Kim Jong-un Panik dan Perintahkan Pasukan Korea Utara Siaga, Ada Apa?

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Kim Jong-un panik dan memerintahkan pasukannya siaga menghadapi latihan perang terbesar antara Amerika Serikat dan Korea Selatan di perbatasan Korea Utara.
Kim Jong-un menuduh AS bersiap menginvasi negaranya dalam latihan itu. Ini adalah latihan militer gabungan terbesar antara sekutu dalam lima tahun terakhir.
Advertisement
Kim Jong-un kemudian menembakkan serangkaian rudal sesuai janjinya untuk mengambil "tindakan balasan terberat" terhadap latihan bersama dengan Korea Selatan itu.
Kim Jong-un seperti dilansir The Sun memandang, latihan bersama AS dan Korea Selatan itu adalah latihan invasi. Karena itu dengan panik ia memerintahkan pasukannya untuk bersiaga dalam menanggapi gerakan persiapan perang AS dan Korea Selatan itu.
Padahal AS dan Korea Selatan mengatakan, latihan itu bersifat defensif, meski Korea Utara memandang latihan militer itu sebagai ancaman keamanan utama.
AS telah meningkatkan aliansinya di wilayah tersebut di tengah meningkatnya ancaman nuklir Korea Utara yang sudah lebih 70 menguji coba rudalnya tahun lalu.
Tahun lalu, Kim Jong-un juga terus memperluas persenjataan nuklirnya dan melepaskan rentetan uji coba rudal yang dilarang .
Kolonel Angkatan Darat AS, Isaac L. Taylor yang juga Direktur Urusan apublik untuk Pasukan AS di Korea mengatakan, latihan perang ini akan membangun kesiapan tempur dan postur pertahanan gabungan.
"Pelatihan ini adalah contoh tambahan dari komitmen kuat kami untuk memastikan keamanan dan stabilitas di semenanjung Korea dan di seluruh Asia Timur Laut," tambah Taylor.
"Saat latihan reguler antara AS dan Korea Selatan itu dimulai, Korea Utara menembakkan dua rudal balistik jarak pendek (SRBM) ke arah Laut Timur pada hari Selasa," kata militer Seoul.
Kepala Staf Gabungan (JCS) mengatakan, pihaknya mendeteksi peluncuran dari daerah Jangyon di Provinsi Hwanghae Selatan antara pukul 07.41 dan 07.51, dan mereka terbang sekitar 620 kilometer.
Menurut JCS, otoritas intelijen Korea Selatan dan Amerika Serikat sedang melakukan analisis komprehensif tentang spesifikasi rudal tersebut.
"Kami mengutuk keras rangkaian peluncuran rudal balistik Korea Utara sebagai tindakan provokasi signifikan yang merusak perdamaian dan stabilitas tidak hanya di Semenanjung Korea, tetapi juga di komunitas internasional, dan itu pelanggaran yang jelas terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB," kata JCS dalam pesan teks yang dikirim ke wartawan.
JCS juga mendesak Korea Utara untuk segera menghentikan peluncuran semacam itu.
"Kami biasa melakukan latihan gabungan di bawah postur pertahanan gabungan yang kokoh. Militer kami akan melacak dan memantau pergerakan Korea Utara untuk melihat apakah ada kemungkinan provokasi tambahan," kata JCS lagi.
Ditambahkan, mereka juga akan mempertahankan postur kesiapan yang solid berdasarkan kemampuan untuk menanggapi "secara luar biasa" setiap provokasi Korea Utara. (*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Ronny Wicaksono |
Publisher | : Rizal Dani |