Advertisement
Peristiwa Daerah

Pameran Tunggal, Agus Koecink Munculkan Lotus sebagai Simbol Kejernihan Pikiran

Agus Koecink gelar pameran tunggal ke-9 “Meniti Keruh Memeluk Jernih” di Galeri Prabangkara, menampilkan 35 karya dekoratif yang merekam perjalanan kreatif sejak 1987.

TIMES Indonesia,
Pameran Tunggal, Agus Koecink Munculkan Lotus sebagai Simbol Kejernihan Pikiran
Pengunjung dan kolektor menikmati karya Agus Koecink dalam gelaran pameran tunggal di Galeri Prabangkara Taman Budaya Jawa Timur, Sabtu (25/7/2026).(Foto : Lely Yuana/TIMES Indonesia)
A-AA+

SURABAYA Pelukis Agus 'Koecink' Sukamto menggelar pameran tunggal ke-9 di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya.

Pameran bertajuk "Meniti Keruh Memeluk Jernih" ini berlangsung mulai 25-31 Juli 2026 dan menampilkan sekitar 35 karya.

Advertisement

Pelukis beraliran dekoratif kontemporer tersebut mengajak para penikmat seni menjelajahi perjalanan panjangnya dalam berkarya sekaligus menyematkan simbol-simbol sarat pesan filosofis mendalam.

Sebagaimana tema yang diusung, Agus yang dikenal telah malang melintang di galeri nasional maupun internasional itu menghadirkan lotus atau bunga teratai sebagai ikon dalam salah satu lukisannya.

"Ini adalah karya terbaru saya," kata Agus Koecink saat pembukaan pameran, Sabtu (25/7/2026).

Lukisan tersebut memiliki makna menjaga ketenangan di tengah segala kekacauan fenomena sosial. Teratai yang tumbuh cantik di belantara lumpur, mewakili keadaan bangsa ini. Demikian Agus Koecink selalu menyampaikan fenomena lewat estetika.

"Teratai hidup di lumpur tanah becek, tapi tetap mekar dengan indah. Kalau bisa di situasi ini jangan kita ikut larut, mari kita memberikan keindahan yang memberikan dampak positif bagi lingkungan," ucap Agus yang juga merupakan dosen seni rupa ini.

Advertisement

Karena baginya, seni bukanlah muara yang tenang, melainkan alir sungai yang terus bergerak—mengikis batu, menampung endapan keruh, hingga akhirnya menemukan kejernihannya.

Di sisi lain, pameran tersebut merupakan sebuah catat-jejak visual, sebuah retrospeksi sekaligus selebrasi atas perjalanan panjang eksplorasi seni rupa yang membentang sejak 1987 hingga 2026. 

Hasil representasi perjalanan mulai dari sketsa sampai menemukan garis dekoratif penuh warna ceria yang telah menjadi ciri khasnya

"Dulu saya suka dekoratif atau merias, kok saya lihat teknik dekoratif ini enak. Terus saya menggambar dekoratif lukisan kaca dan belajar di Sanggar Pelangi Tulungagung dan terus saya lanjutkan sampai sekarang," ujarnya.

Sementara judul "Meniti Keruh, Memikul Jernih" tidak sekadar lahir sebagai ungkapan puitis, melainkan sebuah metafora atas dialektika hidup dan proses kreatif sang seniman. 

Meniti keruh adalah keberanian untuk melangkah menembus kawah candradimuka perprosesan: menghadapi ketidakpastian, pergolakan batin, tantangan zaman, hingga benturan realitas kehidupan.

Sedangkan memikul jernih adalah muara dari keteguhan sikap—sebuah upaya sublimasi di mana segala beban, hambatan, dan pengembaraan rasa ditransformasikan menjadi kesadaran spiritual serta keindahan karya yang mencerahkan. 

"Proses kreatif seniman tidak tumbuh dalam ruang steril. Ia dibentuk oleh bentang geografis, perjumpaan antar-kultur, dan jejaring komunitas yang terus memberikan bahan bakar bagi imajinasi dan eksplorasi menjadi fondasi awal pemikiran dan teknik," ujarnya. 

Di sinilah akar estetika ditanam, mengasah kepekaan dasar sekaligus menyerap spirit lokalitas dan kebersamaan komunal yang bersahaja.

Agus mengaitkan empat simpul dinamika seni Nusantara yang saling melengkapi sebagaimana sejumlah kota dan negara yang pernah ia singgahi.

Surabaya memberi artikulasi ketajaman dinamika perkotaan; Ubud menawarkan kedalaman spiritualitas dan harmoni alam; Jogja dan Solo menyuntikkan denyut wacana kritis, tradisi, serta atmosfer eksperimentasi yang tanpa batas jejak perjumpaan lintas benua di Rouen menjadi ruang kontemplasi baru. 

Sementara di bawah langit Eropa, Agus Koecink diuji untuk membenturkan identitas ketimurannya dengan wacana seni global, menghasilkan daya lentur imajinasi yang makin memperkaya bahasa visualnya.

"Hampir empat dekade berlalu, perjumpaan demi perjumpaan—baik dengan tokoh, tempat, maupun peristiwa—bukanlah sekadar memori pasif. Kesemuanya berkelindan menjadi laboratorium eksperimentasi medium, bentuk, dan gagasan yang tiada putus. Hambatan dan badai kehidupan kerap hadir menyelimuti perjalanan ini," jelasnya.

Namun, alih-alih menyurutkan langkah, hambatan tersebut justru dijadikan batu ujian.

Sang seniman menyadari bahwa untuk sampai pada tahap "memikul jernih", seseorang harus berani menyeberangi dan meresapi "keruh" itu sendiri.

Setiap goresan, warna, dan tekstur yang hadir dalam pameran ini adalah saksi bisu dari proses pematangan jiwa yang tangguh.

Memasuki tahun 2026, pameran "Meniti Keruh, Memikul Jernih" menjadi sebuah panggilan untuk mengheningkan cipta.

Karya-karya yang teruji oleh waktu ini hadir bukan hanya sebagai rekaman jejak pribadi seniman, melainkan sebagai cermin bagi kita semua.

"Pada akhirnya, seni rupa di sini menjelma menjadi sarana untuk memurnikan beban hidup," tuturnya.

Lewat karya-karyanya ini, Agus Koecink mengajak penikmat seni untuk merayakan setiap proses penjelajahan—bahwa sejauh apa pun kita melangkah dan sekeruh apa pun rintangan yang menghadang, kejernihan spirit akan selalu dapat diraih jika kita terus setia meniti jalannya.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Lely Yuana
PenulisLely YuanaPernah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (AWS). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 8 September 2017. Meliput berbagai topik, termasuk politik, birokrasi, hukum, gaya hidup, seni dan budaya, serta isu sosial.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia