Peristiwa Internasional

Kisah Empat Dokter Muslim yang Berjuang di Garis Terdepan Virus Corona Inggris

Kamis, 02 April 2020 - 17:12 | 86.60k
Kisah Empat Dokter Muslim yang Berjuang di Garis Terdepan Virus Corona Inggris
Dari kiri: Adil El Tayar, Alfa Sa'adu, Habib Zaidi, dan Amged el-Hawrani. Keempatnya merupakan dokter muslim yang meninggal dunia setelah berjuang di garis terdepan dalam pandemi corona di Inggris. (FOTO: courtesy of doctors' families)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Menjadi seorang muslim di negeri Eropa tentunya tidak mudah. Sentimen terhadap isu rasis dan terorisme masih sangat tinggi di sana. Namun di balik perlakuan itu, ada empat dokter muslim di Inggris yang meninggal dunia setelah berjuang di garis terdepan menangani virus corona.

Berikut ini adalah profil empat dokter muslim yang meninggal itu:

Amged el-Hawrani

Lahir di Sudan. Ia merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Amged el-Hawrani adalah dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) di rumah sakit universitas di Inggris bagian utara. El-Hawrani meninggal di rumah sakit dalam usia 55 tahun.

Dokter-Muslim-2.jpg

Adik bungsunya, Amal memberikan penghormatan kepada saudaranya, "Amged adalah seseorang yang sangat kuat dalam karakter, baik secara mental dan fisik, dia adalah orang yang tenang dan lembut," ujarnya dikutip melalui AlJazeera.

Beberapa minggu sebelum kematiannya, el-Hawrani mengkhawatirkan ibunya yang sudah lanjut usia yang sedang sakit. El-Hawrani menyelesaikan shift malamnya dan berkendara cukup jauh untuk menemuinya di Bristol, Inggris bagian barat daya. Pada saat itu, ia telah memiliki gejala flu ringan sebab terlalu banyak bekerja.

Habib Zaidi

Merupakan seorang dokter umum yang penuh dedikasi dan rela mengorbankan nyawanya. Ia adalah keturunan Pakistan.

Habib Zaidi pindah ke Inggris hampir 50 tahun yang lalu, kemudian bekerja di Leigh-on-Sea di Essex, Inggris bagian tenggara. Habib meninggal pada usia 76 tahun setelah terinfeksi Covid-19.

Christine Playle, 73, salah satu pasien Zaidi yang melakukan operasi kecil kurang dari tiga minggu sebelum kematiannya, mengatakan sangat terkejut dan sedih.

"Dr Zaidi adalah seorang dokter yang sangat disukai dan dihormati orang. Ia merupakan perwujudan dari dokter yang diidamkan semua orang," katanya.

Adil El Tayar

Ia merupakan seorang dokter ahli bedah Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) yang meninggal pada 25 Maret lalu, dalam usia 64 tahun. Sebagai spesialis transplantasi organ, ia lulus dari Universitas Khartoum, Sudan pada tahun 1982.

El Tayar bekerja di Rumah Sakit Wilayah Hereford di barat Inggris dan juga sebagai sukarelawan di departemen darurat pandemi. Dia mulai mengasingkan diri ketika dia menunjukkan gejala tetapi akhirnya dirawat di rumah sakit lalu meninggal.

Dokter-Muslim-3.jpg

Duta Besar Inggris untuk Sudan, Irfan Siddiq, memberikan penghormatan kepada ayah empat anak itu karena telah menunjukkan "keberanian luar biasa".

Hanya butuh 12 hari bagi Adil untuk beralih dari dokter yang tampaknya sehat dan mampu yang bekerja di rumah sakit yang sibuk menjadi berbaring rumah sakit.

Alfa Sa'adu

Alfa Sa'adu adalah seorang dokter veteran yang akan sangat Bahagia ketika berbicara tentang obat-obatan. Sa'adu lahir di Nigeria. Ia bekerja dengan NHS selama hampir 40 tahun.

Dia meninggal pada usia 68 tahun setelah berjuang melawan virus tersebut selama dua minggu.

Putra Sa'adu, Dani mengatakan, "Dia sangat suka mengajar orang-orang di dunia kedokteran, baik itu di Inggris maupun Afrika. Ayah saya pensiun dan bekerja paruh waktu di Rumah Sakit Ratu Victoria Memorial di Welwyn, Hertfordshire sampai meninggal dunia."

Mantan presiden Senat Nigeria, Bukola Saraki, memberikan penghormatan kepada Sa'adu melalui Twitter dengan mengatakan "kehormatan tertinggi untuk rakyat kami di diaspora".

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

KOPI TIMES