Demi Hadiri Muktamar ke-35 NU, Pria Asal Banjarnegara Ini Rela Gowes Sepeda Ontel ke Jombang
Sepeda yang menemaninya membelah jalanan antarkota bukanlah sepeda modern, melainkan sepeda ontel klasik bermerek Gazelle keluaran tahun 1953.
PACITAN – Pria asal Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Widhi Santoso (46), rela mengayuh sepeda ontel tua menembus jalur lintas provinsi menuju Diwek, Jombang, Jawa Timur, demi menghadiri Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
Padahal, ajang musyawarah tertinggi warga Nahdliyin tersebut baru akan digelar pada 27–31 Agustus 2026 mendatang.
Widhi ditemui TIMES Indonesia pada Minggu (26/7/2026) pagi di sebuah musala kawasan Klaten Selatan, Jawa Tengah, usai beristirahat dan melaksanakan salat subuh berjamaah.
Pria berambut panjang dan berkacamata itu mengaku sudah melakukan perjalanan selama tujuh hari sejak pertama kali mengayuh pedal sepedanya dari area pegunungan Dieng.
Bertolak Sejak Sabtu Malam
Widhi menceritakan awal mula perjalanannya yang dimulai pada pekan lalu dari tempat tinggalnya di kawasan dingin Banjarnegara.
"Saya berangkat Sabtu malam pekan lalu. Dari rumah sempat naik mobil sebentar turun ke area kota, setelah itu baru murni jalan mengontel," ujar Widhi saat berbincang santai.
Perjalanan menembus berbagai kota di Jawa Tengah menuju Jawa Timur ini ia lakoni tanpa rasa terburu-buru.
Bagi Widhi, perjalanan jauh mengendarai sepeda tua bukan lagi sekadar impian, melainkan hobi dan wujud refleksi diri yang sudah ia gemari sejak lama.
Menunggangi Sepeda Klasik Gazelle 1953
Sepeda yang menemaninya membelah jalanan antarkota bukanlah sepeda modern, melainkan sepeda ontel klasik bermerek Gazelle keluaran tahun 1953.
Uniknya, sepeda legendaris tersebut merupakan barang peninggalan almarhum ayahnya yang terus ia rawat hingga sekarang.
"Ini sepeda merek Gazelle buatan tahun 1953, peninggalan bapak. Sudah tiga kali ini saya pakai untuk perjalanan jauh keluar daerah. Dulu bahkan pernah saya pakai rute gowes sampai ke Bali," kenangnya.
Sebagai kendaraan tua, masalah teknis tentu kerap menghampiri di tengah jalan. Rantai kendur, rem aus, gotri buyar, hingga komponen yang perlu disetel ulang menjadi makanan sehari-hari di sepanjang rute.
Namun, Widhi tak ambil pusing. Sepanjang jalan, ia rutin mampir ke bengkel sepeda ontel lokal untuk memastikan tunggangannya tetap layak jalan.
Refleksi Diri dan Menikmati Masa Tua
Mengenai tujuannya ke Jombang yang dilakukan jauh sebelum gelaran Muktamar NU dimulai, Widhi menegaskan bahwa dirinya sengaja tidak mematok target waktu ketat.
Pria yang kini berstatus duda ini merasa tanggung jawab utamanya sebagai orang tua telah purna.
Anak tunggal laki-lakinya yang berusia 24 tahun sudah menyelesaikan studi sarjana dari Universitas Negeri Yogyakarta pada tahun 2025 lalu.
"Anak saya sudah besar, sudah lulus kuliah di UIN Yogyakarta tahun lalu. Sekarang tinggal menikmati hidup. Kalau cuma memikirkan urusan dunia terus, tidak akan ada habisnya," tutur Widhi filosofis.
Rehat di Musala hingga Penginapan
Selama melintasi berbagai wilayah, Widhi lebih sering memanfaatkan musala dan masjid di pinggir jalan raya sebagai tempat berteduh, beristirahat, sekaligus menunaikan ibadah.
Namun, ia juga tak memaksakan fisik bila rasa lelah yang amat sangat menghampiri.
"Tidur tidak tentu, seringnya di musala. Tapi kemarin sempat juga menginap di hotel dua hari karena badan rasanya pegal-pegal semua, butuh istirahat total," kelakarnya sambil tertawa.
Selain niat menghadiri Muktamar ke-35 NU di Diwek, Jombang, perjalanan spiritual ini juga ia manfaatkan untuk bersilaturahmi dan sowan ke para ulama serta tokoh NU di sepanjang rute yang ia lalui.
Usai melepas lelah dan merapikan perbekalannya di musala Klaten Selatan, Widhi kembali bersiap menaiki sepeda ontel Gazelle miliknya, melanjutkan kayuhan pedal demi pedal menuju Tanah Jombang. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


