Empat Tahun Menembus Kobaran Api, Damkarmat Banyuwangi Selamatkan Warga
Empat tahun berkiprah sejak 2022, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Banyuwangi terus membuktikan dedikasinya.
BANYUWANGI – Empat tahun berkiprah sejak 2022, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Banyuwangi terus membuktikan dedikasinya. Tak hanya berjibaku melawan panasnya kobaran api, tetapi juga selalu hadir menjadi tumpuan warga ketika butuh pertolongan.
Ya, Ksatria biru dengan prinsipnya 'Pantang Pulang Sebelum Padam' ini, selalu siap mengulurkan tangan tanpa pandang bulu. Tak hanya berjibaku menaklukkan api di pemukiman, toko, maupun lahan, Damkarmat juga menjadi benteng perlindungan warga dari berbagai ancaman.
Mulai dari mengevakuasi ular berbisa, sarang lebah, dan hewan liar lainya, bahkan kadang membantu menyelamatkan ternak atau peliharaan warga yang terperosok ke dalam sumur. Sisi humanis instansi ini juga menyentuh hal-hal tak terduga. Adakalanya petugas menjadi pendengar setia bagi warga yang butuh tempat curhat, tak sedikit pula mereka juga menjadi garda terdepan dalam aksi pencarian dan evakuasi korban bencana.
Namun disini masalahnya, wilayah pelayanan yang membentang luas serta beban tugas yang makin berat, menuntut perhatian serius bagi Damkarmat Banyuwangi. Penguatan instansi ini rasanya jadi kebutuhan mendesak yang patut ditempatkan sebagai salah satu skala prioritas pembangunan daerah.
Bagaimana tidak, Banyuwangi memegang predikat sebagai kabupaten terluas di Jawa Timur. Menampung sekitar 1.812.709 jiwa, wilayah yang mencapai 5.783 Kilometer persegi ini terbagi ke dalam 25 kecamatan serta 217 desa dan kelurahan.
Memiliki lanskap yang bervariasi mencakup kawasan permukiman padat, pegunungan, hutan, hingga pesisir, Banyuwangi memikul risiko kedaruratan yang cukup tinggi. Kebakaran dan bencana alam senantiasa mengintai di balik keragaman geografisnya.
Bak perang tanpa pasukan, itu adalah ujian berat bagi Damkarmat Banyuwangi. Dari total 50 personel yang dimiliki, hanya 28 orang yang bertugas di garda depan pemadaman kebakaran. Saban hari, satu regu piket hanya diisi 6 personel. Alhasil, daya tanggap mereka teruji habis-habisan saat beberapa insiden terjadi dalam waktu bersamaan.
Kondisi ini menyulitkan petugas untuk memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) waktu tanggap 15 menit, terutama jika terjadi insiden bersamaan di lokasi berjauhan.
"Ditambah 13 orang relawan, rasanya dengan jumlah personel yang ada, termasuk armada yang termasuk tua, kami sangat sulit ketika melakukan pelayanan disejumlah tempat yang berjauhan sekaligus," ucap Kepala Dinas Damkarmat Banyuwangi, Edy Supriyono, Rabu (22/7/2026).
"Jika bicara luas wilayah di Bumi Blambangan, minimal petugas lapangan Damkarmat ada sebanyak 126 personel," tambahnya.
Bukan cuma krisis personel, permasalahan juga diperparah oleh minimnya sarana dan prasarana. Saat ini, Damkarmat Banyuwangi hanya mengandalkan tiga Pos Sektor yaitu Srono, Bangorejo, dan Genteng. Ironisnya, tiap sektor hanya dibekali satu unit mobil tangki dan satu kendaraan rescue, dengan hanya satu petugas yang berjaga setiap piket.
Sementara di Markas Komando (MAKO), armada yang tersedia hanya lima unit mobil pemadam kebakaran untuk melayani seluruh wilayah Bumi Blambangan.
"Walau terlambat karena peralatan kita yang minim dan sudah tidak memadai, tapi kita tetap berupaya bagaimana melayani masyarakat," tutur Edy.
Apabila melihat data, Banyuwangi seakan tak pernah sepi dari ancaman marabahaya. Sejak 2022 hingga 2026, Damkarmat mencatat ada lebih dari 120 kejadian kebakaran setiap tahunnya.
Dari catatan itu, personel Damkarmat Banyuwangi harus merespons lebih dari 3 panggilan darurat setiap hari. Mulai dari memadamkan api, menjinakkan hewan berbahaya, menolong warga butuh bantuan, mengevakuasi korban kecelakaan, hingga menyelamatkan warga dari dampak bencana alam.
Tingginya beban kerja tersebut menjadi alarm bagi Pemkab Banyuwangi. Damkarmat amat membutuhkan tambahan sarana dan prasarana guna menunjang aksi pemadaman serta penyelamatan. Bagaimanapun, unit pendukung yang memadai adalah kunci utama mewujudkan layanan yang cepat, tepat, dan maksimal bagi masyarakat.
Untuk itu, kebutuhan mendesak operasional saat ini tertuju pada mobil tangga (Aerial Ladder) untuk menjangkau bangunan tinggi, termasuk penambahan armada pemadam dan mobil rescue. Bukan itu saja perluasan pos sektor strategis juga mutlak diperlukan demi mempercepat waktu tanggap di lapangan.
"Apalagi perlunya pos Sektor baru di wilayah Wongsorejo karena rawan karhutla," kata Edy.
Sebenarnya melengkapi sarana prasarana itu telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, urusan pemadam kebakaran dan penyelamatan merupakan bagian dari pelayanan dasar yang wajib diselenggarakan pemerintah daerah. Hal serupa juga tertuang dalam Permendagri Nomor 114 Tahun 2018 tentang Standar Teknis Pelayanan Dasarpada standar pelayanan minimal Sub Urusan Kebakaran daerah kabupaten/kota.
Menurut Damkarmat Banyuwangi, penguatan kapasitas bukan sekadar memenuhi kebutuhan organisasi, melainkan bentuk perlindungan nyata terhadap keselamatan jiwa, harta benda, dan lingkungan masyarakat.
"Kebakaran bukan hanya menghanguskan bangunan, tetapi juga dapat menghilangkan hasil kerja keras masyarakat yang dikumpulkan selama puluhan tahun hanya dalam waktu kurang dari satu jam," papar Edy.
"Dampaknya tidak hanya berupa kerugian material, tetapi juga berpotensi menimbulkan kemiskinan baru, hilangnya mata pencaharian, serta terganggunya stabilitas sosial dan ekonomi keluarga," imbuhnya.
Oleh karena itu, masih kata Edy, penguatan Dinas Damkarmat Banyuwangi harus dipandang sebagai investasi bagi keselamatan masyarakat.
"Penambahan personel, pembangunan pos sektor, modernisasi peralatan, serta pengadaan armada yang memadai merupakan langkah strategis untuk mewujudkan pelayanan yang cepat, tangguh, profesional, dan mampu menjangkau seluruh wilayah Banyuwangi secara optimal," harapnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


