Kebakaran Lahan Terjadi Setiap Hari, Wali Kota Palangka Raya Minta Warga Setop Bakar Lahan
Palangka Raya mencatat 98 kejadian karhutla sejak 1 Juni 2026 dengan luas terbakar 42,34 hektare. Wali Kota mengingatkan warga tidak membakar lahan dan menegaskan pelaku akan diproses hukum.
PALANGKARAYA – Sebanyak 98 kejadian kebakaran hutan dan lahan tercatat di Kota Palangka Raya sejak status siaga darurat karhutla diberlakukan per 1 Juni hingga 25 Juli 2026.
Menurut data BPBD setempat, Total luas lahan yang terbakar mencapai 42,34 hektare. Meliputi Kecamatan Jekan Raya menyumbang kejadian terbanyak, 67 kali, diikuti Sebangau (16 kali), Pahandut (12 kali), dan Bukit Batu (3 kali).
Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin, Sabtu (25/7/2026), mengimbau warga tidak membakar lahan sembarangan. Ia menyebut sebagian kebakaran diduga sengaja dibuat, bukan semata akibat cuaca kemarau.>
"Kalau disengaja, ya disengaja, apalagi di musim kemarau begini. Kapolres, Kajari, saya sudah koordinasi, mereka tegas," kata Fairid.
Ia mencontohkan kasus di Panarung, tempat Kapolsek setempat langsung meminta keterangan tertulis dari pemilik lahan begitu menerima laporan kebakaran. Pelaku yang terbukti sengaja membakar lahan, katanya, bisa dikenai pidana penjara.
Dua titik masih sulit dipadamkan diantaranya Jalan Robetson di Katimpun Permai, dan Jalan Kahuripan di belakang SPBE Kalampangan.
Sementara itu, Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satria Budi, mengatakan penyebabnya adalah luas area terbakar, kedalaman gambut, dan terbatasnya sumber air di lokasi.
Penanganan karhutla di Palangka Raya melibatkan 17 instansi dan kelompok masyarakat, di antaranya BPBD kota dan provinsi, Dinas Kehutanan Kalteng, Damkar, Manggala Agni, Polresta Palangka Raya, Kodim 1016, Satpol PP, serta sejumlah kelompok peduli api seperti BPK Amin Subur dan BPK Borneo Sektor.
Fairid mengatakan Palangka Raya diapit tiga kabupaten, Pulang Pisau, Katingan, dan Gunung Mas, dan asap dari wilayah tersebut kerap lebih terasa di Palangka Raya dibanding di daerah asalnya.
"Tumbang Nusa itu wilayah Pulang Pisau, tapi lebih dekat ke kota kita, dampaknya juga lebih ke Palangka Raya," katanya.
Ia menyebut terus berkoordinasi dengan bupati di tiga kabupaten itu untuk menangani karhutla di wilayah perbatasan.
"Saya cuma mengingatkan lagi ke masyarakat, jangan membakar lahan sembarangan," tutup Fairid. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

