Advertisement
Peristiwa Daerah

Revitalisasi Tugu Koperasi Tasikmalaya Jadi Momentum Menghidupkan Semangat Kongres Pertama Koperasi Indonesia

Dekopin canangkan revitalisasi Tugu Koperasi Tasikmalaya dalam rangka HUT ke-79 Koperasi. Kongres Koperasi Pertama di Tasikmalaya (12 Juli 1947) melahirkan Hari Koperasi dan Dekopin. Ini simbol sejarah dan edukasi.

TIMES Indonesia,
Revitalisasi Tugu Koperasi Tasikmalaya Jadi Momentum Menghidupkan Semangat Kongres Pertama Koperasi Indonesia
Sejumlah pengurus Dewan Koperasi Indonesia saat melaksanakan konfrensi pers di Hotel Grand Metro Tasikmalaya, Sabtu (25/7/2026) malam. (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
A-AA+

TASIKMALAYA Semangat sejarah yang lahir di Kota Tasikmalaya kembali digaungkan dalam rangkaian peringatan Hari Koperasi ke-79. 

Panitia Hari Koperasi ke-79 menetapkan Pencanangan Revitalisasi Tugu Koperasi Tasikmalaya, lokasi bersejarah penyelenggaraan Kongres Koperasi Pertama Indonesia pada 12 Juli 1947, sebagai salah satu agenda penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan gerakan koperasi nasional.

Advertisement

Gagasan tersebut merupakan aspirasi Gerakan Koperasi Indonesia agar jejak sejarah yang lahir di Tasikmalaya tidak hanya dikenang sebagai peristiwa masa lalu, tetapi menjadi sumber inspirasi dalam membangun koperasi modern yang tetap berpijak pada semangat gotong royong, demokrasi ekonomi, dan kesejahteraan bersama.

Hal itu disampaikan Ketua Harian Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin), Ir. Priskhianti, MBA, saat menggelar konferensi pers di salah satu hotel di kawasan Jalan KHZ Mustofa, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, Sabtu (25/7/2026) malam.

Menurut Priskhianti, pencanangan revitalisasi tugu tersebut memiliki makna strategis karena Tasikmalaya merupakan tempat lahirnya tonggak penting perjalanan koperasi nasional. Dari kongres pertama itulah lahir berbagai keputusan bersejarah yang hingga kini masih menjadi fondasi gerakan koperasi Indonesia.

"Sebagian besar keputusan Kongres Pertama Koperasi telah diwujudkan, termasuk penetapan 12 Juli sebagai Hari Koperasi Indonesia. Karena itu, semangat perjuangan yang lahir di Tasikmalaya harus terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya," ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu keputusan monumental dalam Kongres Koperasi Pertama adalah pembentukan Sentra Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia (SOKRI), organisasi yang kemudian berkembang menjadi Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) sebagai wadah pemersatu gerakan koperasi nasional.

Advertisement

Menurutnya, keberadaan Dekopin hingga saat ini merupakan bukti bahwa cita-cita para pendiri koperasi masih terus hidup. Namun, tantangan koperasi saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa awal kemerdekaan sehingga diperlukan penguatan organisasi melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Priskhianti menegaskan bahwa salah satu amanat penting Kongres Pertama Koperasi adalah penyusunan program pendidikan dan penyuluhan koperasi. Amanat tersebut dinilai tetap relevan menghadapi dinamika ekonomi modern.

Ia menilai koperasi hanya akan berkembang apabila anggotanya memiliki pemahaman yang kuat mengenai prinsip-prinsip koperasi, tata kelola organisasi, serta pentingnya membangun kekuatan ekonomi secara kolektif.

"Pendidikan anggota merupakan fondasi utama koperasi. Kesadaran membangun kekuatan ekonomi bersama hanya dapat diwujudkan melalui proses pendidikan yang demokratis dan mampu menanamkan nilai-nilai kekeluargaan sebagaimana amanat konstitusi," katanya.

Menurutnya, koperasi bukan semata lembaga ekonomi, tetapi juga gerakan sosial yang bertumpu pada partisipasi masyarakat. Karena itu, penguatan koperasi harus dimulai dari peningkatan kapasitas anggotanya agar mampu menghadapi perubahan ekonomi, digitalisasi, hingga persaingan global.

Priskhianti juga mengingatkan bahwa Kongres Koperasi Pertama Indonesia berlangsung dalam situasi yang tidak mudah. Saat itu Indonesia masih berada dalam suasana Perang Kemerdekaan, namun para tokoh koperasi tetap mampu menyelenggarakan kongres nasional di Tasikmalaya.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan betapa besar semangat juang para pelopor koperasi yang tidak hanya memikirkan perjuangan politik, tetapi juga membangun fondasi ekonomi bangsa melalui koperasi.

Tokoh-tokoh koperasi dari Jawa Barat seperti Niti Sumantri, Kastura, KH. Luqman Hakim, bersama sejumlah tokoh lainnya, bahkan melakukan perjalanan menuju ibu kota negara di Yogyakarta untuk memperoleh dukungan pemerintah terhadap pelaksanaan kongres tersebut.

Mereka menemui Wakil Presiden Mohammad Hatta, yang dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia, serta R. Soerya Atmadja selaku Kepala Jawatan Koperasi dan Margono Djojohadikusumo, Kepala Bank Negara Indonesia saat itu.

Dukungan para tokoh nasional tersebut menjadi bagian penting dalam lahirnya gerakan koperasi Indonesia yang kemudian berkembang menjadi salah satu pilar ekonomi nasional.

Bagi Dekopin, revitalisasi Tugu Koperasi bukan sekadar pembangunan fisik sebuah monumen, melainkan upaya menghidupkan kembali memori kolektif bangsa mengenai perjuangan ekonomi rakyat yang lahir dari Tasikmalaya.

Monumen tersebut diharapkan menjadi pusat edukasi sejarah koperasi sekaligus destinasi sejarah nasional yang mampu memperkenalkan perjalanan koperasi Indonesia kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Priskhianti berharap seluruh pengurus dan anggota Dekopin di berbagai daerah tetap menjaga persatuan serta melanjutkan semangat perjuangan para pendiri koperasi.

Menurutnya, cita-cita ekonomi Indonesia yang berkeadilan sebagaimana tercantum dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 hanya dapat diwujudkan apabila koperasi terus diperkuat sebagai soko guru perekonomian nasional.

"Semangat perjuangan yang lahir dari Kongres Pertama Koperasi di Tasikmalaya harus terus menyala. Revitalisasi Tugu Koperasi menjadi simbol bahwa sejarah tersebut bukan untuk dikenang semata, tetapi menjadi energi dalam membangun koperasi Indonesia yang semakin kuat, mandiri, dan mampu menyejahterakan masyarakat," pungkasnya.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Harniwan Obech
PenulisHarniwan ObechSarjana Administrasi Negara, STIA YPPT Priatim, (Angkatan tahun 1994). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 18-04-2021, Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia