Advertisement
Peristiwa Daerah

Krisis Air Bersih Hantui Majalengka, Warga Tempuh Kilometer Demi Setetes Kehidupan

Warga Desa Pilangsari Majalengka harus menempuh hingga 2,5 km dan mengantre jerigen tiap hari di musim kemarau demi mendapatkan air bersih karena sumur mengering dan PDAM belum merata.

TIMES Indonesia,
Krisis Air Bersih Hantui Majalengka, Warga Tempuh Kilometer Demi Setetes Kehidupan
Warga di Desa Pilangsari, Kabupaten Majalengka antre ambil air dari sumur pompa. (FOTO: Jaja Sumarja/TIMES Indonesia)
A-AA+

MAJALENGKA Fajar belum sepenuhnya merekah ketika deru sepeda motor mulai memecah sunyi Desa Pilangsari, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Di tengah musim kemarau yang kian menggigit, warga bergegas menyusuri jalanan desa, menempuh jarak 1,5 hingga 2,5 kilometer demi satu tujuan: mendapatkan air bersih.

Advertisement

Sumur-sumur warga perlahan mengering. Sumber kehidupan yang dulu dekat kini menjauh, memaksa masyarakat bergantung pada sumur pompa di ujung desa.

Sejak pukul 05.00 WIB hingga 09.00 WIB, lalu kembali sore hingga malam hari, antrean jerigen berkapasitas 20 hingga 40 liter menjadi pemandangan yang tak terelakkan.

Air yang mereka bawa bukan sekadar cairan, melainkan harapan untuk mandi, mencuci, hingga memasak. Sebagian warga bahkan masih mengandalkan air sumur untuk diminum, meski tak sedikit yang beralih ke air galon demi keamanan.

Warkiah, salah satu warga, mengisahkan rutinitas yang telah menjadi bagian dari hidupnya setiap musim kemarau. Dengan empat jerigen yang diangkut menggunakan sepeda motor, ia harus bolak-balik dua kali sehari.

"Hampir setiap kemarau kami seperti ini, pagi dan sore mengangkut air dari sumur pompa. Di sini airnya jernih dan layak dipakai," ujarnya, Senin (20/7/2026).

Advertisement

Tingginya kebutuhan membuat antrean panjang tak terhindarkan. Warga harus bergiliran memompa air, bahkan sebagian memilih datang larut malam untuk menghindari kepadatan.

Kondisi ini diperparah oleh belum meratanya akses jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Meski infrastruktur telah menjangkau wilayah tersebut, tidak semua rumah tersambung. Selain itu, aliran air yang kadang melemah membuat warga tetap bergantung pada sumber air alternatif.

Wawan, warga lainnya, mengungkapkan bahwa sebagian masyarakat juga masih enggan menggunakan air PDAM untuk kebutuhan konsumsi.

"Ada yang tidak mau pakai air PDAM untuk minum karena sumbernya dari Sungai Cimanuk. Mereka merasa air sumur lebih bersih," katanya.

Ia menambahkan, setiap kemarau tiba, sumur-sumur di permukiman hampir pasti mengering. Warga pun menggantungkan harapan pada dua sumur di sisi barat dan timur desa yang tak pernah surut.

"Sumur itu jadi andalan kami. Semua warga ke sana," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Teknis PDAM Majalengka, Rolan Rosisendra, mengakui bahwa cakupan layanan di Desa Pilangsari memang belum merata. Meski demikian, ia memastikan distribusi air tetap berjalan setiap hari, meski volume bisa menurun saat konsumsi meningkat.

"Jaringan PDAM sudah masuk, tapi belum seluruh warga terlayani. Kalau aliran kecil saat pemakaian tinggi itu mungkin, tapi air tetap mengalir setiap hari," jelasnya.

Kisah Pilangsari, Kabupaten Majalengka, menjadi potret nyata tantangan ketersediaan air bersih di musim kemarau. Di tengah keterbatasan, warga terus berjuang, menempuh jarak dan waktu, demi memastikan kehidupan tetap mengalir setetes demi setetes. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Jaja Sumarja
PenulisJaja SumarjaBergabung di TIMES Indonesia sejak 2019. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum dan kriminal, pemerintahan, pendidikan, seni, budaya serta isu lainnya
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia