Advertisement
Peristiwa Daerah

Kearifan Lokal Desa Senggreng, Larung Berkah Hasil Ikan Keramba dan Gunungan

Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang menyimpan cerita kearifan lokal yang masih terus dijaga dan dilestarikan masyarakatnya.

TIMES Indonesia,
Kearifan Lokal Desa Senggreng, Larung Berkah Hasil Ikan Keramba dan Gunungan
Kepala Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang bersama tokoh masyarakat dan sesepuh tradisi setempat, saat acara larung di waduk Karangkates belum lama ini. (Foto: Dokumen Pribadi)
A-AA+
Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang menyimpan cerita kearifan lokal yang masih terus dijaga dan dilestarikan masyarakatnya sampai hari ini. 
Di antaranya, menggelar kirab tumpeng gunungan dan larung sesaji di waduk Karangkates Sumberpucung. Acara ini biasanya digelar bertepatan bulan Suro.
"Tujuan dan harapan dari tradisi kirab dan larung itu, sebagai wujud syukur kepada Tuhan YME, agar para petani dan nelayan selalu mendapat berkah dan rahmat serta terhindar dari malapetaka," terang Gatot Sundariono, salah satu Ketua RW di Desa Senggreng, Rabu (15/7/2026).
Untuk tumpeng yang dipersembahkan, berupa gunungan yang disusun dari sayur-mayur dan buah buahan. Selain itu, juga ada tumpeng gunungan terbuat dari aneka ikan hasil budi daya dari karamba apung nelayan di wilayah waduk Kecopokan yang bermuara ke waduk Karangkates. 
Dalam tradisi larung ini, dilakukan masyarakat dengan menaiki perahu nelayan setempat. Tradisi ini merupakan acara tahunan yang juga diselenggarakan Padepokan Cahyoningnur Kamulyaning Jagad Rekso direkso Desa Senggreng.

MALANG Menurut Gatot, panen raya karamba ikan di Dusun Kecopokan Senggreng dilakukan satu tahun sekali pada saat air surut. Namun demikian, budidaya ikan bisa dipanen setiap saat karena waktu tabur bibit selalu terus menenus.

"Berkah hasil dari budidaya ikan di Kecopokan ini bisa dipanen sewaktu-waktu tergantung kebutuhan nelayan," terangnya.

Advertisement

Ditambahkan, rata-rata nelayan pemilik karamba apung wara setempat mempunyai 5 petak karamba. Setiap petaknya, rata-rata bisa menghasilkan 1 ton ikan setiap tahunnya. Ikan biasanya panen raya di bulan November sampai Desember.

Gatot sendiri merupakan nelayan keramba apung yang punya satu petak keramba berukuran 25 x 50 meter, dengan kapasitas tebar bibit ikan bisa sebanyak 50 ribu ekor.

Melestarikan Tradisi Kearifan Lokal

Di Desa Senggreng Sumberpucung, terdapat Padepokan Cahyoningnur Kamulyaning Jagad Rekso direkso, yang berada di Dusun Kecopokan Desa Senggreng Sumberpucung. Padepokan ini dipimpin Lucky Adi Candra, yang akrab dipanggil Gus Condro. 

Menurut Gatot yang juga anggota padepokan tersebut, pengikut dari padepokan ini juga datang dari luar kota bahkan sampai luar pulau. Adapun kegiatan yang dilakukan di padepokan ini meliputi bidang kerohanian lintas agama, sosial dan budaya. 

Di bidang kerohanian, menurutnya mengupas tentang laku spiritual yang condong Kejawen. Sedangkan, di bidang sosial, setiap bulan Ramadan mengadakan santunan anak yatim dan kaum dluafa. Khusus di bulan Suro, biasanya digelar acara grebeg Suro.

"Untuk bidang budaya, karena jama'ahnya rata-rata juga pelaku seni, maka yang dikembangkan adalah kearifan lokal. Seperti, belajar perhitungan pawukon, menggali kitab Jawa, belajar ujub kenduri, karawitan dan tari dan lainnya," ungkap Gatot.

Advertisement
Setiap 10 Juli 2026, yang rutin dilakukan bertepat bulan Suro, digelar acara Bersih Desa Senggreng yang diisi wayangan, kenduri, tayub di tempat keramatan atau pedanyangan. 
Kegiatan Bersih Desa ini, kata Gatot, intinya dengan mengenang dan mengagungkan leluhur yang diyakini masyarakat telah babat alas membuka desa setempat. 
Ditambahkan, masyarakat Desa Senggreng meyakini leluhur atau cikal bakal yang babat alas desa ada tujuh orang. Dimana, di Desa Senggreng kini dipimpin Kades Rendyta Witrayani S., yang mencakup tiga wilayah pedukuhan, yakni Dusun Krajan, Dusun Ngrancah dan Dusun Kecopokan. 
Di Dusun Krajan, terdapat tiga tokoh pedanyangan yakni Ki Malang Joyo, Ki Kromo dikoro, dsn Ki Kromo Leo. Sementara, di Dusun Ngrancah ada tiga tokoh, yakni Ki Samber nyowo, Ki Regunung, Ki Truno wongso. Di dusun Kecopokan, diyakini hanya ada satu tokoh, yakni Ki Wonodipo. 
Masyarakat setempat meyakini, dari ketujuh tokoh tersebut semua berasal dari daerah mentaraman, dan masih ada hubungan kerabat dari Eyang Djugo Gunung Kawi. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Khoirul Amin
PenulisKhoirul AminAhli Madya Bahasa Inggris Dan Dunia Usaha Universitas Negeri Malang (2001). Bergabung di TIMES Indonesia sejak Oktober 2024. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains (pendidikan), seni, budaya dan kegiatan sosial keagamaan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia