Peristiwa Internasional

Pemimpin Oposisi Israel: Bahaya Bila Benjamin Netanyahu Terus Jadi Kepala Negara

Kamis, 14 Desember 2023 - 14:11 | 29.76k
Benjamin Netanyahu saat mengunjungi fasilitas penahanan di Israel selatan tempat anggota Hamas yang ditahan di Jalur Gaza sedang diinterogasi oleh unit intelijen manusia 504 IDF, Rabu (13/12/ 2023) kemarin.(FOTO: TIMES of Israel)
Benjamin Netanyahu saat mengunjungi fasilitas penahanan di Israel selatan tempat anggota Hamas yang ditahan di Jalur Gaza sedang diinterogasi oleh unit intelijen manusia 504 IDF, Rabu (13/12/ 2023) kemarin.(FOTO: TIMES of Israel)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu 'diserang' dari dalam negerinya sendiri oleh pemimpin oposisi, Yair Lapid. Ia disebut terlalu berbahaya dan tidak bisa terus menjadi kepala negara Israel.

Yair Lapid adalah mantan Perdana Menteri Israel ke 14 yang pernah memerintah pada 1 Juli 2022 hingga 29 Desember 2022.

Dalam serangkaian tweet 'serangannya' yang ditulis di X, Yair Lapid mengatakan, tidak ada seorang pun yang berpikir Gaza harus diserahkan kepada Presiden Otoritas Palestina (PA) Mahmoud Abbas, meskipun ada saran dari AS bahwa Gaza pascaperang bisa diperintah oleh PA.

Lapid berpendapat bahwa diskusi tentang Abbas yang memerintah Gaza diciptakan oleh perdana menteri Israel sebagai cara untuk melawan ide yang tidak bisa dijalankan.

“Jawabannya adalah Netanyahu melakukan apa yang telah dia lakukan sepanjang hidupnya. Menghasut dan berbohong serta menghasilkan kebencian," tulis Lapid.

"Sekarang dia hanya melakukannya di tengah perang yang sengit, ketika tentara terbunuh setiap hari. Dia tidak belajar apa pun dari peristiwa 7 Oktober. Bencana tidak mengubah dirinya, dia tidak mampu mengakui kesalahannya. Orang ini tidak bisa terus menjadi kepala negara. Itu terlalu berbahaya," tambahnya.

Yair Lapid lahir 5 November 1963 adalah Menteri Luar Negeri Israel dan ketua Partai Yesh Atid. Sebelum masuk ke kancah politik tahun 2012, ia seorang jurnalis, penulis, presenter TV, dan pembaca berita.

Partai Yesh Atid yang didirikannya menjadi partai terbesar kedua di Knesset dengan perolehan 19 kursi pada pemilu legislatif pertama tahun 2013. Hasil yang melampaui perkiraan ini menjadikan Lapid dipandang sebagai tokoh moderat terdepan.

Pengeboman yang dilakukan  Israel terus berlanjut di Gaza tengah dan selatan, serta di kamp pengungsi Jabalia di Gaza dan telah menyebabkan 196 warga Palestina meninggal dunia.

Bukan hanya itu, kebrutalan tentara Israel juga ditunjukkan saat mereka membunuh 10 warga sipil di sebuah sekolahan tempat warga Palestina berlindung.

Dengan senjata otomatisnya, tentara Israel menembaki langsung kepada warga sipil Palestina. Mayatnya kemudian ditumpuk begitu saja di dalam ruang sekolahan Shadia Abu Ghazala di Gaza utara.Israel juga telah memperluas operasi militernya di kota Jenin di Tepi Barat yang diduduki.

Popularitas Benjamin Netanyahu Anjlok

Sementara itu Benjamin Netanyahu sendiri memanfaatkan Perang di Gaza itu untuk melanggengkan kekuasaannya di Israel. Pada saat tentaranya berperang bertaruh nyawa, ia justru berkampanye untuk Pemilu tahun 2024.

Benjamin Netanyahu berusaha menyelamatkan citranya yang sedang merosot. Ia kemudian sempat dikritik media Haaretz karena perang itu dijadikan sebagai kesempatan untuk meluncurkan kampanye agar dia bisa terpilihnya kembali di Pemilu yang akan datang.

Surat kabar Haaretz tersebut melaporkan bahwa popularitas Benjamin Netanyahu telah merosot secara signifikan di tengah konflik dengan Hamas di Gaza.

Netanyahu berambisi dengan mengeksploitasi keterkejutan dan kemarahan warga Israel menyusul serangan 7 Oktober yang dilakukan Hamas itu untuk keperluan pemilunya.

Masih belum ada tanggal pasti untuk pemilihan parlemen di Israel, namun surat kabar tersebut memperkirakan pemilu tersebut akan terjadi pada pertengahan tahun 2024.

Surat kabar tersebut menilai Netanyahu sudah memulai kampanye pemilunya pada 12 Desember, kemarin meski negaranya sedang dalam keadaan perang.

Surat kabar tersebut mengandalkan pernyataan Perdana Menteri Israel mengenai perselisihannya dengan Presiden AS Joe Biden mengenai Gaza, sebagai awal dari kampanye pemilu di Israel.

Dia menambahkan bahwa Netanyahu mengabaikan dukungan internasional yang dimiliki Israel dalam perangnya di Gaza (terutama dari Amerika Serikat), dalam “upaya putus asa untuk mempertahankan posisinya dengan menciptakan perselisihan dengan Biden.

Dia menyatakan bahwa ini adalah ketiga kalinya Netanyahu mengeksploitasi perselisihan dengan presiden Amerika untuk keuntungan pribadinya di Israel. Dia mengatakan dia pernah melakukan hal serupa di masa lalu ketika Presiden Bill Clinton pada tahun 1990-an dan Barack Obama sekitar satu dekade lalu.

10 Tentara Israel Tewas Seketika

Sementara itu 10 tentara Pasukan Pertahanan Israel, termasuk dua komandan senior dan beberapa perwira, tewas saat menghadapi pertempuran sengit dengan Hamas di Gaza, Rabu (13/12/2023).

Kematian 10 tentara Israel ini merupakan insiden serangan darat paling mematikan sejauh ini, yang menjadikan jumlah tentara Israel yang tewas mencapai 115 orang. Sembilan tentara tewas dalam pertempuran di jantung Shejaiya, salah satu pertempuran paling mematikan sejak pasukan masuk ke Jalur Gaza.

Militer Israel menyebutkan nama mereka yang tewas dalam pertempuran di Shejaiya itu adalah:

  1. Kolonel Itzhak Ben Basat, 44, kepala tim komando depan Brigade Golani, dari Sde Ya’akov
  2. Letkol Tomer Grinberg, 35, komandan Batalyon 13 Brigade Golani, dari Almog
  3. Mayor Roei Meldasi, 23, komandan kompi di Batalyon 13, dari Afula
  4. Mayor Moshe Avram Bar On, 23, seorang komandan kompi di Batalyon 51 Brigade Golani, dari Ra’anana
  5. Kapten. Liel Hayo, 22, seorang komandan peleton di Batalyon 51, dari Shoham
  6. Sersan Achia Daskal, 19, seorang prajurit di Batalyon 51, dari Haifa
  7. Sersan. Eran Aloni, 19, dari Batalyon 51, dari Ofakim
  8. Mayor Ben Shelly, 26, seorang komandan pasukan di Unit 669 Angkatan Udara Israel, dari Kidron
  9. Sersan. Kelas Satu Rom Hecht, 20, dari Unit 669, dari Givatayim.

Ben Basat adalah perwira IDF paling senior yang tewas dalam serangan darat melawan Hamas ini. Sersan Staf. Oriya Yaakov, 19, dari Batalyon 614 Korps Teknik Tempur, dari Ashkelon juga tewas dalam insiden terpisah di Gaza utara.

Pihak militer Israel menambahkan, tiga tentara lainnya terluka parah

Tak Peduli Kata Dunia

Tak peduli kata dunia, para pemimpin Israel tetap  menyatakan perang akan terus dilanjutkan sampai Hamas dikalahkan, 'dengan atau tanpa' persetujuan dunia  "Tidak ada yang bisa menghentikan' operasi di Gaza," kata  Netanyahu

Menlu Israel, Eli Cohen mengatakan, gencatan senjata yang dilakukan Menteri Australia akan menjadi hadiah bagi Hamas, meski AS juga menyambut baik upaya kemanusiaan baru-baru ini.

Kedua pejabat Israel itu jug bersumpah bahwa serangan militer terhadap kelompok Hamas akan terus berlanjut sampai akhir, dan Israel tidak akan menyerah walau ada tekanan internasional untuk melakukan gencatan senjata.

Benjamin Netanyahu menyampaikan pernyataannya itu saat berkunjung ke fasilitas penahanan di Israel selatan di mana orang-orang bersenjata Hamas yang ditangkap di Jalur Gaza sedang diinterogasi oleh unit intelijen manusia 504 Angkatan Pertahanan Israel. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES