Banyak Masalah di Wilayah Geothermal Dieng, Kita Institute Gelar Pertemuan dengan Aktivis Banjarnegara
Kita Institute gelar Lingkar Belajar Transisi Energi di Banjarnegara, himpun aktivis dan masyarakat untuk mengadvokasi keadilan bagi warga sekitar Geothermal Dieng.
BANJARNEGARA – Prihatin banyak permasalahan sosial di wilayah Geothermal Dieng Banjarnegara dan Wonosobo, Kita Insitute melakukan pertemuan dengan sejumlah elemen masyarakat dan aktivis Banjarnegara dalam kegiatan Gelar Lingkar Belajar Transisi Energi Banjarnegara di Saung Bu Mansyur, Parakacanggah, Rabu (15/7/2026).
Untuk diketahui, Kita Institute adalah sebuah lembaga non pemerintah yang berbasis di Wonosobo. Kegiatan bertemakan 'Peningkatan Partisipasi Masyarakat dan Kualitas Pelayanan Publik di Wilayah Geothermal' ini bertujuan untuk membantu menyelesaikan beberapa persolan yang menimpa masyarakat yang tinggal tidak jauh dari lokasi atau kawasan sumur produksi milik PT Geodipa Energi.
Kegiatan diikuti oleh mahasiswa, Serayu Net Work, lintas komunitas, Pemuda Muslimin Banjarnegara, DPD KNPI Banjarnegara.
Menurut Moh Dimas Adji Saputra dari Kita Institute, lingkar belajar transisi energi dapat menjadi wadah konsolidasi untuk memperkuat advokasi kebijakan yang berkelanjutan termasuk mengidentifikasi dan menganalisis
isu-isu pelayanan publik yang paling krusial di wilayah geothermal dari perspektif organisasi masyarakat
Dengan terbukanya ruang ini diharapkan muncul kolaborasi yang lebih baik antara penyelenggara pelayanan dan warga .
Terpisah Astin Meiningsih, koordinator program solidaritas Kita Institut mengungkapkan, pihaknya mengumpulkan teman - teman aktivis untuk bersama - sama perduli melihat kondisi di wilayah Geotermal Dieng, yang sampai hari ini, masih memberikan dampak negatif dan belum terselesaikan.
"Kami ingin teman - teman di lingkar Banjarnegara ini kemudian punya komitmen dan rasa memiliki karena wilayah atas juga wilayah Banjarnegara, bahwa ketika ada ketidakadilan di sana, maka semuanya wajib peduli," katanya
Astin mengaku tengah melakukan beriktiar dengan harapan muncul kesadaran bersama, dalam forum ini, bahwa persolan di (Dieng) tidak hanya menjadi persoalan warga Batur saja tetapi menjadi menjadi persoalan bersama.
Persoalan krusial yang terjadi hari ini lanjut dia diantaranya, masih ada gep komunikasi misalnya, ada dampak air yang dirasakan oleh masyarakat, yang berubah menjadi asin dan asam bahkan ada di beberapa tempat tidak dapat digunakan.
"Nah kenapa ini penting, kita ikut peduli, karena masyarakat harus mencari sumber mata air yang sangat jauh dari lokasi tersebut. Bahkan di forum ini diketahui, bahwa ada sebuah desa yang tidak ada dalam pantauan kami, ternyata mereka mengambil sumber mata air bersih dari wilayah yang masih terdampak," ujarnya.
Sehingga semua kasus ini menjadi masalah yang harus diselesaikan. Sementara masyarakat diatas ini, seolah tidak berdaya karena mereka masih melangkah sendiri - sendiri.
"Makanya saat kita bersatu, ini bukan salam rangka menolak keberadaan PLTP, tetapi bagaimana bahwa Transisi Energi itu harus berkeadilan, salah satunya pelibatan masyarakat penuh," ujarnya.
Mereka lanjut dia juga harus mendapatkan berkahnya, misalkan lapangan pekerjaan, penyelesaian saat ada dampak negatif, perusahaan berkewajiban untuk menyelesaikan secara adil, cepat dan tepat.
Salah satu aktivis lingkungan, Maman Fansyah, yang juga sebagai ketua dewan pembina, Serayu Network menilai kegiatan seperti sangat positif.
Dengan forum seperti ini, kita dapat saling mengenal, berkolaborasi untuk memberikan edukasi sekaligus menyelesaikan masalah - masalah yang dihadapi oleh warga Banjarnegara dan sekitarnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


