Advertisement
Peristiwa Daerah

Imbas Kenaikan Harga Sebanyak Lima Kali, Pedagang Daging Sapi di Lamongan Mogok Berjualan

Aksi mogok massal ini diikuti oleh sedikitnya 19 pedagang daging sapi yang tersebar di tiga pasar utama di Kecamatan Lamongan, yakni Pasar Sidoharjo, Pasar Ikan Lamongan, dan Pasar Made.

TIMES Indonesia,
Imbas Kenaikan Harga Sebanyak Lima Kali, Pedagang Daging Sapi di Lamongan Mogok Berjualan
Salah satu pedagang sapi di Pasar Sidoharjo Lamongan, Bagus Budi Raharjo menutup kiosnya selama tiga hari untuk merespon naiknya harga daging sapi, Rabu (15/7/2026) Foto : Moch. Nuril Huda/TIMES Indonesia)
A-AA+

LAMONGAN Pemandangan tak biasa terlihat di sejumlah pasar tradisional di Kecamatan Lamongan. Kios-kios yang biasanya riuh dengan aktivitas jagal dan transaksi mendadak senyap. Tidak ada sepotong pun daging sapi yang bergelantungan. Para pedagang kompak melakukan aksi mogok jualan massal.

Langkah ekstrem ini diambil sebagai bentuk protes sekaligus jeritan frustrasi para pedagang atas meroketnya harga daging sapi. Tidak tanggung-tanggung, lonjakan harga bulan ini merupakan kenaikan untuk kali kelima sepanjang tahun 2026.

Advertisement

"Jadi sejak Minggu sore, kita diberitahu para pedagang sapi hidup dan sapi potongan (jagal), bahwa ada kenaikan lagi untuk kali kelima dalam tahun 2026 ini," kata salah satu pedagang di Pasar Sidoharjo Lamongan, Bagus Budi Raharjo, kepada wartawan, Rabu (15/7/2026).

Aksi libur serentak ini disepakati akan berlangsung selama tiga hari ke depan. Langkah ini diambil setelah paguyuban pedagang menggelar rapat darurat pada Senin lalu, merespons gelombang komplain dari konsumen yang tak terbendung.

Terburuk dalam 10 Tahun Terakhir

Bagus membeberkan, pada Januari 2026 lalu, harga daging sapi bagian sampil (kategori medium) masih bertengger di angka Rp 110.000 per kilogram. Namun, harga merangkak naik bertahap hingga menyentuh Rp 130.000 per kilogram pada Juli ini. 

"Kami menyadari, kebutuhan dan penyerapan daging ini cukup meningkat setahun terakhir. Tapi ini baru kali pertama sejak 10 tahun terakhir, harga daging sapi naik sampai 5 kali dalam setengah tahun. Itu baru terjadi pada tahun ini," katanya. 

Bagi pedagang, situasi ini bak buah simalakama. Menaikkan harga jual ke konsumen berarti siap-siap kehilangan pembeli. Menahan harga lama berarti menelan kerugian. Libur tiga hari dipilih sebagai cara "menenangkan psikologis" pedagang yang terus-menerus mendapat komplain pelanggan.

Advertisement

Dampak kenaikan harga ini sebenarnya sudah memukul telak omzet pedagang sejak Mei lalu, yang merupakan musim hajatan pernikahan. Daging sapi bukan lagi pilihan utama masyarakat.

"Yang paling dihadapi para pedagang itu jelas turunnya permintaan. Contoh, di musim nikah, hajatan, kemarin banyak masyarakat beralih ke menu ayam dan sebagainya. Kenaikan yang sampai 5 kali itu membuat gap (selisih) terlalu jauh. Akhirnya masyarakat lebih memilih menu-menu alternatif yang lebih terjangkau," ucapnya. 

Aksi mogok massal ini diikuti oleh sedikitnya 19 pedagang daging sapi yang tersebar di tiga pasar utama di Kecamatan Lamongan, yakni Pasar Sidoharjo, Pasar Ikan Lamongan, dan Pasar Made. Para pedagang berharap stabilitas stok sapi hidup segera dibenahi agar harga kembali rasional.

"Kami prinsipnya para pedagang sederhana, kami berharap ketersediaan sapi sesuai kebutuhan masyarakat. Selama itu terpenuhi, gejolak saya pikir akan bisa diminimalisir," ujar Bagus. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Moch Nuril Huda
PenulisMoch Nuril HudaPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2020. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia