Advertisement
Peristiwa Internasional

Pasca Gempa, Suriah Kehabisan Obat dan Bahan ICU

Suriah kehabisan obat-obatan dan hingga bahan ICU saat jumlah korban tewas akibat gempa bumi Turki-Suriah terus bertambah, dan total hingga Sabtu pagi ini mencapai 23.700 ...

TIMES Indonesia,
Pasca Gempa, Suriah Kehabisan Obat dan Bahan ICU
Situasi dampak gempa Turki-Suriah. (Foto: Reuters)
A-AA+

JAKARTA Suriah kehabisan obat-obatan dan hingga bahan ICU saat jumlah korban tewas akibat gempa bumi Turki-Suriah terus bertambah, dan total hingga Sabtu pagi ini mencapai 23.700 orang.

Seorang ahli bedah umum di Rumah Sakit Pusat Idlib di Suriah barat laut, dr Mohamed Alabrash mengeluarkan permohonan bantuan mendesak.

Advertisement

"Kami menghadapi kekurangan obat dan instrumen. Rumah sakit penuh dengan pasien, begitu pula unit perawatan intensif," katanya seperti dikutip dari Al Jazeera.

"Kami tidak bisa menangani pasien dalam jumlah sebesar ini. Cedera pasien sangat berat, dan kami membutuhkan lebih banyak dukungan," katanya lagi.

Dia mengatakan pekerja medis di fasilitas tersebut berada di bawah tekanan ekstrim, bekerja sepanjang waktu.

"Semua staf medis bekerja selama 24 jam dan kami telah menghabiskan semua bahan yang kami miliki, dari obat-obatan hingga bahan ICU,” kata Alabrash, dan ia menambahkan bahwa generator rumah sakit juga hampir kehabisan bahan bakar.

Upaya penyelamatan Turki maupun Suriah hingga kini terus berlanjut meskipun para pencari dan penyelamat itu dibalut rasa putus asa menemukan para korban yang hidup setelah hampir enam hari sejak peristiwa gempa bumi berkekuatan 7,8 SR itu.

Advertisement

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga mengatakan upaya penyelamatan gempa tidak secepat yang diinginkan.

Kematian yang dikonfirmasi di Turki dan Suriah barat laut akibat gempa paling mematikan dalam 20 tahun di kawasan itu  total lebih dari 23.700.

Korban dari gempa berkekuatan 7,8, yang melanda pada dini hari Senin, serta beberapa gempa susulan yang kuat, telah melampaui 17.000 orang tewas pada tahun 1999 ketika gempa yang sama kuatnya melanda Turki barat laut.

Recep Tayyip Erdogan mengakui selama kunjungan ke provinsi Adiyaman pada hari Jumat bahwa tanggapan pemerintah bisa lebih baik.

"Meskipun kami memiliki tim pencarian dan penyelamatan terbesar di dunia saat ini, kenyataannya upaya pencarian tidak secepat yang kami inginkan," katanya.

Tim penyelamat dikabarkan "panik" karena harapan untuk menemukan korban yang selamat meredup setiap jam.

"Tim penyelamat "menggali puing-puing dan berharap menemukan beberapa orang hidup atau mati karena sekarang sudah lebih dari 96 jam dan harapan di sini memudar," kata seorang penyelamat saat berdiri di depan blok bangunan yang runtuh di Kahramanmaras di selatan Turki, dekat dengan pusat gempa pertama.

"Keluarga mereka ada di sini, menunggu dengan cemas. Skala kehancuran berada di luar gambaran," tambahnya.

Namun demikian beberapa waktu kemudian, tim penyelamat juga ada yang berhasil menggali seorang pria hidup-hidup dari bawah reruntuhan 110 jam sejak gempa terjadi.

Dilaporkan juga dari kota Gaziantep, ada satu keluarga yang semuanya hilang.

"Kami berbicara dengan seorang wanita di sini. Dia berkata, saya memiliki empat saudara laki-laki saya, ibu saya, sepupu saya, dan semua keponakannya, semuanya hilang dalam sekejap ketika bangunan itu benar-benar hancur dengan sendirinya," lapor Al Jazeera.

Menteri kesehatan Turki mengatakan, jumlah kematian di Turki naik menjadi 20.213 pada Jumat. Sedangkan di Suriah, lebih dari 3.500 telah tewas, dan masih banyak orang yang terjebak di bawah reruntuhan.

Pemerintah Suriah pada hari Jumat juga menyetujui pengiriman bantuan kemanusiaan melintasi garis depan perang 12 tahun negara itu, sebuah langkah yang bisa mempercepat kedatangan bantuan bagi jutaan orang yang putus asa.

Program Pangan Dunia mengatakan sebelumnya kehabisan stok di Suriah barat laut yang dikuasai pemberontak karena keadaan perang mempersulit upaya bantuan.

Saat ini Suriah panik karena kehabisan obat-obatan dan bahan ICU disaat jumlah korban tewas akibat gempa bumi yang berpusat di Turki itu terus bertambah dimana hingga Sabtu pagi ini totalnya mencapai 23.700 orang. (*) 

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Widodo Irianto
PenulisWidodo IriantoPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2015. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia