Peristiwa Internasional

Presiden AS Joe Biden : Israel Berlebihan di Gaza

Sabtu, 10 Februari 2024 - 10:09 | 18.79k
Tentara Israel saat beroperasi di Jalur Gaza 9 Februari 2024. Mereka merlebihan menghancurkan apa saja. Bukan hanya manusia, gedungpun diratakan. (FOTO: The Jerusalem Post)
Tentara Israel saat beroperasi di Jalur Gaza 9 Februari 2024. Mereka merlebihan menghancurkan apa saja. Bukan hanya manusia, gedungpun diratakan. (FOTO: The Jerusalem Post)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Presiden AS, Joe Biden mengeluarkan kritikan tajam dengan menyebut bahwa tanggapan militer Israel terhadap Hamas di Gaza  "berlebihan".

Namun, meskipun Joe Biden menyatakan militer Israel bertindak berlebihan,  kelompok hak-hak sipil AS, diantaranya Council on American-Islamic Relations (CAIR) menilai, retorika itu tidak diimbangi dengan pernyataan yang benar.

"Meskipun retorika pemerintahan Biden mengenai Gaza secara bertahap melunak selama beberapa hari terakhir, tindakannya tidak berubah," kata kelompok tersebut dalam sebuah postingan di media sosial.

"Pemerintahan Joe Biden bukanlah orang-orang yang tidak berdaya dalam menyaksikan genosida di Gaza. Hal ini memungkinkan terjadinya kekerasan, dan presiden semestinya bisa menghentikannya melalui panggilan telepon jika dia mau," kata mereka.

Pernyataan militer Israel bertindak berlebihan itu adalah salah satu kritik paling tajam dari Joe Biden selama ini terhadap pemerintahan Benjamin Netanyahu, sekutu dekatnya  itu.

Pernyataan Joe Biden itu disampaikan pada akhir konferensi pers Kamis malam yang berapi-api, dan memberikan pandangan baru mengenai konflik yang telah berlangsung selama empat bulan ini, yang telah menguji diplomasi Amerika dan mengungkap perpecahan dalam koalisi Partai Demokrat.

"Saya berpandangan, seperti yang anda ketahui, tindakan respons di Jalur Gaza sudah berlebihan," tegas Joe Biden.

"Ada banyak orang tidak bersalah menjadi kelaparan, banyak orang tidak bersalah mengalami kesulitan dan sekarat, dan ini harus dihentikan," tambah Joe Biden.

Komentarnya muncul setelah mantan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton meminta Netanyahu untuk mundur, dengan mengatakan bahwa dia "bukan pemimpin yang dapat dipercaya".

Meski demikian Joe Biden optimis bahwa kesepakatan yang saat ini sedang ditengahi, yang memadukan pembebasan sandera dengan jeda berkepanjangan dalam pertempuran, pada akhirnya akan bisa membawa perubahan yang lebih berkelanjutan dalam perang tersebut.

Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas mengatakan lebih dari 27.800 warga Palestina telah dibunuh tentara Israel sejak serangan  7 Oktober 2023.

"Saya berusaha sangat keras saat ini untuk menangani gencatan senjata penyanderaan ini," tambah Joe Biden.

Israel mengatakan 136 sandera masih ditahan oleh Hamas di Gaza.

Penilaian Presiden AS, Joe Biden terhadap tindskan militer Israel sebagai sesuatu yang berlebihan menandai tahap baru dalam sikap publiknya  terhadap perang tersebut.

Selama berbulan-bulan sejak 7 Oktober, Joe Biden mendukung Israel dan dengan gigih membela hak Israel untuk menyerang Hamas. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES