharap mahasiswa dapat memberikan dampak positif dan menjadi bagian solusi saat mereka berinteraksi langsung dengan berbagai realitas dan tantangan di masyarakat," ujarnya, pada Selasa (14/7) 

Advertisement

Harapan serupa datang pula dari Pemerintah Kabupaten Tegal. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida), Dr. M. Faried Wajdy menilai tema dan luaran KKN tahun ini lebih terarah. 

Faried Wajdy berharap program mahasiswa tidak berhenti ketika masa pengabdian berakhir, tetapi mampu melahirkan desa binaan yang terus berkembang melalui kolaborasi antara kampus dan pemerintah daerah.

Di sisi lain, wilayah Kecamatan Kedungbanteng menyimpan tantangan yang membutuhkan perhatian bersama. Camat Kedungbanteng, Dra. Sumyati, mengungkapkan akses pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah. 

Mayoritas masyarakat menempuh pendidikan hingga jenjang SMP karena keterbatasan akses menuju SMA Negeri dan kendala sistem zonasi.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur, tetapi juga kualitas sumber daya manusia. Kehadiran mahasiswa diharapkan mampu menumbuhkan motivasi belajar, memperkuat literasi, hingga membuka wawasan generasi muda tentang pentingnya pendidikan.

Prosesi penyematan rompi KKN ke perwakilan mahasiswa menjadi simbol dimulainya perjalanan pengabdian itu. Sebuah seremoni sederhana yang menyimpan makna mendalam, ilmu pengetahuan menemukan ruang pengabdiannya, sementara masyarakat memperoleh mitra baru untuk bersama-sama membangun desa.

Di tengah derasnya arus urbanisasi dan pesatnya perkembangan teknologi, desa tetap menjadi fondasi penting pembangunan Indonesia. Karena itu, keberadaan mahasiswa melalui program KKN bukan hanya menjadi jembatan antara dunia akademik dan masyarakat, tetapi juga menjadi investasi sosial yang menumbuhkan kepedulian, kepemimpinan, dan semangat gotong royong.

Pada akhirnya, keberhasilan KKN tidak hanya diukur dari jumlah program yang terlaksana atau laporan yang disusun setelah kegiatan usai. Nilai sesungguhnya terletak pada jejak  ditinggalkan ketika ilmu yang dibawa dari kampus mampu menjawab kebutuhan masyarakat, dan ketika kehadiran mahasiswa meninggalkan harapan baru bagi desa. 

Dari desa-desa itulah, semangat pengabdian tumbuh, menguatkan keyakinan bahwa membangun Indonesia selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Cahyo Nugroho
PenulisCahyo NugrohoSarjana Ilmu Jurnalistik - Ilmu Sosial dan Politik (Kampus Tercinta) Lenteng Agung Jakarta (1989) Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2020 Meliput berbagai topik, Sosial dan budaya dan isu daerah
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia