Kampung Kue Surabaya, Membangun Martabat dan Ekonomi Perempuan Pasca Krisis 1998
Kampung Kue Rungkut Surabaya sukses menjadi pusat industri jajanan tradisional dan wisata edukasi. Berawal dari pemberdayaan perempuan korban PHK, kini tembus pasar digital E-Peken.
SURABAYA – Sebuah gapura kecil bertuliskan "Kampung Kue" di Jalan Kali Rungkut Lor Gang II Surabaya menyambut kedatangan para pengunjung. Di gang yang ramai menjadi penghubung antarjalan ini, puluhan jenis jajanan tradisional tersusun di atas baki pedagang, salah satunya lapak milik pasangan suami istri Junari dan Maryati.
Kebutuhan konsumsi kue tradisional di kawasan ini terbilang tinggi, baik untuk eceran, acara kantor, selamatan, hingga musim hajatan. Menariknya, para pedagang di kawasan ini tidak memproduksi sendiri seluruh dagangannya, melainkan dipasok oleh warga RT 05 RW 04 Kelurahan Kali Rungkut Surabaya.
"Ini yang bikin satu RT," kata Junari, Rabu (15/7/2026).
Para produsen menyetorkan dagangan ke lapak saat pagi hari dan mengecek kondisi kue basah pada siang hari untuk memastikan kualitasnya. Saat petang, kue basah ditarik, sementara jenis kue kering tetap dijajakan hingga malam hari.
Terdapat sekitar 70 macam kue yang dijual, mulai dari lemper, donat, wingko, puding, kue perut ayam, nagasari, hingga aneka nasi kotak dengan harga mulai dari Rp2.000. Junari membuka lapaknya hingga pukul delapan malam, sementara sebagian besar pedagang lain beroperasi hingga pukul tiga sore.
Meski ada sekitar 11 pedagang serupa di sepanjang gang, Junari mengaku tidak ada persaingan bisnis yang tidak sehat karena seluruhnya bernaung di bawah Paguyuban Kampung Wisata Kue Surabaya.
"Semua rukun, soalnya yang buka lapak sedikit, tapi yang bikin kue satu RT. Makanya namanya Kampung Kue. Secara bisnis menjanjikan karena bisa membantu ekonomi keluarga," jelas Junari.
Sejarah Berdirinya Kampung Kue
Eksistensi Kampung Kue yang berdiri sejak tahun 2005 ini tidak lepas dari peran Choirul Mahpudua. Ia menginisiasi pembentukan pusat industri makanan dan wisata edukasi ini dengan merangkul ibu-ibu rumah tangga dan mantan pekerja pabrik yang terdampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat krisis moneter pascareformasi 1998.
"Tahun itu mulai saya gagas. Kalau dihitung sampai sekarang, Kampung Kue menunjukkan betul-betul sebagai kampung unggulan. Anggotanya saat ini sudah mencapai 68 orang yang rata-rata adalah produsen," ujar Choirul Mahpudua, pendiri sekaligus Ketua Paguyuban Kampung Wisata Kue Surabaya.
Choirul menjelaskan, keberadaan Kampung Kue berhasil mengubah ekonomi warga. Sektor yang awalnya hanya menjadi pekerjaan sampingan kini telah bertransformasi menjadi sumber penghasilan utama keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan anak.
Secara sosial, gerakan ini juga melipatgandakan modal sosial dan keguyuban antarwarga. Untuk mempermudah transaksi di era digital, para pedagang saat ini juga telah menyediakan opsi pembayaran nontunai bagi konsumen.
Sinergi Pemasaran dan Digitalisasi E-Peken
Perkembangan Kampung Kue turut didukung oleh sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholder), termasuk Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Pemkot Surabaya memberikan kemudahan dalam pengurusan perizinan serta memfasilitasi pemasaran melalui katalog belanja daring resmi, E-Peken.
Selain itu, paguyuban juga menggandeng akademisi, perusahaan swasta, BUMN, hingga organisasi non-pemerintah untuk memperluas jaringan pasar. Bahkan, beberapa produk kue dari kampung ini sempat masuk dalam menu penerbangan maskapai ternama.
Perempuan berusia 57 tahun asal Kota Kediri ini optimistis Kampung Kue akan terus berkembang selagi tradisi masyarakat dalam menggunakan jajanan tradisional pada kegiatan keagamaan dan selamatan tetap terjaga.
"Sekecil apa pun usaha, Anda adalah bosnya. Kuncinya ada pada kebersamaan. Saya berharap Kampung Kue tetap eksis melintasi zaman, semakin maju, dan generasi muda tetap mencintai jajanan lokal," pungkas Choirul. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


