Peristiwa Internasional

4 Fakta Terbaru Pembakaran Alquran di Swedia yang Wajib Kamu Tahu

Jumat, 27 Januari 2023 - 13:04 | 98.62k
Ilustrasi demo di Swedia. (FOTO: TT News Agency/via REUTERS/Kicki Nilsson)
Ilustrasi demo di Swedia. (FOTO: TT News Agency/via REUTERS/Kicki Nilsson)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Peristiwa Pembakaran Alquran menjadi salah satu isu terhangat saat ini. Peristiwa tersebut akhirnya menuai banyak fakta menarik yang patut untuk dipertimbangkan.

Penistaan agama yang dilakukan oleh politikus partai sayap kanan Denmark, Rasmus Paludan dengan membakar salinan Alquran di Stockholm, Swedia pada Sabtu, 21 Januari 2023 lalu mendapatkan banyak respon dari berbagai kalangan.

Protes pada aksi tersebut juga dilatarbelakangi oleh demonstran yang menginginkan upaya untuk mengkritik NATO, kemudian Turki, hingga Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terkait adanya pengaruh kebebasan berekspresi di negara Swedia. Protes inilah kemudian memicu aksi Pembakaran Alquran.

Seperti diketahui, Swedia dan Finlandia tahun lalu telah mendaftar sebagai salah satu anggota dari NATO setelah serangan Rusia ke Ukraina, Akan tetapi hal tersebut harus melalui persetujuan 30 negara, dan salah satunya adalah Turki.

Inilah 4 Fakta Terbaru Terkait Pembakaran Alquran, Inilah Ulasannya

Adanya peristiwa tersebut dan beberapa hal yang terus berkembang hingga saat ini ada beberapa fakta terbaru mengenai Pembakaran Alquran yang patut untuk diketahui. Berikut adalah beberapa ulasan yang mungkin bisa menjadi alternatif informasi dari sudut Pandang lain.

1. Aksi Pembakaran Alquran Swedia Bukan yang Pertama

Fakta pertama yang perlu diketahui adalah bahwa peristiwa ini tidak terjadi hanya pada beberapa waktu terakhir saja. Bahkan menurut data setidaknya peristiwa pembakaran salinan kitab suci umat islam ini telah terjadi sejak tahun 2019 dengan pelaku yang sama.

Pada tahun 2019, Rasmus Paludan sebagai tokoh Pembakaran Alquran, dan aksi tersebut dilakukan dengan membungkusnya melalui daging babi. Akibat tindakan tersebut, terjadi banyak kecaman salah satunya dari perusahaan Facebook dengan keputusan untuk menangguhkan dan memblokir akunnya selama sebulan.

Peristiwa yang sama berlanjut pada tahun 2022, Rasmus Paludan sebagai tokoh dan pelaku utama kembali melakukan aksi pembakaran kitab suci tersebut tepatnya di Kota Linkoping, Swedia tepat di bulan april. Fakta terparahnya adalah Linkoping merupakan wilayah dengan mayoritas umat muslim di Swedia.

Aksi keji dari Paludan ini tentu melahirkan kecaman dan aksi besar besaran. Insiden ini setidaknya melibatkan 200 pengunjuk rasa yang terus melempari polisi dengan batu karena telah melindungi pelaku tersebut saat melakukan aksi Pembakaran Alquran.

Merasa tidak puas dengan hal tersebut maka massa bergerak dengan merusak sejumlah kendaraan polisi. Hasilnya dari kerusuhan tersebut banyak polisi cedera. Bahkan ditemukan beberapa pria bertopeng dalam massa tersebut menyerang polisi.

Dengan semua rentetan tersebut hingga puncaknya terjadi lagi pada januari 2023 ini maka kejahatan yang mengatasnamakan kebebasan berekspresi tersebut tampaknya perlu ditangani lebih serius.

2. Tokoh Pembakaran Alquran di Swedia Masih Sama

Fakta Kedua yang perlu diketahui adalah bahwa aksi ini dilakukan berkali-kali oleh tokoh yang sama yakni Rasmus Paludan. Bagi yang belum mengetahui Paludan sendiri merupakan salah satu tokoh politik dari Swedia dengan kecenderungan berada pada sisi pergerakan sebelah kanan.

Tepatnya di tanggal 16 Maret 2017, Paludan mulai mendirikan partai sayap kanan Stram Kurs di Denmark. Partainya tersebut merupakan sekelompok orang yang memang sejak awal memiliki kecenderungan anti islam. Hal inilah alasan sangat kuat bahwa aksi Pembakaran Alquran di Swedia kemarin tidak lepas dari isu islamophobia.

Pada awal berdiri partai tersebut masih mengalami kegagalan di tahun pertamanya berkompetisi di Denmark tahun 2017, partai ini gagal mengumpulkan suara lebih dari 200 dari berbagai kota, sehingga tidak mendapatkan kursi untuk memberikan perwakilan dalam anggota dewan.

Pria 41 tahun tersebut juga dikenal keras dalam mengkritik semua aspek TERKAIT islam. Dalam hubungannya dengan peristiwa tersebut, Hal tersebut bisa dibuktikan dengan Rasmus Paludan dengan kesempatan dan kebebasan dalam memiliki izin untuk membakar salinan Al-Qur'an langsung di depan gedung kedutaan Turki di Stockholm.

Bahkan adanya izin Pembakaran Alquran  tersebut terjadi bersamaan dengan hubungan yang masih rentan antara Swedia dan Turki, hal ini dipengaruhi oleh keputusan terakhir terkait adanya pengajuan Swedia agar bisa masuk menjadi anggota dari NATO

3. Pembakaran Alquran Memicu Ketegangan Swedia-Turki

Peristiwa tersebut tentu membuat ketegangan yang sebelumnya terjadi antara Turki dan swedia semakin memanas. Bahkan Turki mendesak Swedia untuk mengambil tindakan keras kepada pihak pelaku dalam hal ini Paludan dan semua kelompoknya agar bisa menyelamatkan marwah banyak umat islam.

Bahkan pihak dari turki juga mendesak pemerintah Swedia untuk ikut andil dalam menuntaskan adanya islamophobia yang semakin mencuat usai terjadi aksi Pembakaran Alquran.

Pihak Kementerian Luar Negeri Turki seperti dikutip dari Reuters menyampaikan secara resmi  "Kami mengutuk sekeras mungkin serangan keji terhadap Kitab Suci kami ... Mengizinkan tindakan anti-Islam ini, yang menargetkan umat Islam dan menghina nilai-nilai suci kami, dengan kedok kebebasan berekspresi yang sepenuhnya tak bisa diterima,".

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai pimpinan tertinggi juga menyampaikan beberapa tekanan kepada pihak Swedia. Dalam kesempatan beberapa waktu terakhir Erdogan menyampaikan bahwa Swedia tidak perlu mengharapkan dukungan dari Turki untuk bergabung dengan NATO Akibat terjadinya aksi pembakaran Alquran tersebut.

"Swedia seharusnya tidak mengharapkan dukungan dari kami untuk NATO," Ucap Erdogan dalam Komentar resminya, dilansir AFP, Selasa (24/1/2023).

"Jelas bahwa mereka yang menyebabkan aib seperti itu di depan kedutaan besar negara kita tidak dapat lagi mengharapkan kebaikan dari kita terkait permohonan mereka untuk menjadi anggota NATO," Lanjut Erdogan Menambahkan.

Dengan semua spekulasi tekanan yang dilakukan oleh pihak pemerintahan Turki dan juga presiden Erdogan maka harapan Swedia untuk bisa bergabung menjadi anggota Nato nampaknya semakin mengecil.

4. Pembakaran Alquran Memicu Kecaman Dari Lintas Agama

Fakta terakhir yang tentunya juga perlu diperhatikan adalah bahwa kecaman setelah aksi pembakaran salinan Al quran oleh Paludan ini tidak hanya datang dari umat islam saja. bahkan beberapa pemeluk agama lain ikut bersimpati dengan mengecam balik aksi tersebut.

Kecaman pertama datang dari komunitas Kristen Di Rusia, yang ikut mengutuk peristiwa pembakaran Alquran dalam aksi di Swedia tersebut. Kecaman ini disampaikan langsung oleh Ketua Departemen Sinode untuk Hubungan Gereja Rusia dengan Masyarakat serta Media Massa, yakni Vladimir Legoyda. 

 “Batas kemanusiaan tidak bisa dilanggar, dan kesucian agama tidak bisa dilukai dalam perjuangan politik,” Ucap Legoyda dalam satu akun sosial media Twitter, serta dilansir dari Daily Sabah.

Bahkan kutukan kerasa juga datang dari komunitas Yahudi yang tinggal di Turki juga, mereka mengatakan bahwa aksi pembakaran Alquran oleh politikus Partai Sayap Kanan, Rasmus Paludan merupakan suatu kejahatan yang dibalut oleh kebencian dan mengatasnamakan teror religius. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES